ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة
Jaulah Shahih Muslim :
Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits
الحمد لله الذي منَّ على عباده بكثير من العطايا والهبات، فلا زال – سبحانه – بمنِّه وكرمه يعطي عطاءه الذي لا ينفد عطاءً غير مَجْذُوذ، والصلاة والسلام على خير من فسَّر تلك العطايا وحثَّ عليها، محمد بن عبدالله – عليه أفضل صلاة وأتم تسليم.
Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan banyak pemberian dan hibah kepada hamba-hamba-Nya. Senantiasa Dia—Subhanahu wa Ta’ala—dengan karunia dan kemurahan-Nya memberikan pemberian-Nya yang tidak pernah habis, pemberian yang tiada putus. Selawat serta salam semoga tercurah kepada sebaik-baik orang yang menjelaskan pemberian-pemberian tersebut dan menganjurkannya, Muhammad bin Abdullah—semoga shalawat dan salam yang paling utama tercurah kepadanya.
وبعد:
Amma ba’du:
فيا أخي القارئ، حينما تقلِّب ناظريك في ربوع سُنة محمد صلى الله عليه وسلم تجد فيها كنوزًا وعطايا عظيمة، والنفسُ تشتهي، لكن لا ينال الخيرَ كلُّ مدَّعٍ؛ لأن المدَّعي لا بد له من بيِّنة،
Wahai saudaraku pembaca, ketika Anda memalingkan pandangan di taman-taman sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Anda akan menemukan harta karun dan pemberian yang agung. Jiwa memang menginginkannya, namun kebaikan itu tidak akan didapatkan oleh setiap orang yang hanya sekadar mengaku-ngaku; karena seorang pengaku haruslah memiliki bukti.
فمن ادَّعى محبته للسنة، وإرادته لنيل العطايا، لا بد له من بيِّنة الاتباع، ومن أكثر الأحاديث شهرةً في هذا المجال، وأعظمِها ثمرةً – كما ذكر ابن عبدالبر – حديثُ السبعة الذين يُظلُّهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظلُّه، انتقيتُه مما أطالعه وأنظر في شروحه أثناء شرح صحيح مسلم،
Barangsiapa yang mengaku mencintai sunnah dan ingin meraih pemberian-pemberian tersebut, maka ia harus memiliki bukti berupa “mutaba’ah” (pengikutan). Di antara hadits yang paling masyhur dalam bidang ini, dan yang paling besar buahnya—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr—adalah hadits tentang tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Saya memilihnya dari apa yang saya baca dan telaah dalam penjelasan-penjelasannya saat mensyarah Sahih Muslim.
فإليك الحديثَ – أخي المبارك – بما يسَّر الله لي فيه من توضيح وبيان، وإني أرجو الله – تعالى – أن يجعلني وإياك من أهل هذا الحديث، إنه جواد كريم.
Maka, inilah hadits tersebut—wahai saudaraku yang diberkahi—beserta penjelasan dan keterangan yang Allah mudahkan bagi saya. Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan saya dan Anda termasuk dalam golongan ahli hadits ini, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النبيِّ، قَالَ:
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (6) seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi lalu kedua matanya meneteskan air mata.”
وفي رواية البخاري: حتى لا تَعلمَ شِمالُهُ ما تُنفِقُ يمينُهُ
Dalam riwayat Bukhari: “…sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.”
وفي رواية لمسلم: وَرَجُلٌ مُعَلَّقٌ بِالمَسْجِدِ، إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَيْهِ
Dalam riwayat Muslim: “…dan seorang laki-laki yang terpaut dengan masjid, jika ia keluar darinya hingga ia kembali lagi ke sana.”
تخريج الحديث:
Takhrij hadits:
الحديث أخرجه مسلم في (كتاب الزكاة)، (باب فضل إخفاء الصدقة)، حديث (1031)، وأخرجه البخاري في (كتاب الأذان)، (باب من جلس في المسجد ينتظر الصلاة وفضل المساجد)، حديث (660)، وأخرجه الترمذي في (كتاب الزهد)، (باب ما جاء في الحب في الله)، حديث (2391).
hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam (Kitab Zakat), (Bab Keutamaan Menyembunyikan Sedekah), hadits nomor (1031). Diriwayatkan juga oleh Bukhari dalam (Kitab Azan), (Bab Orang yang Duduk di Masjid Menunggu Salat dan Keutamaan Masjid), hadits nomor (660). Serta diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam (Kitab Zuhud), (Bab Apa yang Datang Tentang Saling Mencintai karena Allah), hadits nomor (2391).
شرح ألفاظ الحديث:
Penjelasan Kosakata hadits:
سبعةٌ يظلهم الله – أي: سبعة أصناف، وليس سبعةَ أشخاص، وأيضًا حصرُهم بهذا العدد ليس مرادًا؛ بل ورد غير الأصناف الواردة في الحديث ممن يظلهم الله بظله، وسيأتي بيان ذلك – بإذن الله تعالى.
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah”: Yakni tujuh jenis/kategori, bukan tujuh orang. Pembatasan pada jumlah ini juga bukan berarti hanya mereka saja; bahkan terdapat jenis-jenis lain selain yang disebutkan dalam hadits ini yang termasuk golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya, dan penjelasannya akan datang—insya Allah Ta’ala.
يظلهم الله في ظله : الظل: فلان في ظل فلان، أو في ظل الملك؛ أي: في كرامته وحمايته، وأما الظل في الأحاديث، فإنه على ضربين، سيأتي بيانهما – بإذن الله تعالى –
“Allah menaungi mereka dalam naungan-Nya”: Makna naungan (Az-Zhill) dalam kalimat “Si A di bawah naungan si B” atau “di bawah naungan raja” adalah: berada dalam kemuliaan dan perlindungannya. Adapun makna “naungan” dalam hadits-hadits, ia terbagi menjadi dua jenis yang akan dijelaskan nanti—insya Allah Ta’ala.
وأما إضافة الظل لله – تعالى – في حديث الباب، فهي إضافة تشريف، كبيت الله، وناقة الله، وهو ظل يكون لمن منَّ الله عليهم من الأصناف الداخلة تحت هذا الفضل، فيقيهم من حَرِّ الشمس ووهجها، في يوم لا يملك أحدٌ الظلَّ إلا الله – جل في علاه –
Sedangkan penyandaran kata “naungan” kepada Allah Ta’ala dalam hadits ini adalah penyandaran untuk pemuliaan (idhafat tasyrif), seperti “Baitullah” (Rumah Allah) dan “Naqatullah” (Unta Allah). Ia adalah naungan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang Allah beri karunia dari golongan yang termasuk dalam keutamaan ini, sehingga Allah melindungi mereka dari panas matahari dan teriknya pada hari di mana tidak ada seorang pun yang memiliki naungan kecuali Allah Jalla fi ‘Ulah.
وهو ظل حقيقي لا معنوي كمن يقول: في ظله؛ أي: في حمايته وكنفه؛ بل هو حقيقي، وجاء في “سنن سعيد بن منصور” من حديث سلمان تقييدًا لهذا الظل الوارد في الحديث بظل العرش: ((يظلهم الله في ظل عرشه)).
Ini adalah naungan yang hakiki (nyata), bukan maknawi seperti yang dikatakan sebagian orang bahwa maknanya adalah: dalam perlindungan-Nya; melainkan ini bersifat hakiki. Dalam “Sunan Said bin Manshur” dari hadits Salman, terdapat pengikatan (taqyid) bagi naungan yang disebutkan dalam hadits ini sebagai Naungan Arsy: “Allah menaungi mereka dalam naungan Arsy-Nya.”
قال ابن حجر: إسناده حسن، وسيأتي بيان ذلك.
Ibnu Hajar berkata: “Sanadnya hasan,” dan penjelasannya akan datang.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply