بيع المحرمات للكفار .. نظرة شرعية
Menjual Barang Haram kepada Orang Kafir: Tinjauan Syariat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Menjual Barang Haram kepada Orang Kafir: Tinjauan Syariat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم بيع المحرمات لمن يستحلها، كالكفار؟ وهل يؤثر في الحكم القول: إن الكفار ليسوا مخاطبين بفروع الشريعة،
Apa hukum menjual perkara-perkara haram kepada orang yang menganggapnya halal, seperti orang kafir? Apakah pendapat yang menyatakan bahwa orang kafir tidak terkena khitab (perintah) cabang syariat (furu’ asy-syari’ah) berpengaruh terhadap hukum tersebut?
فقد جرى بيني وبين أحدهم نقاش، فاستدل عليّ بقول المصطفى عليه الصلاة والسلام: “إن الله إذا حرّم شيئًا، حرّم ثمنه”،
Telah terjadi diskusi antara saya dengan seseorang, ia berdalil kepada saya dengan sabda al-Musthafa ‘alaihi as-shalatu was-salam: “Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu, maka Ia mengharamkan harganya.”
فذكرت له أنه بافتراض أن الكفار ليسوا مخاطبين بفروع الشريعة، لا يكون الله حرّم تلك المحرمات عليهم، وإنما هي حلّ لهم؛ وعليه فتنتفي حجية الحديث، وأشباهه في هذا الباب. آمل إجابة طالب علم، لا إجابة مستفتٍ، فالحاجة إليها ماسّة في مجتمعات الغرب -جزاكم الله كل خير-.
Maka saya katakan kepadanya bahwa dengan asumsi orang kafir tidak terkena khitab cabang syariat, maka Allah tidak mengharamkan perkara-perkara haram tersebut atas mereka, melainkan hal itu halal bagi mereka; sehingga dengan demikian gugurlah kehujahan hadis tersebut dan yang serupa dengannya dalam bab ini. Saya mengharapkan jawaban untuk penuntut ilmu, bukan jawaban untuk peminta fatwa biasa, karena kebutuhan akan hal ini sangat mendesak di masyarakat Barat —semoga Allah membalas Anda dengan segala kebaikan—.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فالراجح أن الكفار مخاطبون بفروع الشريعة، وهذا قول جمهور العلماء، قال ابن النجار في شرح الكوكب المنير:
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Pendapat yang kuat adalah bahwa orang kafir terkena khitab cabang syariat (mukhatabun bi furu’ asy-syari’ah), dan ini adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur). Ibnu al-Najjar berkata dalam Syarah al-Kawkab al-Munir:
“والكفار مخاطبون بالفروع -أي: بفروع الإسلام-، كالصلاة، والزكاة، والصوم، ونحوها، عند الإمام أحمد، والشافعي، والأشعرية، وأبي بكر الرازي، والكرخي، وظاهر مذهب مالك، فيما حكاه القاضي عبد الوهاب، وأبو الوليد الباجي؛ وذلك لورود الآيات الشاملة لهم، مثل قوله تعالى: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا”، وقوله تعالى: “يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ”، وقوله عز وجل: “وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ”، وقوله تعالى: “كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ”، وقوله تعالى: “وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ”، وقوله عز وجل: “يَا بَنِي آدَمَ”، وقوله أيضًا: “يَا أُولِي الْأَبْصَارِ”.” اهـ.
“Orang kafir terkena khitab cabang —yakni cabang-cabang Islam— seperti salat, zakat, puasa, dan semisalnya, menurut Imam Ahmad, asy-Syafi’i, al-Asy’ariyah, Abu Bakar al-Razi, al-Karkhi, dan zahir madzhab Malik sebagaimana dikisahkan oleh al-Qadhi Abdul Wahhab dan Abu al-Walid al-Baji. Hal itu dikarenakan adanya ayat-ayat yang mencakup mereka, seperti firman Allah Ta’ala: ‘Wahai manusia sembahlah…’, firman-Nya: ‘Wahai hamba-Ku maka bertakwalah kepada-Ku’, firman-Nya: ‘Dan dirikanlah salat serta tunaikanlah zakat’, firman-Nya: ‘Diwajibkan atas kalian berpuasa’, firman-Nya: ‘Dan bagi Allah atas manusia kewajiban haji ke Baitullah’, firman-Nya: ‘Wahai anak Adam’, serta firman-Nya: ‘Wahai orang-orang yang memiliki penglihatan’.” (Selesai).
والمقصود بخطابه بها، أنه يعاقب عليها في الآخرة، لا أنه يُطالب بفعلها في الدنيا، قال زكريا الأنصاري في أسنى المطالب: “فالكافر الأصلي مخاطب بها خطاب عقاب عليها في الآخرة؛ لتمكنه من فعلها بالإسلام، لا خطاب مطالبة بها في الدنيا؛ لعدم صحتها منه.” اهـ.
Adapun yang dimaksud dengan mereka terkena khitab adalah bahwa mereka akan disiksa karenanya di akhirat, bukan berarti mereka dituntut untuk melakukannya di dunia (saat masih kafir). Zakariya al-Anshari berkata dalam Asna al-Mathalib: “Kafir asli terkena khitab dalam bentuk khitab hukuman atasnya di akhirat; karena ia memungkinkan untuk melakukannya dengan masuk Islam, bukan khitab tuntutan melakukannya di dunia; karena tidak sah amalan tersebut darinya.” (Selesai).
وقال في شرح الكوكب المنير: “والفائدة، أي: فائدة القول بأنهم مخاطبون بفروع الإسلام، كثرة عقابهم في الآخرة، لا المطالبة بفعل الفروع في الدنيا، ولا قضاء ما فات منها.” اهـ.
Disebutkan dalam Syarah al-Kawkab al-Munir: “Faidahnya —yakni faidah pendapat yang menyatakan mereka terkena khitab cabang Islam— adalah bertambahnya siksaan bagi mereka di akhirat, bukan tuntutan melakukan cabang tersebut di dunia, dan bukan pula mengqadha apa yang terlewat darinya.” (Selesai).
ونقل ابن النجار عن النووي قوله: “ومرادهم في كتب الأصول: أنهم يعذبون عليها في الآخرة، زيادة على عذاب الكفر، فيعذبون عليها، وعلى الكفر جميعًا، لا على الكفر وحده.” اهـ.
Ibnu al-Najjar menukil perkataan an-Nawawi: “Maksud mereka dalam kitab-kitab usul adalah: bahwa mereka disiksa atas hal tersebut di akhirat sebagai tambahan atas siksaan kekafiran. Maka mereka disiksa atas amalan tersebut dan atas kekafiran seluruhnya, bukan atas kekafiran saja.” (Selesai).
ومما استدل به جمهور العلماء على ما ذهبوا إليه:
Di antara dalil yang digunakan mayoritas ulama atas pendapat mereka adalah:
– قول الله تعالى: (الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَاباً فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ) [النحل:٨٨]، قال ابن النجار: “أي: فوق عذاب الكفر، وذلك إنما هو على بقية عبادات الشرع.” اهـ.
– Firman Allah Ta’ala : “Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” [An-Nahl: 88]. Ibnu al-Najjar berkata: “Yakni di atas siksaan kekafiran, dan hal itu hanyalah atas sisa ibadah-ibadah syariat lainnya.” (Selesai).
– قوله تعالى: (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا) [آل عمران:٩٧].
– Firman Allah Ta’ala: “Dan bagi Allah atas manusia kewajiban haji ke Baitullah bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana.” [Ali Imran: 97].
وجه الدلالة أن لفظ: (الناس) اسم جنس، معرف بأل الاستغراقية، فيشمل جميع الناس، والكفار من جملة الناس، ولا يوجد مانع عقلي من دخول الكفار في هذا الخطاب، والمانع العقلي هنا هو فقد التحكم من الفعل، والكافر يمكنه أن يحجّ؛ بأن يقدم قبله الإيمان، كما أن المسلم المحدث يوصف بالتمكن من الصلاة؛ بأن يقدِّم عليها الطهارة، ولا يوجد مانع شرعي كذلك؛ لأنه لو وجد لعرفناه.
Sisi pendalilannya adalah bahwa lafaz “An-Nas” (manusia) adalah isim jenis yang dibarengi “alif-lam istighraqiyah” (yang mencakup seluruh anggota jenisnya), sehingga mencakup seluruh manusia, dan orang kafir termasuk bagian dari manusia. Tidak ada penghalang akal bagi masuknya orang kafir ke dalam khitab ini. Penghalang akal di sini adalah ketidakmampuan melakukan perbuatan, padahal orang kafir bisa berhaji dengan cara mendahulukan iman sebelumnya. Sebagaimana seorang Muslim yang berhadats disifati mampu melaksanakan salat dengan cara mendahulukan bersuci sebelumnya. Tidak ada pula penghalang syariat, karena jika ada pasti kita sudah mengetahuinya.
– قوله تعالى عن أهل النار: (مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ * قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ * وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ * وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ * وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ) [المدثر:٤٢-٤٦]،
– Firman Allah Ta’ala mengenai penduduk neraka: “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, bahkan kami biasa berbicara batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan’.” [Al-Muddatstsir: 42-46].
وجه الدلالة: أن الله تعالى أخبر عنهم أنهم إنما عاقبهم يوم القيامة، وسئلوا عما عاقبهم لأجله، فاعترفوا بأنهم عوقبوا على ترك إقامة الصلاة، وإطعام الطعام، فدل على أن الخطاب متوجه إليهم بالعبادات.
Sisi pendalilannya: Bahwa Allah Ta’ala mengabarkan tentang mereka bahwa Ia menyiksa mereka pada hari kiamat, dan ketika mereka ditanya tentang alasan penyiksaan tersebut, mereka mengakui bahwa mereka disiksa karena meninggalkan salat dan tidak memberi makan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa khitab ibadah ditujukan kepada mereka.
– قوله تعالى: (وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ* الَّذِينَ لا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ) [فصلت:٦-٧].
– Firman Allah Ta’ala: “Dan celakalah bagi orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” [Fushshilat: 6-7].
وجه الدلالة: أن الله تعالى توعد المشركين على شركهم، وعلى ترك إيتاء الزكاة، فدل ذلك على أنهم مخاطبون بالاثنين معًا؛ لأنه لا يتوعد على ترك ما لا يجب على الإنسان.
Sisi pendalilannya: Bahwa Allah Ta’ala mengancam orang-orang musyrik atas kesyirikan mereka dan atas perbuatan meninggalkan zakat. Ini menunjukkan bahwa mereka terkena khitab atas keduanya sekaligus; karena ancaman tidak diberikan atas perbuatan meninggalkan sesuatu yang tidak diwajibkan bagi manusia.
– قوله تعالى: (فَلا صَدَّقَ وَلا صَلَّى * وَلَكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى) [القيامة:٣١-٣٢]،
– Firman Allah Ta’ala: “Maka ia tidak membenarkan (Rasul dan Al-Qur’an) dan tidak melaksanakan salat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran).” [Al-Qiyamah: 31-32].
وجه الدلالة: أن الله تعالى ذم -هنا- الكفار لتركهم الصلاة، وهي من فروع الشريعة؛ مما يدل على أن الكفار مكلفون بالفروع.
Sisi pendalilannya: Bahwa Allah Ta’ala di sini mencela orang-orang kafir karena meninggalkan salat, padahal salat adalah bagian dari cabang syariat; hal ini menunjukkan bahwa orang kafir dibebani kewajiban (mukallaf) atas cabang-cabang tersebut.
وغير ذلك من الأدلة على قوة مذهب الجمهور.
Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kuatnya madzhab jumhur.
مع العلم أن العلماء قد أجمعوا على خطاب الكفار بأصل الإيمان، والعقوبات -كالحدود، والقصاص-، والمعاملات -كالبيع، والشراء-، قال في التوضيح: ذكر الإمام السرخسي لا خلاف في أن الكفار يخاطبون بالإيمان، والعقوبات، والمعاملات، وبالعبادات في حق المؤاخذة في الآخرة؛ لقوله تعالى: مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ.
Perlu diketahui bahwa para ulama telah bersepakat (ijmak) atas khitab orang kafir dalam hal pokok keimanan, hukuman —seperti hudud dan qishash—, serta muamalah —seperti jual beli—. Disebutkan dalam At-Taudhih: “Imam al-Sarakhsi menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang kafir terkena khitab iman, hukuman, muamalah, serta ibadah dalam hal pertanggungjawaban di akhirat; berdasarkan firman-Nya: ‘Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam Saqar’.”
وقال التفتازاني في التلويح شرحًا لذلك: اعلم أن الكفار مخاطبون بالثلاثة: الأول مطلقًا إجماعًا، أما بالعبادات، فهم مخاطبون بها في حق المؤاخذة في الآخرة اتفاقًا أيضًا. اهـ. وقال ابن النجار في شرح الكوكب المنير: “كما أنهم مخاطبون بالإيمان، والإسلام إجماعًا؛ لإمكان تحصيل الشرط، وهو الإيمان.” اهـ. يقصد أن تحصيل الإيمان شرط لصحة العبادات منهم، فوجب عليهم.
At-Taftazani berkata dalam al-Talwih saat menjelaskan hal itu: “Ketahuilah bahwa orang kafir terkena khitab atas ketiganya: yang pertama (iman) secara mutlak menurut ijmak, adapun ibadah, mereka terkena khitab di dalamnya dalam hal pertanggungjawaban di akhirat menurut kesepakatan pula.” (Selesai). Ibnu al-Najjar berkata dalam Syarah al-Kawkab al-Munir: “Sebagaimana mereka terkena khitab iman dan Islam menurut ijmak; karena memungkinkan untuk mendapatkan syaratnya, yaitu iman.” (Selesai). Maksudnya adalah bahwa mendapatkan iman merupakan syarat sahnya ibadah dari mereka, maka hal itu wajib atas mereka.
والسبب في تكليف الكفار بالمعاملات: أن المعاملات قُصِد بها الحياة الدنيا، فالكفار بها أنسب؛ لأنهم آثروا الحياة الدنيا على الآخرة.
Sebab dibebankannya muamalah kepada orang kafir adalah: bahwa muamalah dimaksudkan untuk kehidupan dunia, maka orang kafir lebih sesuai dengannya karena mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat.
والسبب في تكليفهم بالعقوبات: أن العقوبات قصد بها الزجر عن ارتكاب أسبابها، والكفار أحق بالزجر، وأولى به من المؤمنين.
Sedangkan sebab dibebankannya hukuman kepada mereka adalah: bahwa hukuman dimaksudkan untuk mencegah (zajr) dari melakukan penyebab-penyebabnya, dan orang kafir lebih berhak dan lebih utama untuk dicegah daripada orang mukmin.
ومن هذا تعلم -أيها السائل الكريم-؛ أن الكفار مخاطبون بأحكام المعاملات، بإجماع العلماء، ولا مدخل للقول بعدم مخاطبتهم بفروع الشريعة في المسألة المذكورة. وبناءً على ذلك؛ فإنه لا يحل أن نبيع لهم، أو أن نشتري منهم شيئًا حرّمه الله في شريعة الإسلام الخاتمة، وراجع في هذا الفتوى الأخرى هنا
Dari sini Anda mengetahui —wahai penanya yang mulia— bahwa orang kafir terkena khitab hukum-hukum muamalah berdasarkan ijmak ulama, dan tidak ada celah untuk berpendapat bahwa mereka tidak terkena khitab cabang syariat dalam masalah yang disebutkan tersebut. Berdasarkan hal itu, maka tidak halal bagi kita untuk menjual kepada mereka, atau membeli dari mereka sesuatu yang telah diharamkan Allah dalam syariat Islam yang terakhir ini. Silakan rujuk kembali fatwa lain disini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply