Asal dalam Mengetahui Waktu Ibadah adalah Tanda-tanda Syar’i



الأصل في معرفة مواقيت العبادات العلامات الشرعية لا التقاويم

Asal dalam Mengetahui Waktu Ibadah adalah Tanda-tanda Syar’i, Bukan Kalender

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Asal dalam Mengetahui Waktu Ibadah adalah Tanda-tanda Syar’i, Bukan Kalender ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

لقد بلغنا عصر التطور والتحري وأصبح العلماء والحمد لله قادرين على تحديد كيفية الكثير من أمور الدين بيسر وسهولة، فمثلا حدد بعض العلماء وقت صلاة الضحى من الـ 6،45 وحتى الـ 12 أي ما يقارب الـ 6 ساعات، فهل تتفضلوا بتقدير أوقات الصلاة المفروضة صيفاً وشتاءً حيث حدد بالتقويم حسب مكة المكرمة وقت صلاة الفجر4،11

Kita telah sampai pada era kemajuan dan akurasi, di mana para ulama, alhamdulillah, mampu menentukan banyak perkara agama dengan mudah. Sebagai contoh, sebagian ulama menentukan waktu shalat Dhuha dari pukul 6.45 hingga pukul 12.00, yaitu sekitar 6 jam. Sudilah kiranya Anda memperkirakan waktu-waktu shalat fardhu baik di musim panas maupun musim dingin; sebagaimana dalam kalender menurut Makkah Al-Mukarramah waktu shalat Fajar adalah pukul 4.11.

وعليه نرجو التكرم بتحديد ساعة الانتهاء من خروج وقتها وهكذا لبقية الصلوات بحيث نتمكن من معرفة وقت الخروج بالوقت المحدد شرعاً أي بعدد الساعات، أرجو أن يكون طلبي واضحاً فنحن معشر النساء لا نذهب للمسجد وأحياناً تؤخرنا متطلبات الحياة عن أداء الصلاة في وقتها الحاضر

Terkait hal itu, kami mohon kiranya ditentukan jam berakhirnya waktu tersebut, demikian pula untuk shalat lainnya, sehingga kami dapat mengetahui waktu berakhirnya berdasarkan waktu yang ditetapkan syariat dalam hitungan jam. Saya harap permintaan saya jelas, karena kami kaum wanita tidak pergi ke masjid dan terkadang kebutuhan hidup menunda kami untuk menunaikan shalat pada waktunya.

لذلك نرغب في معرفة خروج الوقت لمعرفة نوعية النية للصلاة إن كانت أداء أو قضاء، وهل يجب نوع النية قبل الصلاة لتأديتها.. كأن أنويها بالقلب بهذا اللفظ (نويت أن أصلي صلاة المغرب حاضر) وإن أخرتهاعن وقتها لأي ظرف أتلفظ بقلبي (نويت أن أصلي العصر قضاء)، فهل هذا هو المفروض بالنية، من هذا المنطلق نحتاج لمعرفة المقدار الزمني بالساعات لأوقات الصلوات المفروضة وغيرها من النوافل؟ جزاكم الله خيرا..ً فأرجو إن يكون طلبي واضحاً جلياً.

Oleh karena itu, kami ingin mengetahui waktu berakhirnya shalat untuk mengetahui jenis niatnya, apakah itu Ada’ (tepat waktu) atau Qadha (mengganti). Apakah jenis niat wajib ditentukan sebelum shalat? Seperti saya berniat dalam hati dengan lafaz (saya berniat shalat Maghrib hadir/tepat waktu), dan jika saya menundanya karena suatu keadaan saya melafazkan dalam hati (saya berniat shalat Ashar qadha). Apakah ini yang diwajibkan dalam niat? Dari dasar inilah kami perlu mengetahui durasi waktu dalam jam untuk waktu-waktu shalat fardhu dan shalat sunnah lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda, saya harap permintaan saya jelas dan terang.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فبالنسبة لمواقيت الصلاة وتحديدها بالساعات ابتداءً فبإمكان الأخت السائلة الرجوع إلى التقويم الذي تصدره الدولة التي هي فيها، فإذا كانت السائلة في السعودية كما يظهر من بيانات السؤال فلترجع إلى مواقيت الصلاة التي تصدرها وزارة الأوقاف أو دار الإفتاء،

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Mengenai waktu-waktu shalat dan penentuannya dalam jam, saudari penanya dapat merujuk pada kalender (jadwal shalat) yang dikeluarkan oleh negara tempat Anda berada. Jika penanya berada di Arab Saudi sebagaimana terlihat dari data pertanyaan, maka silakan merujuk pada waktu shalat yang dikeluarkan oleh Kementerian Wakaf atau Lembaga Fatwa.

ولكننا ننبه إلى أن الأصل في تحديد أوقات الصلاة ابتداءً وانتهاء هو العلامات التي حددها الشارع لذلك، وأما هذه التقاويم فلا ينبغي الاعتماد عليها كلياً وجعلها هي الأصل، وهذا ما أفتت به اللجنة الدائمة فقد جاء في الفتوى رقم (4100) من فتاوى اللجنة الدائمة: 

Akan tetapi, kami mengingatkan bahwa asal (dasar utama) dalam menentukan waktu shalat baik awal maupun akhirnya adalah tanda-tanda yang telah ditetapkan oleh pembuat syariat untuk hal tersebut. Adapun kalender-kalender ini tidak sepatutnya dijadikan sandaran sepenuhnya dan dijadikan sebagai rujukan utama. Inilah yang difatwakan oleh Komite Tetap (Lajnah Da’imah), di mana disebutkan dalam fatwa nomor 4100 :

التقويم من الأمور الاجتهادية، فالذين يضعونه بشر يخطئون ويصيبون، ولا ينبغي أن تناط به أوقات الصلاة والصيام من جهة الابتداء أو الانتهاء، لأن ابتداء هذه الأوقات وانتهاءها جاء في القرآن والسنة فينبغي الاعتماد على ما دلت عليه الأدلة الشرعية، ولكن هذه التقاويم الفلكية قد يستفيد منها المؤذنون في أوقات الصلوات على سبيل التقريب. انتهى.

“Kalender (jadwal astronomis) termasuk perkara ijtihadiah. Orang-orang yang menyusunnya adalah manusia yang bisa salah dan benar. Tidak sepatutnya waktu shalat dan puasa digantungkan padanya baik dari sisi awal maupun akhirnya, karena awal dan akhir waktu-waktu ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka hendaknya bersandar pada apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i. Akan tetapi, kalender astronomis ini dapat dimanfaatkan oleh para muazin untuk waktu-waktu shalat sebagai bentuk pendekatan (perkiraan).” (Selesai).

إذا تبين ذلك فإنه لا يمكن لنا إعطاء الأخت السائلة وقتاً محدداً بالساعات لانتهاء وقت الصلوات، وانظري الفتوى رقم: 4538 في بيان مواقيت الصلاة التي حددها الشارع ابتداء وانتهاء، وتقدير ذلك بالساعات ابتداء وانتهاء يختلف من بلد إلى بلد ومن فصل إلى فصل.

Jika hal itu sudah jelas, maka kami tidak mungkin memberikan waktu yang spesifik dalam hitungan jam kepada saudari penanya mengenai berakhirnya waktu shalat. Silakan lihat fatwa lain disini mengenai penjelasan waktu-waktu shalat yang ditetapkan syariat baik awal maupun akhirnya. Perkiraan hal tersebut dalam jam sangat berbeda-beda dari satu negeri ke negeri lainnya dan dari satu musim ke musim lainnya.

وأما عن النية فالواجب على المصلي أن ينوي عين الصلاة ظهراً أو عصراً، ولا يجب عليه أن ينوي القضاء أو الأداء أو الإعادة على الراجح، قال صاحب الروض: فيجب أن ينوي عين صلاة معينة فرضاً كانت كالظهر… أو نفلاً كالوتر.. ولا يشترط في الفرض أن ينويه فرضاً.. ولا في الأداء ولا في القضاء نيتها لأن التعيين يغني عن ذلك.. ولا يشترط في النفل والإعادة نيتهن. انتهى مختصراً.

Adapun mengenai niat, maka yang wajib bagi orang yang shalat adalah meniatkan jenis shalatnya secara spesifik seperti Zhuhur atau Ashar. Menurut pendapat yang kuat (rajih), ia tidak wajib meniatkan qadha, ada’, atau mengulang (i’adah). Penulis kitab Al-Rawdh berkata: “Maka wajib meniatkan jenis shalat tertentu baik itu fardhu seperti Zhuhur… atau sunnah seperti Witir… Tidak disyaratkan pada shalat fardhu untuk meniatkannya sebagai ‘fardhu’… Tidak pula dalam Ada’ maupun Qadha untuk meniatkannya, karena penentuan jenis shalat sudah mencukupi hal tersebut… Dan tidak disyaratkan pada shalat sunnah maupun i’adah untuk meniatkan (status)nya.” (Selesai secara ringkas).

وننبه الأخت السائلة إلى أنه يحرم تأخير الصلاة عن وقتها المحدد لها شرعاً من غير عذر شرعي فالاشتغال بشؤون البيت ونحوه من متطلبات الحياة ليس عذراً في تأخير الصلاة عن وقتها. والله أعلم.

Dan kami mengingatkan saudari penanya bahwa diharamkan menunda shalat hingga keluar dari waktu yang telah ditentukan syariat tanpa adanya udzur syar’i. Maka menyibukkan diri dengan urusan rumah tangga dan semisalnya dari kebutuhan hidup bukanlah udzur untuk menunda shalat dari waktunya. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.