كلمة هادية في أسباب الوساوس وسبل التغلب عليها
Petunjuk Mengenai Sebab-sebab Was-was dan Cara Mengatasinya (Bagian Kedua)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kalimat Petunjuk Mengenai Sebab-sebab Was-was dan Cara Mengatasinya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab
ولتغلب العبد على الوسواس الذي يصيبه في عبادته وأفكاره عليه فعل الآتي:
Agar seorang hamba dapat mengalahkan was-was yang menimpanya dalam ibadah dan pikirannya, ia hendaknya melakukan hal-hal berikut :
١- الالتجاء إلى الله تعالى بصدق وإخلاص في أن يذهب الله عنك هذا المرض.
1- Bersandar kepada Allah Ta’ala dengan kejujuran dan keikhlasan agar Allah menghilangkan penyakit ini dari Anda.
٢- الإكثار من قراءة القرآن والمحافظة على الذكر لا سيما أذكار الصباح والمساء، وأذكار النوم والاستيقاظ، ودخول المنزل والخروج، ودخول الحمام والخروج منه، والتسمية عند الطعام والحمد بعده، وغير ذلك، وننصحك بشراء كتاب الأذكار للإمام النووي ومعاودة القراءة فيه دائما.
2- Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan menjaga dzikir, terutama dzikir pagi dan petang, dzikir tidur dan bangun tidur, masuk dan keluar rumah, masuk dan keluar kamar mandi, membaca basmalah saat makan dan hamdalah setelahnya, dan lain sebagainya. Kami menasihati Anda untuk membeli kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dan membacanya secara rutin.
٣- الاستعاذة بالله من الشيطان الرجيم والانتهاء عن الاسترسال مع خطواته الخبيثة في الوسوسة، فلا أنفع من هذ الأمر لذهاب الوسواس،
3- Memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk dan berhenti mengikuti langkah-langkahnya yang buruk dalam was-was. Tidak ada yang lebih bermanfaat untuk menghilangkan was-was selain hal ini.
وقد جاء عن بعض الصالحين الذين ابتلوا بالوسواس أنه كان يقول للشيطان إذا وسوس له بعدم صحة ووضوئه أو صلاته بعد الانتهاء منها يقول له: لا أقبل منك حتى تأتيني بشاهدي عدل على ما تقول.
Diriwayatkan dari sebagian orang shalih yang diuji dengan was-was, bahwa ia berkata kepada setan ketika setan membisikkan ketidaksahan wudhu atau shalatnya setelah selesai: “Aku tidak akan menerima perkataanmu sampai engkau membawakanku dua orang saksi yang adil atas apa yang engkau katakan.”
فأعظم العلاج للوسواس هو الإعراض عنه وعدم تصديقه في عدم صحة ما قمت به،
Maka pengobatan terbesar bagi was-was adalah berpaling darinya dan tidak memercayai bisikannya tentang ketidaksahan apa yang telah Anda lakukan.
واسمع لحديث النبي صلى الله عليه وسلم الذي رواه الإمام مسلم في صحيحه عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dan dengarkanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يأتي أحدكم الشيطان فيقول: من خلق كذا وكذا؟ حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته.
“Setan mendatangi salah seorang dari kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’ sampai ia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika sudah sampai pada tahap itu, hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dan berhentilah (meladeni bisikan tersebut).”
وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إن للشيطان لمة بابن آدم، وللملك لمة، فأما لمة الشيطان فإيعاد بالشر وتكذيب بالحق، وأما لمة الملك فإيعاد بالخير وتصديق بالحق، فمن وجد ذلك فليعلم أنه من الله فليحمد الله، ومن وجد الأخرى فليتعوذ بالله من الشيطان الرجيم، ثم قرأ:
“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat pun memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa yang mendapati hal itu (bisikan kebaikan), hendaknya ia mengetahui bahwa itu dari Allah dan hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapati bisikan yang lain (bisikan setan), hendaknya ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Kemudian beliau membaca ayat :
[الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ] (البقرة: ٢٦٨) رواه الترمذي.
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji.” (QS. Al-Baqarah: 268). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
وعن عثمان بن أبي العاص قال:
Dari Utsman bin Abi al-Ash, ia berkata:
يا رسول الله: إن الشيطان قد حال بيني وبين صلاتي وقراءتي يلبسها علي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه، واتفل عن يسارك ثلاثا. قال: ففعلت ذلك فأذهبه الله عني. رواه مسلم.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dengan shalatku dan bacaanku, ia merancukannya padaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya, dan meludahlah (kering) ke arah kirimu sebanyak tiga kali.” Ia berkata: “Maka aku melakukan hal tersebut dan Allah menghilangkannya dariku.” (Diriwayatkan oleh Muslim).
فأرشد النبي صلى الله عليه وسلم من ابتلي بهذه الوسوسة إلى الإعراض عن هذا الخاطر الشيطاني، والالتجاء إلى الله تعالى في إذهابه، وترك الاسترسال معه، فالتمادي في الوسوسة لايقف عند حد، فلا تظنن أن علاج الوسواس هو تكرار الفعل أو تركه بالكلية.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing orang yang diuji dengan was-was ini untuk berpaling dari lintasan pikiran setan tersebut, bersandar kepada Allah Ta’ala untuk menghilangkannya, dan berhenti mengikutinya. Sebab, terus-menerus mengikuti was-was tidak akan ada batasnya. Maka janganlah Anda mengira bahwa pengobatan was-was adalah dengan mengulang-ulang perbuatan atau meninggalkannya secara keseluruhan.
4- استحضار القلب والانتباه عند الفعل وتدبر ما هو فيه من فعل أو قول، فإنه إذا وثق من فعله وانتبه إلى قوله وعلم أن ما قام به هو المطلوب منه كان ذلك داعيا إلى عدم مجاراة الوسواس، وإن عرض له فلا يسترسل معه، لأنه على يقين من أمره، ومن ذلك في الوضوء
4- Menghadirkan hati dan perhatian saat melakukan perbuatan, serta mentadaburi apa yang sedang dilakukan baik berupa perbuatan maupun perkataan. Sesungguhnya jika seseorang yakin dengan perbuatannya, memperhatikan perkataannya, dan mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah yang dituntut darinya, maka hal itu akan menjadi pendorong untuk tidak menuruti was-was. Jika was-was itu muncul, ia tidak terus-menerus mengikutinya karena ia berada di atas keyakinan akan urusannya.
-مثلاً- أن يتوضأ من إناء فيه قدر ما يكفي للوضوء بلا زيادة، ويجاهد نفسه أن يكتفي به، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ بأقل منه،
Contohnya dalam wudhu: seseorang berwudhu dari wadah yang berisi air sekadar cukup tanpa berlebihan, dan ia bersungguh-sungguh melawan dirinya agar mencukupkan diri dengannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berwudhu dengan air yang lebih sedikit dari itu.
وفي الصلاة يجتهد في متابعة الإمام حتى ولو خيل إليه أنه لم يأت الذكر المطلوب، وإذا قرأ الإمام ينصت له في الصلاة الجهرية وهكذا يحاول تدريب نفسه على هذه الحلول شيئا فشيئا،
Dalam shalat, ia hendaknya bersungguh-sungguh mengikuti imam meskipun terbayang seolah ia belum membaca dzikir yang diminta. Jika imam membaca, ia menyimaknya dalam shalat jahriyyah. Demikianlah ia mencoba melatih dirinya dengan solusi-solusi ini sedikit demi sedikit.
واعلم أن علاج نفسك يكون بقوة العزيمة منك وإصلاح نفسك لأنه مهما كتب لك من كلام لن تنتفع به إلا إذا أخذته وطبقته بقوة وعملت بما أرشدت إليه، لا بما يمليه عليك الشيطان.
Ketahuilah bahwa pengobatan diri Anda terletak pada kekuatan tekad Anda dan upaya memperbaiki diri; karena sebanyak apa pun tulisan yang diberikan, tidak akan bermanfaat kecuali jika Anda mengambil dan menerapkannya dengan kuat serta beramal sesuai petunjuk, bukan sesuai apa yang didiktekan setan kepada Anda.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
والوسواس يعرض لكل من توجه إلى الله تعالى بذكر أو غيره، فينبغي للعبد أن يثبت ويصبر ويلازم ما هو فيه من الذكر والصلاة، ولا يضجر، فإنه بملازمة ذلك ينصرف عنه كيد الشيطان،
“Was-was menimpa setiap orang yang menghadapkan diri kepada Allah Ta’ala dengan dzikir atau lainnya. Maka hendaknya seorang hamba tetap teguh, bersabar, dan konsisten dengan apa yang sedang ia lakukan berupa dzikir dan shalat, serta jangan merasa jemu (bosan). Karena dengan konsistensi tersebut, tipu daya setan akan menjauh darinya.
إن كيد الشطان كان ضعيفا، وكلما أراد العبد توجها إلى الله تعالى بقلبه جاء من الوساوس أمور أخرى، فإن الشيطان بمنزلة قاطع الطريق، كلما أراد العبد أن يسير إلى الله تعالى أراد قطع الطريق عليه، ولهذا قيل لبعض السلف: إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخرب.
Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. Setiap kali seorang hamba ingin menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala, was-was dalam perkara lain akan datang. Sebab setan itu ibarat perampok jalanan; setiap kali seorang hamba ingin berjalan menuju Allah Ta’ala, setan ingin memutus jalannya. Oleh karena itu dikatakan kepada sebagian ulama salaf: ‘Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani berkata: Kami tidak mengalami was-was.’ Maka ia menjawab: ‘Mereka benar, apa yang bisa dilakukan setan terhadap rumah yang sudah runtuh (hancur)?'”
Bersambung jawaban ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply