Was-was Qahri (OCD): Hakikat dan Pengobatannya



الوسواس القهري : ماهيته – علاجه

Was-was Qahri (OCD): Hakikat dan Pengobatannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Was-was Qahri (OCD): Hakikat dan Pengobatannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ماهو الوسواس القهري؟ وما علاجه؟ أقصد وسوسة الماء والنجاسة والوسوسة عند الصلاة وإعادة الصلاة والوضوء وتكرار الآيات في الصلاة؟

Apa yang dimaksud dengan was-was qahri (OCD)? Dan apa obatnya? Maksud saya adalah was-was terhadap air dan najis, was-was saat shalat, mengulang shalat dan wudhu, serta pengulangan ayat-ayat dalam shalat?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فإن الوسواس القهري مرض يعتري الشخص ، يأتي له بصورة أفعال وأفكار تتسلط على المريض وتضطره لتكرارها ، وإذا لم يكرر الفعل أو يتسلسل مع الفكرة يشعر المريض بتوتر ، ولا يزول هذا التوتر إلا إذا كرر الفعل، وتسلسل مع الفكرة . وبعد أن يطاوع الوسواس يعاوده الدافع للفعل ثانية . ولا يزول المرض بهذا بل يتمكن منه .

Sesungguhnya was-was qahri (OCD) adalah penyakit yang menimpa seseorang, yang datang dalam bentuk perbuatan dan pikiran yang menguasai penderita serta memaksanya untuk mengulanginya. Jika ia tidak mengulangi perbuatan tersebut atau mengikuti alur pikiran tersebut, penderita akan merasa tegang, dan ketegangan ini tidak akan hilang kecuali jika ia mengulangi perbuatan itu atau mengikuti pikiran tersebut. Setelah ia menuruti was-was tersebut, dorongan untuk melakukan perbuatan itu akan kembali lagi untuk kedua kalinya. Penyakit ini tidak hilang dengan cara menuruti was-was tersebut, melainkan justru akan semakin kuat menguasainya.

فهو إذاً المبالغة الخارجة عن الاعتدال ، فقد يفعل الأمر – مكرراً له – حتى يفوت المقصد منه ، مثل أن يعيد الوضوء مراراً حتى تفوته الصلاة، أو يكرر آية، أو نحو ذلك حتى يسبقه الإمام بركن أو أكثر، وقد يتمكن منه الوسواس فيترك العمل بالكلية، وهذا هو المقصد الأساس من تلك الوسوسة.

Maka ia (OCD) adalah sikap berlebih-lebihan yang keluar dari batas kewajaran. Seseorang terkadang melakukan suatu perkara —dengan mengulang-ulangnya— hingga hilang tujuan darinya; seperti mengulang wudhu berkali-kali sampai tertinggal waktu shalat, atau mengulang suatu ayat atau semisalnya sampai ia didahului oleh imam sebanyak satu rukun atau lebih. Terkadang was-was tersebut sangat menguasainya hingga ia meninggalkan amal tersebut secara keseluruhan, dan inilah tujuan utama dari was-was tersebut.

والشيطان له الدور الأكبر في الوسوسة، فعن ابن عباس رضي الله عنهما” قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال :

Syaitan memiliki peran terbesar dalam was-was. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يا رسول الله إن أحدنا يجد في نفسه- يعرِّضُ بالشيء – لأن يكون حممة أحب من أن يتكلم به فقال : الله أكبر الله أكبر الله أكبر ، الحمد لله الذي رد كيده إلى الوسوسة ” رواه أحمد وأبو داود.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya —sesuatu yang ia rahasiakan— yang mana menjadi arang lebih ia sukai daripada harus mengucapkannya.” Maka beliau bersabda: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah menolak tipu dayanya (syaitan) menjadi was-was.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud).

وقد يكون لعوامل أُخَر دور في إصابة المرء بالوسوسة كعامل نفسي أو تربوي أو شيء حدث أو موقف كان له أثر قوي في نفسه من أمر ما، وفي مثل هذه الحالة يعرض الشخص المريض على طبيب نفسي مسلم.

Bisa jadi terdapat faktor-faktor lain yang berperan dalam seseorang terkena was-was, seperti faktor psikologis, pendidikan, suatu kejadian, atau situasi tertentu yang memberikan dampak kuat pada dirinya terhadap suatu perkara. Dalam kondisi seperti ini, penderita hendaknya memeriksakan diri kepada dokter spesialis kejiwaan (psikiater) Muslim.

وليتغلب العبد على الوسواس الذي يصيبه في عبادته و أفكاره عليه أن يصدق في الالتجاء إلى الله تعالى ، ويلهج بالدعاء والذكر ليكشف عنه الضر ويدفع عنه البلاء ، وليطمن قلبه .

Agar seorang hamba dapat mengalahkan was-was yang menimpanya dalam ibadah dan pikirannya, hendaknya ia jujur (sungguh-sungguh) dalam bersandar kepada Allah Ta’ala, serta senantiasa berdoa dan berdzikir agar Allah menghilangkan bahaya darinya, menjauhkan balak (ujian), dan menenangkan hatinya.

قال الله تعالى 

Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ {النمل:٦٢}،

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-ingat(-Nya).” {An-Naml: 62}.

وقال تعالى:

Dan Dia berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ {الرعد:٢٨}.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” {Ar-Ra’d: 28}.

ومما يندفع به الوسواس الاستغفار، فعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

Dan di antara perkara yang dapat mengusir was-was adalah istighfar. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إِنَّ ‌لِلشَّيْطَانِ ‌لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتكْذِيبٌ بِالحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللهِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ الأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، ثُمَّ قَرَأَ {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ} الآيَةَ”. رواه الترمذي في سننه وابن حبان في صحيحه.

“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat pun memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa yang mendapati hal itu (bisikan kebaikan), hendaknya ia mengetahui bahwa itu dari Allah dan hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapati bisikan yang lain (bisikan setan), hendaknya ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Kemudian beliau membaca ayat: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji…” (Al-Ayah). (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunannya dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

وعن عثمان بن أبي العاص قال: يا رسول الله : إن الشيطان قد حال بيني وبين صلاتي وقراءتي يلبسها علي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : 

Dari Utsman bin Abi al-Ash, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syaitan telah menghalangi antara aku dengan shalatku dan bacaanku, ia merancukannya padaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ذاك شيطان يقال له خنزب ، فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه، واتفل عن يسارك ثلاثاً. قال : ففعلت ذلك فأذهبه الله عني رواه مسلم .

“Itu adalah syaitan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya, dan meludahlah (kering) ke arah kirimu sebanyak tiga kali.” Ia berkata: “Maka aku melakukan hal tersebut dan Allah menghilangkannya dariku.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

وغرض الشيطان من تلك الوسوسة – كما بينها حديث عثمان – أن يلبس على العبد صلاته ويفسدها عليه، وأن يحول بينه وبين ربه، فيندفع هذا الكيد بالاستغفار والاستعاذة .

Tujuan syaitan dari was-was tersebut —sebagaimana dijelaskan dalam hadits Utsman— adalah untuk mengaburkan shalat seorang hamba dan merusaknya, serta menghalangi antara dia dengan Tuhannya. Maka tipu daya ini dapat ditolak dengan istighfar (memohon ampunan) dan isti’adzah (memohon perlindungan).

قال ابن القيم في زاد المعاد: ولما كان الشيطان على نوعين : نوع يرى عياناً وهو شيطان الإنس، ونوع لا يرى وهو شيطان الجن، أمر سبحانه وتعالى نبيه صلى الله عليه وسلم أن يكتفي من شر شيطان الإنس بالإعراض عنه والعفو والدفع بالتي هي أحسن، ومن شيطان الجن بالاستعاذة بالله منه، انتهى.

Ibnu al-Qayyim berkata dalam Zad al-Ma’ad: “Oleh karena syaitan itu ada dua jenis: jenis yang terlihat secara nyata yaitu syaitan manusia, dan jenis yang tidak terlihat yaitu syaitan jin; maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mencukupkan diri dari keburukan syaitan manusia dengan berpaling darinya, memaafkan, dan membalas dengan cara yang lebih baik, sedangkan dari syaitan jin dengan memohon perlindungan kepada Allah darinya.” (Selesai).

وقال تعالى :

Dan Allah Ta’ala berfirman :

وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم ( الأعراف :٢٠٠)

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200).

قال ابن كثير في تفسيره : فأما شيطان الجن فإنه لا حيلة فيه إذا وسوس إلا الاستعاذة بخالقه الذي سلطه عليك، فإذا استعذت بالله والتجأت إليه كفه عنك ورد كيده، اهـ.

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: “Adapun syaitan jin, sesungguhnya tidak ada tipu daya terhadapnya jika ia membisikkan was-was kecuali dengan memohon perlindungan kepada Penciptanya yang telah memberinya kekuasaan atasmu. Jika engkau memohon perlindungan kepada Allah dan bersandar kepada-Nya, niscaya Allah akan menahannya darimu dan menolak tipu dayanya.” (Selesai).

ومن الأمور النافعة- كذلك في علاج الوسوسة استحضار القلب والانتباه عند الفعل وتدبر ما هو فيه من فعل أو قول ، فإنه إذا وثق من فعله وانتبه إلى قوله وعلم أن ما قام به هو المطلوب منه كان ذلك داعياً إلى عدم مجاراة الوسواس ،

Di antara perkara yang bermanfaat —demikian pula dalam mengobati was-was— adalah menghadirkan hati dan penuh perhatian saat melakukan perbuatan, serta mentadaburi apa yang sedang dilakukan baik perbuatan maupun perkataan. Sesungguhnya jika seseorang yakin dengan perbuatannya dan memperhatikan perkataannya serta mengetahui bahwa apa yang ia lakukan adalah yang dituntut darinya, maka hal itu akan menjadi pendorong untuk tidak menuruti was-was.

وإن عرض له فلا يسترسل معه لأنه على يقين من أمره ومن ذلك في الوضوء مثلاً: أن يتوضأ من إناء فيه قدر ما يكفي للوضوء بلا زيادة، ويجاهد نفسه أن يكتفي به، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ بأقل منه .

Dan jika was-was itu muncul, ia tidak terus-menerus mengikutinya karena ia berada di atas keyakinan akan urusannya. Contohnya dalam wudhu: seseorang berwudhu dari wadah yang berisi air sekadar cukup untuk wudhu tanpa berlebihan, dan ia bersungguh-sungguh (mujahadah) melawan dirinya agar mencukupkan diri dengannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berwudhu dengan air yang lebih sedikit dari itu.

وفي باب التطهر من النجاسة يحاول رش المحل الذي يعرض له فيه الوسواس بالماء، ويقنع نفسه أن ما يجده من بلل هو من أثر الماء لا من البول. وفي الصلاة يجتهد في متابعة الإمام ، حتى ولو خيل إليه أنه لم يأت بالذكر المطلوب ، 

Dalam bab bersuci dari najis, seseorang hendaknya mencoba memercikkan air ke bagian yang sering muncul was-was padanya, dan meyakinkan dirinya bahwa basah yang ia temukan adalah bekas air, bukan air kencing. Dalam shalat, ia hendaknya bersungguh-sungguh mengikuti imam, meskipun terbayang olehnya seolah-olah ia belum membaca dzikir yang diminta.

وإذ قرأ الإمام ينصت له، ويقرأ معه الفاتحة إن كان ممن يرى وجوب قراءتها على المأموم في الصلاة الجهرية… . وهكذا يحاول اتخاذ حلول عملية، يدرب نفسه عليها شيئاً فشيئاً. والله سبحانه وتعالى هو الكاشف لكل ضر والرافع لكل بلوى.

Dan jika imam membaca (Al-Fatihah/surah), ia menyimaknya, dan membaca Al-Fatihah bersamanya jika ia termasuk orang yang berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat jahriyyah… Demikianlah hendaknya ia mencoba mengambil solusi praktis dan melatih dirinya sedikit demi sedikit. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Menghilangkan segala kemudaratan dan Yang Mengangkat segala cobaan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.