مذاهب الفقهاء في هيئة جلوس التشهد للرجل والمرأة
Madzhab-madzhab Ahli Fikih tentang Tata Cara Duduk Tasyahud bagi Laki-laki dan Perempuan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Madzhab-madzhab Ahli Fikih tentang Tata Cara Duduk Tasyahud bagi Laki-laki dan Perempuan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل كل الصفات التي يتحلى بها رسولنا محمد (ص) واجبة على الرجال وعلى النساء؟ وإن كانت على النساء أيضا هل يجوز للنساء أن تجلس في تشهد الصلوات جلسة الافتراش كما كان يفعل النبي صلى الله عليه وسلم؟
Apakah seluruh sifat yang dimiliki oleh Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib bagi laki-laki dan perempuan? Dan jika itu juga berlaku bagi perempuan, apakah boleh bagi perempuan untuk duduk dalam tasyahud shalat dengan posisi Iftirasy sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإن صفات النبي صلى الله عليه وسلم منها ما هو خَلْقي، ومنها ما هو خُلُقي، كما أسلفنا في الفتوى الأخرى هنا :
Sesungguhnya sifat-sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang bersifat khalkiyah (fisik) dan ada yang bersifat khulukiyah (akhlak), sebagaimana telah kami jelaskan dalam fatwa lain disini :
فما كان منها خَلقيا -بفتح الخاء- وهو ما يتعلق بصورته وخلقته وشكله وما وهبه الله سبحانه وتعالى من كمال الخلقة وتناسبها فهذا خارج عن نطاق التكليف.
Sifat yang bersifat khalkiyah —dengan huruf kha yang difathah— yaitu yang berkaitan dengan rupa, ciptaan, bentuk tubuh, serta apa yang Allah karuniakan kepadanya berupa kesempurnaan dan proporsionalitas fisik, maka ini berada di luar lingkup taklif (beban kewajiban syariat).
أما صفاته الخُلُقية وهي أخلاقه وآدابه فينبغي للمسلم أن يقتدي بها ما استطاع سواء في ذلك الرجل والمرأة؛ لأنه أسوة الجميع إلا فيما يخص الرجال دون النساء، فلا يشرع للمرأة أن تتشبه بالرجال اقتداء به صلى الله عليه وسلم، ولكن تقتدي به في العبادة والكرم والتواضع والحلم والشفقة وكثرة ذكر الله تعالى والابتعاد عن ما لا يرضي الله ورسوله وغير ذلك من الصفات الحميدة المشتركة بين الرجل والمرأة.
Adapun sifat-sifat khulukiyah-nya, yaitu akhlak dan adab beliau, maka sepantasnya bagi seorang Muslim untuk meneladaninya semampu mungkin, baik laki-laki maupun perempuan; karena beliau adalah teladan bagi semua orang, kecuali dalam hal-hal yang khusus bagi laki-laki dan bukan bagi perempuan. Maka tidak disyariatkan bagi perempuan untuk menyerupai laki-laki dengan dalih meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, ia meneladani beliau dalam hal ibadah, kedermawanan, kerendahhatian (tawadhu), kesantunan, kasih sayang, memperbanyak dzikir kepada Allah, menjauhi apa yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, serta sifat-sifat terpuji lainnya yang bersifat umum bagi laki-laki dan perempuan.
أما أفعاله صلى الله عليه وسلم فقد فصلنا فيها من حيث التأسي بها من عدمه في الفتوى الأخرى هنا
Mengenai perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah kami rincikan hukum tentang meneladaninya atau tidak dalam fatwa lain disini :
ولا فرق بين الرجل والمرأة في حكم التأسي به صلى الله عليه وسلم بما في ذلك صفة الصلاة إلا في بعض الهيئات المستحبات، منها: الافتراش في جلسة التشهد، على خلاف بين الفقهاء في ذلك،
Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hukum meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk dalam sifat shalat, kecuali pada beberapa haiah (posisi/tata cara) yang bersifat mustahab (dianjurkan). Di antaranya adalah posisi Iftirasy dalam duduk tasyahud, yang mana terdapat perbedaan pendapat di antara para fuqaha dalam hal tersebut.
فقد ذكر الفقهاء أنه يستحب للرجل أن يجافي بين بطنه وركبتيه وبين مرفقيه وإبطيه وبين رجليه في الركوع والسجود
Para fuqaha menyebutkan bahwa dianjurkan bagi laki-laki untuk merenggangkan (majafah) antara perut dan kedua lututnya, antara kedua siku dan ketiaknya, serta antara kedua kakinya saat rukuk dan sujud.
بخلاف المرأة فيستحب لها العكس وهو الانضمام في جميع ذلك لأنه أستر لها، قال النووي في المجموع في الفقه الشافعي: قَالَ الشَّافِعِيُّ رحمه الله فِي الْمُخْتَصَرِ: .
Berbeda dengan perempuan, ia dianjurkan melakukan sebaliknya, yaitu merapat/menguncupkan (inshimam) dalam semua itu karena hal tersebut lebih menutupi aurat baginya. Imam An-Nawawi berkata dalam al-Majmu’ (fikih Syafi’i): “Imam Syafi’i rahimahullah berkata dalam al-Mukhtashar:
وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فِي عَمَلِ الصَّلَاةِ، إلَّا أَنَّ الْمَرْأَةَ يُسْتَحَبُّ لَهَا أَنْ تَضُمَّ بَعْضَهَا إلَى بَعْضٍ، وَأَنْ تُلْصِقَ بَطْنَهَا بِفَخِذَيْهَا فِي السُّجُودِ كأَسْتَرِ مَا يَكُونُ، وَأُحِبُّ ذَلِكَ لَهَا فِي الرُّكُوعِ وَفِي جَمِيعِ الصَّلَاةِ، وَأَنْ تُكَثِّفَ جِلْبَابَهَا وَتُجَافِيهِ رَاكِعَةً وَسَاجِدَةً لِئَلَّا تَصِفَهَا ثِيَابُهَا، وَأَنْ تَخْفِضَ صَوْتَهَا. انتهى
Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam gerakan shalat, kecuali bahwa perempuan dianjurkan untuk merapatkan anggota tubuhnya satu sama lain, dan menempelkan perutnya ke kedua pahanya saat sujud agar lebih tertutup. Dan aku menyukai hal itu baginya saat rukuk dan dalam seluruh shalatnya, serta ia hendaknya mempertebal jilbabnya dan menjauhkannya (tidak terlalu ketat) saat rukuk dan sujud agar pakaiannya tidak membentuk lekuk tubuhnya, serta hendaknya ia merendahkan suaranya.” (Selesai).
وقال في التاج والإكليل، عند قول خليل في مختصره في الفقه المالكي:
Disebutkan dalam at-Taj wa al-Iklil, mengenai perkataan Khalil dalam Mukhtashar-nya (fikih Maliki):
(وَمُجَافَاةُ رَجُلٍ فِيهِ بَطْنَهُ فَخِذَيْهِ وَمَرْفِقَيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ) مِنْ فَضَائِلِ الصَّلَاةِ وَمُسْتَحَبَّاتهَا – أَنْ يُجَافِيَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ بِضَبْعَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَلَا يَضُمُّهُمَا وَلَا يَفْتَرِشُ ذِرَاعَيْهِ .
“(Dan merenggangkan perut dari paha, serta siku dari lutut bagi laki-laki)” merupakan bagian dari keutamaan dan kesunnahan shalat —hendaknya ia merenggangkan pangkal lengan dari sisi tubuhnya saat rukuk dan sujud, tidak merapatkannya, dan tidak menempelkan lengannya ke lantai.
قَالَ فِي الْمُدَوَّنَةِ: يَرْفَعُ بَطْنَهُ عَنْ فَخِذَيْهِ فِي سُجُودِهِ وَيُجَافِي ضَبْعَيْهِ تَفْرِيجًا مُقَارَبًا . وَاسْتَحَبَّ ابْنُ شَاسٍ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ .
Disebutkan dalam al-Mudawwanah: Ia mengangkat perutnya dari pahanya saat sujud dan merenggangkan pangkal lengannya dengan jarak yang proporsional. Ibnu Syas menganjurkan untuk memisahkan antara kedua lututnya.
وَمِنْ الرِّسَالَةِ: وَتُجَافِي بِضَبْعَيْك عَنْ جَنْبَيْك، ثُمَّ قَالَ: وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَتَكُونُ مُنْضَمَّةً مُنْزَوِيَةً.
Dalam ar-Risalah disebutkan: Dan renggangkanlah pangkal lenganmu dari sisi tubuhmu. Kemudian beliau berkata: Adapun perempuan, maka ia hendaknya merapat dan menguncup.”
هذا على مذهب مالك والشافعي وهو أنه لا فرق بين الرجل والمرأة في هيئة الجلوس في التشهد، ويرى الأحناف أن المرأة تتورك في الجلوس للتشهد بخلاف الرجل. أما الحنابلة فمذهبهم أنها تخير بين أن تجلس متربعة وبين أن تسدل رجليها وتجعلهما عن يمينها
Ini adalah menurut madzhab Malik dan Syafi’i, yaitu bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam posisi duduk tasyahud. Sedangkan penganut madzhab Hanafi berpendapat bahwa perempuan duduk secara Tawarruk saat duduk tasyahud, berbeda dengan laki-laki. Adapun madzhab Hanbali berpendapat bahwa perempuan diberikan pilihan antara duduk bersila (mutarabbi’ah) atau menjulurkan kedua kakinya ke samping kanan (sadl).
ففي الموسوعة الفقهية ما نصه:
Dalam Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan:
وَأَمَّا هَيْئَةُ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ فَالِافْتِرَاشُ لِلرَّجُلِ، وَالتَّوَرُّكُ لِلْمَرْأَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ سَوَاءٌ أَكَانَ فِي الْقَعْدَةِ الْأُولَى أَمْ الْأَخِيرَةِ . وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ هَيْئَةُ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ التَّوَرُّكُ . وَصَرَّحَ الشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّهُ لَا يَتَعَيَّنُ لِلْقُعُودِ هَيْئَةٌ لِلْإِجْزَاءِ، فَكَيْفَمَا قَعَدَ فِي جَلَسَاتِهِ أَجْزَأَهُ، لَكِنَّ السُّنَّةَ فِي جُلُوسِ آخِرِ الصَّلَاةِ التَّوَرُّكُ وَفِي أَثْنَائِهَا الِافْتِرَاشُ .
“Adapun haiah duduk dalam tasyahud, maka bagi laki-laki adalah Iftirasy, dan bagi perempuan adalah Tawarruk menurut Hanafiyah, baik pada duduk pertama maupun terakhir. Menurut Malikiyah, haiah duduk pada tasyahud akhir adalah Tawarruk. Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa tidak ditentukan posisi duduk tertentu agar dianggap sah; bagaimanapun cara ia duduk dalam shalatnya maka sudah sah. Akan tetapi, sunnahnya dalam duduk di akhir shalat adalah Tawarruk, dan di tengah shalat (tasyahud awal) adalah Iftirasy.”
وَيَرَى الْحَنَابِلَةُ أَنَّ هَيْئَةُ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ بِالنِّسْبَةِ لِلرَّجُلِ هِيَ الِافْتِرَاشُ، وَفِي الثَّانِي التَّوَرُّكُ . وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَلَهَا الْخِيَارُ فِي أَنْ تَجْلِسَ مُتَرَبِّعَةً، لِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ رضي الله عنه كَانَ يَأْمُرُ النِّسَاءَ أَنْ يَتَرَبَّعْنَ فِي الصَّلَاةِ، أَوْ أَنْ تَسْدُلَ رِجْلَيْهَا فَتَجْعَلَهُمَا فِي جَانِبِ يَمِينِها، وَالْمَنْصُوصُ عَنْ أَحْمَدَ: أَنَّ السَّدْلَ أَفْضَلُ، لِأَنَّهُ غَالِبُ فِعْلِ عَائِشَةَ رضي الله عنها، وَلِأَنَّهُ أَشْبَهَ بِجِلْسَةِ الرَّجُلِ . انتهى.
“Dan madzhab Hanbali berpendapat bahwa haiah duduk pada tasyahud pertama bagi laki-laki adalah Iftirasy, dan pada tasyahud kedua adalah Tawarruk. Adapun perempuan, ia memiliki pilihan untuk duduk bersila (mutarabbi’ah), karena Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dahulu memerintahkan kaum wanita untuk duduk bersila dalam shalat, atau menjulurkan kedua kakinya ke arah kanan. Dan pendapat yang dinashkan dari Imam Ahmad: bahwa menjulurkan kaki (sadl) adalah lebih utama, karena itulah yang sering dilakukan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan karena posisi itu lebih menyerupai posisi duduk laki-laki (saat sholat).” (Selesai).


وننبه الأخ السائل هنا إلى أنه لا تنبغي الإشارة إلى الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بـ(ص( أو صلعم بل إن ذلك غير مشروع كما تقدم في الفتوى الأخرى هنا
Kami mengingatkan penanya di sini bahwa tidak sepantasnya menyingkat shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tanda (ص) atau “صلعم” , bahkan hal tersebut tidak disyariatkan sebagaimana dijelaskan dalam fatwa lain disini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply