Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (2)



ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة

Jaulah Shahih Muslim :

Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Kedua)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits

من فوائد الحديث:

Di Antara Faedah Hadis:

والكلام على هذا الحديث من عدة وجوه:

Pembahasan mengenai hadits ini terdiri dari beberapa sisi:

أولاً: أهمية هذا الحديث:

Pertama: Pentingnya Hadis Ini

لهذا الحديث أهميةٌ عظيمة، جعلت العلماءَ يفردونه بالتأليف والشرح والبيان؛ بل لو أفرد كل واحد من هؤلاء السبعة برسالة مستقلة، لكان حريًّا بذلك كما قال ابن عبدالبر – رحمه الله تعالى.

Hadis ini memiliki urgensi yang sangat besar, yang membuat para ulama menyusun karya khusus untuk mensyarah dan menjelaskannya. Bahkan, seandainya masing-masing dari tujuh golongan ini dibuatkan satu risalah mandiri, maka hal itu sangat layak, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr—rahimahullah Ta’ala.

وممن ألف في ذلك ابن حجر – رحمه الله – وأسماه: “معرفة الخصال الموصلة إلى الظلال”، وللسيوطي كتاب اسمه: “تمهيد الفرش في الخصال الموجبة لظل العرش”، حقَّقه الشيخ مشهور حسن، وللسخاوي “الاحتفال بجمع أولي الظلال”، الله – تعالى – لا يتعب في عمله إلا عاقلٌ، ولا يستغني عنه إلا جاهل”.

Di antara ulama yang menulis tentang hal ini adalah Ibnu Hajar—rahimahullah—dengan judul: “Ma’rifat al-Khisal al-Muwassilah ila al-Zhilal”. Al-Suyuti memiliki kitab berjudul: “Tamhid al-Frush fi al-Khisal al-Mujibah li-Zhill al-‘Arsy”, yang ditahqiq oleh Syekh Masyhur Hasan. Al-Sakhawi menulis “Al-Ihtifal bi Jam’i Uli al-Zhilal”.

وذكر شيخ الإسلام ابن تيمية في “مجموع الفتاوى” (23/144) مؤلفًا لم ينسبه لأحد، أو أنه سقطت نسبته، اسمه: “اللمعة في أوصاف السبعة”، 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmu’ al-Fatawa” (23/144) menyebutkan sebuah karya yang tidak beliau nisbatkan kepada siapa pun (atau penisbatannya terputus) berjudul: “Al-Lum’ah fi Awshaf al-Sab’ah”.

ولمحمد مصطفى ماء العينين ابن محمد فاضل كتاب، اسمه: “منيل البش فيمن يظلهم الله في ظل العرش”، وللدكتور سيد عفاني كتاب، اسمه: “ترطيب الأفواه بذكر من يظلهم الله”،

Muhammad Mushthafa Ma’ al-‘Ainain bin Muhammad Fadhil memiliki kitab berjudul: “Munil al-Basysyi fiman Yuzhilluhumullah fi Zhill al-‘Arsy”. Dr. Sayyid ‘Affani memiliki kitab berjudul: “Tarthib al-Afwah bi Dzikri man Yuzhilluhumullah”.

وهذه المصنفات من أشهر ما صنف، و هناك غيرها، وما ذاك إلا لأهمية هذا الحديث؛ ولذا يقول الآجري في كتابه “الأربعين حديثًا” بعد أن ذكر حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – في الباب، قال:

Karya-karya ini adalah yang paling masyhur, dan masih ada yang lainnya. Hal itu tidak lain karena pentingnya hadits ini. Oleh karena itu, Al-Ajurri dalam kitabnya “Al-Arba’in Haditsan” setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam bab ini, berkata :

“وقد رسمت جزءًا واحدًا في صفة واحد من هؤلاء وفقههم على الانفراد، من أراده وجده – إن شاء الله – فإنه حديث شريف يتأدب به جميع من يعبد الله – تعالى – لا يتعب في عمله إلا عاقلٌ، ولا يستغني عنه إلا جاهل”.

“Aku telah menyusun satu bagian khusus mengenai sifat masing-masing dari mereka dan fikih mereka secara terperinci. Barangsiapa yang menginginkannya, ia akan menemukannya—insya Allah. Sesungguhnya ini adalah hadits mulia yang menjadi adab bagi setiap orang yang menyembah Allah Ta’ala; tidak ada yang bersungguh-sungguh dalam mengamalkannya kecuali orang yang berakal, dan tidak ada yang merasa tidak butuh darinya kecuali orang yang bodoh.”

وقبل ذلك قال ابن عبدالبر (في “التمهيد” 2/282): “هذا أحسن حديث يروى في فضائل الأعمال، وأعمُّها وأصحُّها – إن شاء الله – وحسبك به فضلاً؛ لأن العلم محيط بأن من كان في ظل الله يوم القيامة، لم ينلْه هول الموقف”.

Sebelum itu, Ibnu Abdil Barr berkata (dalam “Al-Tamhid” 2/282): “Ini adalah hadits terbaik yang diriwayatkan mengenai keutamaan amal, yang paling mencakup, dan paling sahih—insya Allah. Cukuplah itu sebagai sebuah keutamaan; karena ilmu meyakini bahwa barangsiapa yang berada dalam naungan Allah pada hari kiamat, maka ia tidak akan ditimpa oleh kedahsyatan padang mahsyar.”

ثانيًا: هل العدد محصور بهؤلاء السبعة؟

Kedua: Apakah jumlahnya terbatas pada tujuh (golongan) ini saja?

حديث الباب فيه ذكر سبعة أصناف من الذين يظلهم الله – تعالى – بظله يوم لا ظل إلا ظله، واختلف: هل ذكر العدد سبعة في هذا الحديث له مفهوم، فيفيد الحصر، أو أنه لا مفهوم له؟

Hadis dalam bab ini menyebutkan tujuh golongan dari orang-orang yang dinaungi Allah Ta’ala dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Para ulama berselisih pendapat: Apakah penyebutan angka tujuh dalam hadits ini memiliki mafhum (makna tersirat) sehingga menunjukkan pembatasan, ataukah tidak memiliki mafhum?

القول الأول: إن العدد في حديث الباب لا مفهوم له، فلا ينحصر عددهم بهؤلاء السبعة؛ ولذا جمع العلماءُ من ورد فيه هذا الفضل أن يظله في ظله يوم لا ظل إلا ظله، حتى أوصلوا عددهم إلى السبعين، ولكن من هؤلاء السبعين من ورد بأحاديث ضعيفة، وما صحتْ به الروايات أقلُّ من هذا العدد بكثير، كما هو ظاهر كلام ابن حجر – رحمه الله.

Pendapat Pertama: Bahwa angka dalam hadits bab ini tidak memiliki mafhum, sehingga jumlah mereka tidak terbatas pada tujuh golongan ini saja. Oleh karena itu, para ulama menghimpun siapa saja yang disebutkan dalam riwayat-riwayat lain yang akan mendapatkan keutamaan dinaungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, hingga mereka (para ulama) mencukupkan jumlahnya sampai tujuh puluh golongan. Namun, di antara tujuh puluh golongan tersebut ada yang disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah, dan riwayat yang sahih jumlahnya jauh lebih sedikit dari angka tersebut, sebagaimana yang tampak dari perkataan Ibnu Hajar—rahimahullah.

والقول الثاني: إن العدد في الحديث له مفهوم، والفضل مقصور على هؤلاء السبعة، وأما غيرهم مما ذكر في الأحاديث الأخرى، فيندرج تحت صنف من هذه الأصناف السبعة.

Pendapat Kedua: Bahwa angka dalam hadits tersebut memiliki mafhum, dan keutamaan ini terbatas pada tujuh golongan ini saja. Adapun selain mereka yang disebutkan dalam hadits-hadits lain, maka mereka masuk ke dalam salah satu dari tujuh kategori ini.

والخلاف هنا لا يضر؛ فالقولان متقاربان في الجملة، وأهم شيء معرفة أن هناك ممن يظلهم الله – تعالى – يوم القيامة غيرَ هؤلاء السبعة في الحديث، ومن ذلك حديث أبي اليسر – رضي الله عنه – أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((من أنظر معسرًا أو وضع له، أظلَّه الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله))؛ رواه مسلم.

Perbedaan pendapat di sini tidaklah membahayakan, karena kedua pendapat tersebut secara umum saling berdekatan. Hal yang paling penting adalah mengetahui bahwa ada orang-orang yang dinaungi Allah Ta’ala pada hari kiamat selain tujuh golongan yang disebutkan dalam hadits ini. Di antaranya adalah hadits Abu Al-Yasar—radhiyallahu ‘anhu—bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memberi tangguh waktu (pelunasan hutang) kepada orang yang kesulitan atau menggugurkan hutangnya, niscaya Allah akan menaunginya dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

 

 

 



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.