Kedudukan Himmah dan Azzam : Mengubah Ilmu Menjadi Gerakan (2)



طريق المسلم إلى الله قبل رمضان

مراتب الناس في الهمَّة: تحويل العلم إلى حركة

Jalan Muslim Menuju Allah Sebelum Ramadhan

Tingkatan Manusia dalam Himmah: Mengubah Ilmu Menjadi Gerakan (Bagian Kedua)

Oleh : د. هيثم بن عبدالمنعم بن الغريب صقر

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kedudukan Himmah dan Azzam : Mengubah Ilmu Menjadi Gerakan ini masuk dalam kategori Tazkiyatun Nafs

مراتب الناس في الهمَّة:

Tingkatan Manusia dalam Himmah:

إن الناس في الهِمَّة على ثلاث طبقات:

Sesungguhnya manusia dalam hal himmah (cita-cita tinggi) terbagi menjadi tiga tingkatan:

أصحاب الهمم الساقطة: وهم الذين يعرفون الخير ولا يعملون به، يُعجبون بالكلام، ويُثنون على العباد، ويقدِّرون الطريق، لكنهم لا يحرِّكون ساكنًا، هذه الفئة أسيرة العجز والتمنِّي، يتمنَّون البرَّ بلا عملٍ، والإصلاح بلا بذل، والتوبة بلا مجاهدةٍ، هؤلاء لا يخونون الدين عمدًا، لكنهم يخونون أنفسهم بالعجز.

Pemilik Himmah yang Rendah: Yaitu mereka yang mengetahui kebaikan namun tidak mengamalkannya. Mereka mengagumi kata-kata indah, memuji para hamba Allah (yang saleh), dan menghargai jalan (kebenaran), namun mereka tidak bergerak sedikit pun. Golongan ini adalah tawanan dari kelemahan dan angan-angan; mereka menginginkan kebajikan tanpa amal, perbaikan tanpa pengorbanan, dan tobat tanpa kesungguhan. Mereka tidak mengkhianati agama dengan sengaja, namun mereka mengkhianati diri mereka sendiri dengan kelumpuhan tekad.

أصحاب الهمم المتوسطة: وهم الذين يتحرَّكون إذا تحرَّك مَن حولهم، ويَخمُدون إذا خَمَد الناس، ويقع سيرُهم كله تحت تأثير “الأجواء الإيمانية”، يدخل رمضان فينهَض، ويأتي درسٌ مؤثر فيتغيَّر، لكن بعيدًا عن الأجواء التربوية يَخبو ويَضعُف، إذا وَجَدَ مَن يَحْمِلُهُ سَار، وإذا تُرِكَ تَخَلَّف، هم خيرٌ ممن قبلهم، لكنهم لا يَبلغون المقامات العالية.

Pemilik Himmah Menengah: Yaitu mereka yang bergerak jika orang-orang di sekitarnya bergerak, dan menjadi redup jika orang-orang lain redup. Seluruh perjalanan mereka berada di bawah pengaruh “suasana keimanan” semata; saat masuk Ramadhan ia bangkit, saat ada kajian yang menyentuh ia berubah, namun jika jauh dari lingkungan pendidikan (tarbiyah), semangatnya meredup dan melemah. Jika ada yang membimbingnya ia berjalan, namun jika ditinggalkan ia tertinggal. Mereka lebih baik dari golongan sebelumnya, namun tidak mencapai kedudukan-kedudukan yang tinggi.

أصحاب الهِمم العالية: وهؤلاء هم السائرون حقًّا، لا ينتظرون مناسبة، ولا ينتظرون رُفقة، بل قلوبهم تُولِّد طاقتها الإيمانية من داخلها، ومن علامات هذه الفئة:

Pemilik Himmah yang Tinggi: Merekalah para penempuh jalan yang sesungguhnya. Mereka tidak menunggu momentum tertentu, tidak pula menunggu teman. Sebaliknya, hati merekalah yang memproduksi energi keimanan dari dalam dirinya sendiri. Di antara tanda-tanda golongan ini adalah:

* أن العمل أحبُّ إليهم من الأماني.

  • Bahwa amal nyata lebih mereka cintai daripada sekadar angan-angan.

* وأن الطاعة عندهم قرارٌ لا انفعال.

  • Bahwa ketaatan bagi mereka adalah sebuah keputusan, bukan sekadar luapan emosi.

* وأنهم يَجِدون في العبادة لذةً تدفَعهم، لا مجرد عادة.

  • Bahwa mereka menemukan dalam ibadah sebuah kelezatan yang mendorong mereka, bukan sekadar rutinitas.

* وأنهم إن سقَطوا نَهَضوا، وإن ضعُفوا جاهَدوا.

  • Bahwa jika mereka jatuh mereka segera bangkit, dan jika mereka melemah mereka segera bersungguh-sungguh (mujahadah).

هذا الصنف هو الذي يَنطبق عليه قوله صلى الله عليه وسلم:

Golongan inilah yang sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:

«الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ، فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ؛ فإنَّ (لو) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ»؛ أخرجه مسلم (2664).

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan demikian, tentu akan begini dan begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullah wa maa syaa-a fa’ala’ (Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia perbuat); karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim No. 2664)

بداية الطريق هي “الهم بالحسنة”:

Awal Perjalanan adalah “Berniat Melakukan Kebaikan”:

إن العزم يبدأ بـ”هَم الفعل”، وأن الهمَّ نفسه عمل يُكتَب في ميزان العبد؛ جاء في الحديث الصحيح:

Sesungguhnya tekad bermula dari al-hamm (keinginan/niat) untuk berbuat. Dan keinginan itu sendiri merupakan sebuah amal yang dicatat dalam timbangan seorang hamba. Disebutkan dalam hadits shahih:

«مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعمائةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَتْ»؛ أخرجه مسلم (130).

“Barangsiapa yang berniat melakukan satu kebaikan namun ia belum mengamalkannya, maka dicatat baginya satu kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan satu kebaikan lalu ia mengamalkannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat. Barangsiapa yang berniat melakukan satu keburukan namun ia tidak mengamalkannya, maka tidak dicatat sebagai dosa, dan jika ia mengamalkannya baru dicatat (sebagai satu keburukan).” (HR. Muslim No. 130)

وهذا تعليمٌ ربَّاني: أن الطريق يبدأ من الداخل؛ من همٍّ صادق، ونيَّةٍ جادة، وشعورٍ حقيقي بالرغبة في إصلاح الحال، فإذا صدق الهمُّ، انطلق العزم، وإذا انطلق العزم، تحرَّكت الجوارح، وإذا تحركت الجوارح، ظهر أثرُ السلوك، ولهذا فإن الهمَّ أولُ العمل.

Ini adalah pengajaran Rabbani: bahwa jalan itu bermula dari dalam; dari niat yang jujur, kesungguhan hati, dan perasaan tulus untuk memperbaiki keadaan. Jika niat itu sudah jujur, maka tekad akan muncul. Jika tekad sudah muncul, maka anggota tubuh akan bergerak. Dan jika anggota tubuh sudah bergerak, maka nampaklah pengaruhnya dalam perilaku. Oleh karena itu, niat (al-hamm) adalah awal dari sebuah amal.

Kembali ke bagian sebelumnya | Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.