Belenggu Syaitan di Bulan Ramadhan



تصفيد الشياطين في رمضان قد يكون خاصا بمردتهم

Belenggu Syaitan di Bulan Ramadhan Mungkin Khusus bagi Jin-jin yang Sangat Jahat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Belenggu Syaitan di Bulan Ramadhan Mungkin Khusus bagi Jin-jin yang Sangat Jahat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

إن الشياطين تصفد في رمضان. فكيف ظهر شيطان لأبي هريرة في رمضان؟

Syaitan-syaitan dibelenggu pada bulan Ramadhan. Lantas bagaimana syaitan menampakkan diri kepada Abu Hurairah pada bulan Ramadhan?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فظاهر حديث أبي هريرة يدل على أن الشيطان ظهر له في رمضان، لأنه كان موكلا بصدقة الفطر وكانوا يجمعونها قبل يوم الفطر.

Makna lahiriah hadits Abu Hurairah menunjukkan bahwa syaitan menampakkan diri kepadanya pada bulan Ramadhan, karena ia ditugaskan menjaga sedekah fitrah (zakat fitrah) yang mana mereka biasa mengumpulkannya sebelum hari raya Idul Fitri.

ففي مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح :وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:

Dalam Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih disebutkan: “Dari Abu Hurairah, ia berkata:

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، 

‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan’,”

أَيْ بِجَمْعِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ لِيُفَرِّقَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى الْفُقَرَاءِ، وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ: أَيْ فِي حِفْظِهَا، أَيْ فَوَّضَ إِلَيَّ ذَلِكَ. انتهى.

maksudnya mengumpulkan sedekah fitrah untuk dibagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang fakir. Ibnu Hajar berkata: Yakni dalam penjagaannya, maksudnya beliau menyerahkan tugas tersebut kepadaku. (Selesai).

وقال الحافظ ابن حجر عند ذكر فوائد قصة أبي هريرة وما يؤخذ من الحديث: وَفِيهِ جَوَازُ جَمْعِ زَكَاةِ الْفِطْرِ قَبْلَ لَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَتَوْكِيلِ الْبَعْضِ لِحِفْظِهَا وَتَفْرِقَتِهَا. انتهى.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata ketika menyebutkan faedah kisah Abu Hurairah dan apa yang dapat diambil dari hadits tersebut: “Di dalamnya terdapat kebolehan mengumpulkan zakat fitrah sebelum malam Idul Fitri, dan mewakilkan sebagian orang untuk menjaga serta membagikannya.” (Selesai).

وفي شرح رياض الصالحين للشيخ محمد بن صالح العثيمين عند شرح الحديث المذكور: هذه القصة قصة عجيبة عظيمة، وذلك لأن النبي صلى الله عليه وسلم وكل أبا هريرة رضي الله عنه على صدقة رمضان يعني الفطر يحفظها وكانوا يجمعونها قبل العيد بيوم أو يومين، وكان أبو هريرة وكيلا عليها، 

Dalam Syarh Riyadhus Shalihin karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin saat menjelaskan hadits tersebut: “Kisah ini adalah kisah yang menakjubkan dan agung, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu atas sedekah Ramadhan —yakni zakat fitrah— untuk dijaga. Mereka biasa mengumpulkannya sehari atau dua hari sebelum Idul Fitri. Abu Hurairah menjadi wakil atasnya.

وفي ليلة من الليالي جاء رجل يحثو من الطعام فأمسكه أبو هريرة وقال لأرفعنك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم. انتهى.

Suatu malam, datanglah seorang laki-laki yang meraup makanan (dengan tangannya), maka Abu Hurairah menangkapnya dan berkata: ‘Sungguh aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’.” (Selesai).

ولم نجد من أهل العلم من ذكر وجه الجمع بين ظهورالشيطان لأبي هريرة وبين الحديث الوارد في تصفيد الشياطين في رمضان،

Kami tidak menemukan ulama yang menyebutkan secara khusus cara mempertemukan antara penampakan syaitan kepada Abu Hurairah dengan hadits tentang dibelenggunya syaitan di bulan Ramadhan.

لكن الظاهرأن لا تعارض بين الأمرين، فقد ذكر العلماء أن التصفيد قد يكون خاصا بمردتهم أو بعضهم أوالمراد به تقليل شرورهم وبالتالي فلا مانع من محاولة من سلم منهم من التصفيد الإضرار بالإنس وبهذا يرتفع الإشكال.

Namun secara lahiriah, tidak ada pertentangan di antara keduanya. Para ulama menyebutkan bahwa pembelengguan tersebut bisa jadi khusus bagi maradah (jin-jin yang sangat jahat) atau sebagian dari mereka saja, atau maksudnya adalah pengurangan kejahatan mereka. Oleh karena itu, tidak ada penghalang bagi syaitan yang selamat dari belenggu untuk mencoba mencelakai manusia. Dengan demikian, permasalahan ini terselesaikan.

قال الحافظ ابن حجر: وقال القرطبي بعد أن رجح حمله على ظاهره يعني تصفيد الشياطين: فإن قيل: كيف نرى الشرور والمعاصي واقعة في رمضان كثيراً، فلو صفدت الشياطين لم يقع ذلك:

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Al-Qurthubi berkata setelah ia merajihkan (menguatkan) makna lahiriah hadits tersebut —yakni pembelengguan syaitan—: ‘Jika ditanyakan: Bagaimana kita melihat kejahatan dan maksiat banyak terjadi di bulan Ramadhan, padahal jika syaitan dibelenggu hal itu tidak akan terjadi?

فالجواب: أنها إنما تُغَلُّ عن الصائمين الصوم الذي حوفظ على شروطه وروعيت آدابه، أو المصفد بعض الشياطين وهم المردة لا كلهم، كما تقدم في بعض الروايات، 

Jawabannya: Syaitan-syaitan itu hanya dibelenggu dari orang-orang yang berpuasa dengan puasa yang terjaga syarat-syaratnya dan diperhatikan adab-adabnya. Atau yang dibelenggu adalah sebagian syaitan saja, yaitu para maradah (yang sangat jahat), bukan semuanya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.

أو المقصود تقليل الشرور فيه، وهذا أمر محسوس، فإن وقوع ذلك فيه أقل من غيره، إذ لا يلزم من تصفيد جميعهم أن لا يقع شر ولا معصية، لأن لذلك أسباباً غير الشياطين كالنفوس الخبيثة والعادات القبيحة والشياطين الإنسية. انتهى.

Atau tujuannya adalah pengurangan kejahatan di dalamnya, dan ini adalah hal yang dapat dirasakan, karena terjadinya kejahatan di bulan Ramadhan lebih sedikit daripada bulan lainnya. Karena pembelengguan seluruh syaitan tidak memastikan tidak adanya kejahatan atau maksiat sama sekali, sebab ada sebab-sebab lain selain syaitan, seperti jiwa yang buruk (hawa nafsu), kebiasaan yang buruk, dan syaitan-syaitan dari kalangan manusia’.” (Selesai).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.