Tidak Puasa Ramadhan di Masa yang Ragu Apakah Sudah Baligh



لم تصم رمضان في زمن تشك أنها فيه كانت قد بلغت

Tidak Puasa Ramadhan di Masa yang Ragu Apakah Sudah Baligh Saat Itu

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tidak Puasa Ramadhan di Masa yang Ragu Apakah Sudah Baligh ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

فتاة تشك في أنها لم تصم شهر رمضان لأنها في وقتها لم تكن تدري بأنها بالغة أو شكت ماذا تصنع؟ جزاكم الله خيراً.

Seorang gadis ragu bahwa ia tidak berpuasa bulan Ramadhan karena pada saat itu ia tidak tahu apakah ia sudah baligh atau ia merasa ragu, apa yang harus ia lakukan? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فمن القواعد المقررة شرعاً أن اليقين لا يزول بالشك، فمن لم يصم في سنة من السنين الماضية، وشك هل كان بالغاً وقتها أم لا؟ وكانت سنه دون الخمسة عشر عاماً، فإن الأصل أنه لم يبلغ ولا يطالب بصيام تلك السنة، ولهذا نظائر كثيرة في أبواب الفقه،

Termasuk kaidah yang ditetapkan secara syariat adalah bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan. Maka barangsiapa yang tidak berpuasa pada suatu tahun di tahun-tahun yang telah lalu, dan ia ragu apakah ia sudah baligh pada saat itu atau belum, sedangkan usianya saat itu di bawah lima belas tahun, maka hukum asalnya adalah ia belum baligh dan tidak dituntut untuk mengqadha puasa pada tahun tersebut. Hal ini memiliki banyak preseden dalam bab-bab fikih.

فقد نص العلماء على أن:

Para ulama telah menyatakan bahwa :

المسلم إذا نبتت عانته وشك في بلوغه لا يحكم ببلوغه.. ولا يثبت له شيء من أحكام البالغين..

“Seorang Muslim jika telah tumbuh rambut kemaluannya namun ia ragu akan balighnya, maka ia tidak dihukumi telah baligh… dan tidak berlaku baginya hukum-hukum orang dewasa (baligh)…”

كما في تحفة المحتاج لابن حجر الهيتمي الشافعي، وجاء في كشاف القناع من كتب الحنابلة: 

sebagaimana disebutkan dalam Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami al-Syafi’i. Disebutkan pula dalam Kassyaf al-Qina’ dari kitab-kitab Madzhab Hanbali :

ولا يحكم ببلوغه -أي ابن عشر فأكثر- إن شك فيه- أي في بلوغه لأن الحكم بالبلوغ يستدعي يقيناً ترتب الأحكام عليه من التكاليف ووجوب الغرامات فلا يحكم به مع الشك… انتهى.

“Dan tidak dihukumi balighnya —yakni anak usia sepuluh tahun atau lebih— jika diragukan hal tersebut —yakni balighnya— karena ketetapan baligh memerlukan keyakinan yang menjadi dasar berlakunya hukum-hukum syariat seperti beban kewajiban (taklif) dan kewajiban denda, maka tidak dihukumi baligh bersama adanya keraguan…” (Selesai).

وأما إن كان مستيقناً ببلوغه في تلك السنة وشك في صيامه، وكان من عادته التهاون بصيام رمضان فالذي نراه أنه يجب عليه القضاء لأن الأصل أنه لم يصم ولم تبرأ ذمته، وقرينة كونه متهاوناً ترجح كفة هذا الأصل، فيجب عليه القضاء،

Adapun jika ia yakin telah baligh pada tahun tersebut namun ia ragu akan puasanya, sementara ia memiliki kebiasaan meremehkan puasa Ramadhan, maka pendapat kami adalah wajib baginya untuk mengqadha, karena hukum asalnya ia belum berpuasa dan tanggung jawabnya belum gugur. Indikasi bahwa ia seorang yang meremehkan memperkuat hukum asal ini, sehingga ia wajib mengqadha.

وإن لم يكن من عادته التهاون بصيام رمضان لم يلزمه القضاء لأنه يبعد أن لا يصوم المسلم المحافظ شهراً كاملاً من غير عذر ثم يشك بعد ذلك هل صامه أو لا، والشك في مثل هذه الحال ضرب من الوسوسة.

Namun jika ia bukan orang yang biasa meremehkan puasa Ramadhan, maka ia tidak wajib mengqadha, karena sangat jauh kemungkinannya seorang Muslim yang menjaga ibadah tidak berpuasa selama satu bulan penuh tanpa udzur, kemudian setelah itu ia ragu apakah sudah berpuasa atau belum. Keraguan dalam kondisi seperti ini merupakan bagian dari was-was.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.