كيفية الجلوس للتشهد في صلاة الوتر
Tata Cara Duduk Tasyahhud dalam Shalat Witr
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tata Cara Duduk Tasyahhud dalam Shalat Witr ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
سؤالي عن كيفية الجلوس للتشهد في صلاة الوتر هل تكون كالصلاة الرباعية والثلاثية؟ أم تكون كالصلاة الثنائية؟.
Pertanyaan saya adalah tentang tata cara duduk tasyahhud dalam shalat Witr, apakah seperti shalat empat rakaat (rubai’iyyah) dan tiga rakaat (tsulatsiyyah)? Ataukah seperti shalat dua rakaat (tsuna’iyyah)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإنه يسن الافتراش في جلوس الوتر وغيره من الصلاة الثنائية على ما رجحه أكثر أهل العلم، سواء كانت فرضا أو نفلا، وفي التشهد الأول في الصلاة الرباعية والثلاثية، أما التورك فيسن في التشهد الأخير في الصلاة الرباعية، أو الثلاثية، كما سبق بيانه في الفتوى الأخرى هنا
Sesungguhnya disunnahkan duduk Iftirasy dalam duduk (tasyahhud) Witr dan shalat dua rakaat lainnya menurut pendapat yang dikuatkan oleh mayoritas ahli ilmu, baik itu shalat fardhu maupun sunnah, juga pada tasyahhud awal dalam shalat empat rakaat dan tiga rakaat. Adapun duduk Tawarruk disunnahkan pada tasyahhud akhir dalam shalat empat rakaat atau tiga rakaat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa lain disini :
ثم إن من أهل العلم من يستحب التورك في سائر جلوس الصلاة فرضا كانت، أو نفلا رباعية أم لا وهو مذهب مالك، ففي التاج والإكليل عند قول خليل: والجلوس كله بإفضاء اليسرى للأرض واليمنى عليها وإبهامها للأرض ـ من المدونة الجلوس ما بين السجدتين وفي التشهدين سواء يفضي بإليتيه إلى الأرض. انتهى.
Kemudian, di antara ahli ilmu ada yang mensunnahkan duduk Tawarruk pada seluruh posisi duduk dalam shalat, baik fardhu maupun sunnah, baik empat rakaat maupun tidak; ini adalah mazhab Malik. Disebutkan dalam kitab At-Taj wa Al-Iklil mengenai perkataan Khalil: “Dan seluruh posisi duduk adalah dengan menempelkan bagian kiri ke lantai dan kaki kanan di atasnya serta jempolnya menempel ke lantai —dari Al-Mudawwanah disebutkan bahwa duduk di antara dua sujud dan pada dua tasyahhud adalah sama, yaitu dengan menempelkan pantat ke lantai.” (Selesai).
ويرى الحنابلة أن المرأة تخير بين أن تجلس متربعة وبين أن تسدل رجليها وتجعلهما عن يمينها، لكن هذه الهيئات كلها مستحبة وكيفما جلس المصلي في الفرض والنافلة أجزأه، قال النووي في المجموع:
Ulama Hanabilah berpendapat bahwa seorang wanita diberikan pilihan antara duduk bersila (mutarabbi’ah) atau menjulurkan kedua kakinya dan meletakkannya di sebelah kanannya (sadl). Akan tetapi, seluruh haiah (posisi) ini hukumnya mustahab (dianjurkan), dan bagaimanapun posisi duduk orang yang shalat baik dalam shalat fardhu maupun sunnah maka hal itu sudah sah (memadai). Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’:
قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء، بل كيف وجد أجزأه سواء تورك، أو افترش، أو مد رجليه، أو نصب ركبتيه، أو أحدهما، أو غير ذلك، لكن السنة التورك في آخر الصلاة والافتراش فيما سواه. انتهى.
“Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) berkata bahwa tidak ditentukan suatu posisi duduk tertentu dalam tempat-tempat ini agar dianggap sah, melainkan posisi apa pun yang dilakukan maka itu memadai; baik ia duduk Tawarruk, Iftirasy, meluruskan kakinya, menegakkan lututnya, atau salah satunya, atau selain itu. Namun, sunnahnya adalah Tawarruk pada akhir shalat dan Iftirasy pada posisi lainnya.” (Selesai).
إذا تبين هذا فللسائلة أن تجلس في الوتر وغيره كيف شاءت، وللفائدة يراجع الفتوى الأخرى هنا
Jika hal ini sudah jelas, maka bagi penanya diperbolehkan duduk dalam shalat Witr atau lainnya sesuka hatinya. Untuk tambahan faedah silakan merujuk fatwa lain disini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb

Leave a Reply