تتأكد حرمة العادة السرية وتشتد في رمضان
Keharaman Masturbasi Semakin Kuat dan Berat di Bulan Ramadhan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Keharaman Masturbasi Semakin Kuat dan Berat di Bulan Ramadhan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم من عمل العادة السرية في نهار رمضان ظناً منه أنها غير مفطرة؟
Apa hukum orang yang melakukan masturbasi di siang hari Ramadhan karena menyangka bahwa hal itu tidak membatalkan puasa?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فالعادة السرية محرمة شرعاً، وقد سبق بيان حكمها في الفتوى الأخرى هنا.
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Masturbasi (al-adah as-sirriyah) diharamkan secara syariat, dan penjelasan mengenai hukumnya telah dipaparkan sebelumnya dalam fatwa lain disini :
وإن الطباع السليمة تنفر منها، والفطر المستقيمة تأبى الإقبال عليها، ويكفي في بيان قبحها أن فاعلها لا يرضى الجهر بها أمام الناس، والمرء إذا أبى أن يظهر شيئاً كان ذلك دليلاً على قبحه، ولذلك سميت سرية هذا فضلاً عن ضررها بالبدن والنفس، فإذا كانت هذه العادة محرمة على الدوام، فحرمتها تتأكد وتشتد في شهر رمضان، حيث إن فاعلها يخرق حرمة الشهر، ويسعى لإفساد الصوم، وهذا من المبارزة لله تعالى بمخالفة شرعه، والتخلي عن أمره.
Sesungguhnya watak yang sehat akan menjauh darinya, dan fitrah yang lurus akan enggan melakukannya. Cukuplah dalam menjelaskan keburukannya bahwa pelakunya tidak rela melakukannya secara terang-terangan di depan orang lain. Seseorang jika enggan menampakkan sesuatu, maka hal itu merupakan dalil atas keburukannya, karena itulah ia dinamakan “sirriyah” (rahasia). Hal ini belum termasuk dampak buruknya bagi fisik dan jiwa. Jika kebiasaan ini sudah diharamkan secara terus-menerus, maka keharamannya semakin kuat dan berat di bulan Ramadhan, karena pelakunya telah melanggar kehormatan bulan tersebut dan berusaha merusak puasa. Ini termasuk bentuk menantang Allah Ta’ala dengan menyelisihi syariat-Nya dan meninggalkan perintah-Nya.
والظاهر من حال السائل أنه فعل العادة السرية جهلاً منه بأنها مفطرة، مع علمه بأصل حرمتها، والعلم بحرمتها يوجب على فاعلها الإثم والقضاء، وإن كان جاهلاً بما يترتب عليها، هذا إذا كان فاعلها قريب عهد بالإسلام، أو نشأ ببادية بعيدة، بحيث يخفى على مثله هذا الحكم، أما إذا كان في مجتمع مسلم، ومرت عليه مدة يستطيع فيها التعلم، فلا فرق في وجوب القضاء ولحوق الإثم بين علمه أو عدم علمه، لأنه مقصر في تعلم ما يجب عليه وما يحرم.
Nampaknya dari kondisi penanya bahwa ia melakukan masturbasi karena ketidaktahuannya bahwa hal itu membatalkan puasa, meskipun ia mengetahui asal keharamannya. Pengetahuan akan keharamannya mewajibkan pelakunya menanggung dosa dan wajib mengqadha, meskipun ia tidak tahu konsekuensi yang timbul darinya. Hal ini berlaku jika pelakunya adalah orang yang baru masuk Islam atau tumbuh di pedalaman terpencil sehingga hukum seperti ini samar baginya. Namun, jika ia berada di tengah masyarakat Muslim dan telah melewati waktu yang cukup baginya untuk belajar, maka tidak ada perbedaan dalam kewajiban qadha dan adanya dosa, baik ia tahu (bahwa itu membatalkan) maupun tidak tahu, karena ia telah lalai dalam mempelajari apa yang diwajibkan dan apa yang diharamkan baginya.
فالواجب إذن على السائل أن يتوب إلى الله تعالى مما فعل لحرمته، كما يجب عليه قضاء الأيام التي مارس فيها العادة السرية، لأن الاستمناء من المفطرات المتفق عليها بين الفقهاء. والله أعلم.
Oleh karena itu, wajib bagi penanya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala atas apa yang telah dilakukannya karena keharamannya. Ia juga wajib mengqadha hari-hari di mana ia melakukan masturbasi tersebut, karena istimna (masturbasi) termasuk pembatal puasa yang telah disepakati di antara para ahli fikih (fukaha). Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply