حكم استئذان الزوج في الصيام الواجب
Hukum Meminta Izin Suami dalam Puasa Wajib
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Meminta Izin Suami dalam Puasa Wajib ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
يافضيلة الشيخ، علمت أنه يجب على المرأة استئذان زوجها عند صيام التطوع، سؤالي هو: هل له الحق أن يعرف نوع الصيام، إن كان صيام تطوع أو صيام نذر؟ وما هو سبب النذر؟
Wahai Fadhilatus Syaikh, saya mengetahui bahwa seorang wanita wajib meminta izin suaminya saat hendak melaksanakan puasa sunnah (tathawwu’). Pertanyaan saya adalah: Apakah suami memiliki hak untuk mengetahui jenis puasa tersebut, apakah itu puasa sunnah atau puasa nazar? Dan apakah ia berhak mengetahui apa sebab dari nazar tersebut?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإنه لا خلاف بين العلماء في أن المرأة ليس لها أن تصوم صوم التطوع إذا لم يأذن لها زوجها الحاضر بدليل قوله صلى الله عليه وسلم في الحديث المتفق عليه:
Sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa seorang wanita tidak boleh melaksanakan puasa sunnah jika suaminya yang berada di rumah (hadhir) tidak memberikan izin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis muttafaq ‘alaih:
“لا تصوم المرأة وبعلها شاهد إلا بإذنه.”
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada (di rumah) kecuali dengan izinnya.”
Jika ia tetap berpuasa sunnah tanpa izin suaminya, maka suami berhak membatalkan puasanya dengan melakukan jima’ (hubungan intim), bukan dengan makan atau minum.
وأما إن كان صيامها فرضا مثل قضاء رمضان وقد ضاق الوقت على التأخير فلا حق للزوج في الاستئذان، وليس له منعها من الصيام الواجب في حال ضيق الوقت عليه لئلا يفوت عليها. قال الحافظ في الفتح: قوله إلا بإذنه في غير صيام أيام رمضان وكذا في غيره من الواجب إذا تضايق الوقت.انتهى.
Adapun jika puasanya adalah puasa fardu seperti qadha Ramadhan, sedangkan waktunya sudah sempit untuk ditunda lagi, maka suami tidak memiliki hak untuk dimintai izin. Suami juga tidak boleh melarangnya melaksanakan puasa wajib dalam kondisi waktu yang sempit agar kewajiban tersebut tidak terlewatkan. Al-Hafiz (Ibnu Hajar) berkata dalam Al-Fath: “Sabda beliau ‘kecuali dengan izinnya’ berlaku pada selain puasa hari-hari Ramadhan, demikian pula pada selainnya dari perkara wajib jika waktunya sudah sempit.” (Selesai).
وألحق العلماء بصوم التطوع كل ما أوجبته على نفسها من نذر أو كفارة أو غيرهما. قال صاحب مواهب الجليل عند قول خليل بن إسحاق المالكي: “وليس لامرأة يحتاج لها زوج تطوع بلا إذن،
Para ulama menyamakan puasa sunnah dengan segala hal yang diwajibkan wanita atas dirinya sendiri, seperti nazar, kaffarah, atau lainnya. Penulis kitab Mawahib al-Jalil saat mengomentari perkataan Khalil bin Ishaq al-Maliki berkata: “Seorang wanita yang dibutuhkan oleh suaminya tidak boleh berpuasa sunnah tanpa izin.
وقال ظاهر كلامه أن غير التطوع لا تحتاج فيه إلى استئذان وليس كذلك بل كل ما أوجبته على نفسها من نذر أو كفارة يمين أو فدية أو جزاء صيد في الإحرام أو في الحرم فحكمه حكم التطوع بخلاف قضاء رمضان.”
Ia (penulis) juga berkata bahwa secara zahir perkataannya menunjukkan selain puasa sunnah tidak memerlukan izin, padahal tidak demikian. Bahkan segala yang diwajibkan wanita atas dirinya sendiri berupa nazar, kaffarah sumpah, fidyah, atau balasan berburu saat ihram atau di tanah suci, maka hukumnya adalah hukum puasa sunnah, berbeda halnya dengan qadha Ramadhan.”
وعلى كل حال فللرجل الحق في معرفة نوع الصيام الذي تصومه زوجته وسببه لما يترتب على معرفة نوع صيامها وسببه من جواز قطعه له وعدم جواز ذلك، كما أنه يندب له ألا يحول بينها وبين ما تريد من صوم لا يضر به لأن ذلك من التعاون على البر وقد قال الله تعالى:
Bagaimanapun juga, laki-laki (suami) memiliki hak untuk mengetahui jenis puasa yang dilakukan istrinya serta sebabnya, dikarenakan adanya implikasi hukum dari pengetahuan jenis dan sebab puasa tersebut, yaitu mengenai boleh atau tidaknya suami membatalkan puasa sang istri. Selain itu, disunnahkan (mandub) bagi suami untuk tidak menghalangi istrinya dari puasa yang diinginkannya selama hal itu tidak mendatangkan mudarat bagi suami, karena hal tersebut termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebajikan. Allah Ta’ala berfirman:
“وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى”
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply