اختلاف المطالع له اعتباره
Perbedaan Tempat Terbit Hilal (Mathla’) Memiliki Pertimbangan Syariat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perbedaan Tempat Terbit Hilal (Mathla’) Memiliki Pertimbangan Syariat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
بعد اجتماع الدول الإسلامية بالمملكة العربية السعودية والاتفاق على توحيد بداية وانتهاء شهر رمضان على جميع الدول، لماذا لم يتم التوحيد؟ وما موقف المسلمين في الدول التي خالفت هذا الإجماع من الناحية الشرعية؟
Setelah pertemuan negara-negara Islam di Kerajaan Arab Saudi dan kesepakatan untuk menyatukan awal dan akhir bulan Ramadan di semua negara, mengapa penyatuan tersebut belum terlaksana? Dan bagaimana posisi kaum Muslimin di negara-negara yang menyelisihi konsensus ini dari sisi syariat?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فعليك أن تعلم أن البلاد الإسلامية لم يحصل أن اتفقت على رؤية واحدة فيما يخص شهر رمضان المبارك.
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Perlu Anda ketahui bahwa negara-negara Islam belum pernah mencapai kesepakatan untuk satu rukyah saja terkait bulan Ramadan yang diberkahi.
وذلك أن الذي عليه المحققون من أهل العلم أن الاختلاف في المطالع معتبر، ومن المعلوم أن بين المطالع تفاوتا ملحوظا، ومما يشهد لهذا الاعتبار ما رواه مسلم في صحيحه من حديث كريب مولى ابن عباس أن أم الفضل بنت الحارث بعثته في حاجة إلى معاوية بالشام، قال:
Hal itu dikarenakan pendapat yang dipegang oleh para ulama peneliti adalah bahwa perbedaan tempat terbit hilal (mathla’) itu dianggap (berlaku), dan telah diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata di antara tempat-tempat terbit tersebut. Di antara yang menjadi bukti atas pertimbangan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadis Kuraib, maula Ibnu Abbas, bahwa Ummul Fadhl binti al-Harits mengutusnya untuk suatu keperluan kepada Muawiyah di Syam. Kuraib berkata:
“فقدمت الشام فقضيت حاجتها واستهل علي رمضان وأنا بالشام، فرأيت الهلال ليلة الجمعة، ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فسألني عبد الله بن عباس ثم ذكر الهلال فقال متى رأيتم الهلال؟ فقلت رأيناه ليلة الجمعة. فقال: أنت رأيته؟ فقلت: نعم ورآه الناس وصاموا وصام معاوية فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه، فقلت فلا تكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ فقال: لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم”
“Lalu aku tiba di Syam dan menyelesaikan keperluannya. Hilal Ramadan muncul saat aku masih di Syam, dan aku melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan, lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku, kemudian ia menyebutkan tentang hilal seraya bertanya: ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab: ‘Kami melihatnya pada malam Jumat.’ Ia bertanya lagi: ‘Apakah engkau sendiri yang melihatnya?’ Aku menjawab: ‘Ya, dan orang-orang pun melihatnya serta berpuasa, begitu pula Muawiyah berpuasa.’ Maka Ibnu Abbas berkata: ‘Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami akan terus berpuasa sampai kami menggenapkan tiga puluh hari atau kami melihat hilal (Syawal).’ Aku bertanya: ‘Apakah engkau tidak cukup dengan rukyah Muawiyah dan puasanya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami’.”
Dan sisi pendalilan dari hadis ini jelas dalam poin-poin berikut:
١) أن المسلمين في ذلك الوقت دولة واحدة ومعاوية خليفتهم، وابن عباس ممن يقرون ذلك، فلو لم يكن اختلاف المطالع معتبرا لما وسعهم خلافه.
1) Bahwa kaum Muslimin pada saat itu berada dalam satu negara dan Muawiyah adalah khalifah mereka, sedangkan Ibnu Abbas termasuk orang yang mengakui hal tersebut. Seandainya perbedaan mathla’ tidak dianggap, niscaya tidak ada kelapangan bagi mereka untuk menyelisihinya.
٢) أن كريبا أخبر ابن عباس بأنه هو رأى الشهر ورأه الناس معه فصام وصاموا، وكريب تابعي جليل من أفضل من روى عن ابن عباس وغيره من الصحابة، وقد خرجت له أحاديث كثيرة في البخاري ومسلم وغيرهما.
2) Bahwa Kuraib mengabarkan kepada Ibnu Abbas bahwa ia sendiri melihat hilal dan orang-orang pun melihatnya bersamanya, lalu ia dan mereka berpuasa. Kuraib adalah seorang Tabi’in yang mulia, termasuk perawi terbaik yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sahabat lainnya, serta banyak hadisnya yang dikeluarkan dalam Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya.
٣) أن ابن عباس قال هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فنسب الأمر لرسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو عليم بمدلول اللفظ وبخطورة نسبة شيء إلى النبي صلى الله عليه وسلم لم يقل به نصا أو مضمونا.
3) Bahwa Ibnu Abbas berkata: “Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami,” maka ia menyandarkan perintah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal ia sangat mengetahui maksud lafaz tersebut dan bahayanya menyandarkan sesuatu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak beliau ucapkan baik secara nash maupun makna.
وأما اجتماع الناس على رؤية واحدة بالنسبة ليوم عرفة فلأنهم في مكان واحد يجب أن تكون فيه الرؤية موحدة فلا أثر للاختلاف بين بلدك ومكة في المطلع إذا كنت أنت موجوداً في مكة، فرؤيتك برؤيتهم وليست برؤية أهل بلدك وهذا واضح. والله تعالى أعلم.
Adapun berkumpulnya manusia dalam satu rukyah terkait hari Arafah, hal itu dikarenakan mereka berada di satu tempat yang rukyahnya wajib disatukan; maka tidak ada pengaruh perbedaan antara negaramu dan Mekkah dalam hal mathla’ jika Anda sendiri berada di Mekkah. Maka rukyah Anda mengikuti rukyah mereka (penduduk setempat), bukan rukyah penduduk negaramu, dan ini sudah jelas. Wallahu Ta’ala a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply