تناول المفطرات ليلا لا يفسد الصيام
Mengonsumsi Pembatal Puasa di Malam Hari Tidak Merusak Puasa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Mengonsumsi Pembatal Puasa di Malam Hari Tidak Merusak Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
شاب في ليلة من ليالي رمضان كاد أن يقع في كبيرة الزنى أحاطت به المغريات حاول الابتعاد ولكن النفس الامارة بالسوء حاصرته ولتفادي هذه الجريمة استمني بيده ولم يزن وبعدها ندم على فعلته وتاب ما حكم صيامه؟ علماً بأن ذلك حدث ليلاً هل صيامه صحيح؟ وهو الآن في صراع نفسي. أفيدونا جزاكم الله خيراً.
Seorang pemuda pada suatu malam di bulan Ramadhan hampir saja terjerumus ke dalam dosa besar zina. Berbagai godaan mengepungnya, ia mencoba menjauh, namun nafsu ammarah bis-su’ (jiwa yang memerintahkan keburukan) mengurungnya. Untuk menghindari kejahatan (zina) ini, ia melakukan istimna (masturbasi) dengan tangannya dan tidak melakukan zina. Setelah itu, ia menyesali perbuatannya dan bertaubat. Apa hukum puasanya? Mengingat hal itu terjadi pada malam hari, apakah puasanya sah? Saat ini ia sedang dalam pergolakan batin. Berikanlah penjelasan kepada kami, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن الاستمناء باليد حرام، ويمكنك أن تتعرف على طرق علاجه، وأقوال العلماء فيه في الفتوى الأخرى هنا
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Sesungguhnya istimna (masturbasi) dengan tangan adalah haram, dan Anda dapat mempelajari cara pengobatannya serta pendapat para ulama mengenainya dalam fatwa lain disini :
وأما صيامك فهو صحيح إن شاء الله، لأن تناول المفطرات مفسد للصيام في نهار رمضان لا في ليله، لقول الله تعالى:
Adapun puasa Anda, maka ia sah insya Allah, karena mengonsumsi hal-hal yang membatalkan puasa itu merusak puasa di siang hari Ramadhan, bukan di malam harinya, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ [البقرة:١٨٧]
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu, maka Dia menerima taubatmu dan memaafkanmu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” [Al-Baqarah: 187]
لكن المعصية تعظم حسب الزمان والمكان، كما أن الطاعة تتضاعف كذلك حسب المكان والزمان. والله أعلم.
Akan tetapi, kemaksiatan itu menjadi lebih besar (dosanya) tergantung pada waktu dan tempatnya, sebagaimana ketaatan juga dilipatgandakan pahalanya tergantung pada tempat dan waktunya. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply