Berbuka Puasa karena Mengira Matahari Telah Terbenam



حكم من أفطر ظانا غروب الشمس

Hukum Orang yang Berbuka Puasa karena Mengira Matahari Telah Terbenam

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Orang yang Berbuka Puasa karena Mengira Matahari Telah Terbenam ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

بعد رمضان كنت صائمة (الدين) سمعت أحدا من العائلة قال: إن المغرب تؤذن فأكلت ورقة من السلط وبعد ذلك قالوا: نحن غير متأكدين من سماع الأذان؛ لأنا نسكن بعيدا عن المسجد ولكنه ذلك الوقت وقت المغرب.

Setelah Ramadan, saya sedang berpuasa (qadha hutang puasa). Saya mendengar salah satu anggota keluarga berkata bahwa adzan Maghrib sudah berkumandang, lalu saya memakan selembar daun selada. Setelah itu, mereka berkata: “Kami tidak yakin apakah tadi benar-benar mendengar adzan,” karena kami tinggal jauh dari masjid, namun saat itu memang sudah masuk waktu Maghrib.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فأما بالنسبة للمسألة الثانية فقد اختلف العلماء فيمن أكل أو شرب ظاناً غروب الشمس ثم بان أنها لم تغرب، فالجمهور يلزمونه بالقضاء وظاهر كلام النووي والعز بن عبد السلام والزركشي والسيوطي وابن قدامة وكثير من المحققين من الحنفية والمالكية يرون رجحان هذا القول،

Adapun mengenai masalah kedua ini, para ulama berbeda pendapat tentang orang yang makan atau minum karena menyangka matahari telah terbenam, lalu ternyata jelas bahwa matahari belum terbenam. Mayoritas ulama (Jumhur) mewajibkan qadha atasnya. Lahiriah dari perkataan An-Nawawi, Al-Izz bin Abdissalam, Az-Zarkasyi, As-Suyuthi, Ibnu Qudamah, dan banyak peneliti dari kalangan Hanafi serta Maliki melihat kuatnya pendapat ini.

وذلك لأن الأصل البقاء على ما كان، وللقاعدة الفقهية: لا عبرة بالظن البين خطؤه، واختار شيخ الإسلام ابن تيمية وبعض من المحققين أن القضاء لا يلزمه لقوله تعالى: 

Hal tersebut dikarenakan hukum asalnya adalah tetap pada keadaan semula (yakni tetap siang sampai terbukti sebaliknya), dan berdasarkan kaidah fikih: “Tidak ada pertimbangan bagi persangkaan yang jelas keliru.” Sementara itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa peneliti memilih pendapat bahwa qadha tidak wajib baginya berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قلوبكم وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا {الأحزاب 5}

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya ialah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” {Al-Ahzab: 5}.

وأما من لم يتبين له شيء فلا قضاء عليه كما نص عليه كثير من أهل العلم، وعليه فلا يلزمكِ قضاء ذلك اليوم ولأنه لم يتبين لكِ بقاء النهار. 

Adapun bagi orang yang tidak menjadi jelas baginya sesuatu pun (yakni tetap dalam ketidakpastian apakah matahari sudah terbenam atau belum saat ia makan), maka tidak ada kewajiban qadha baginya sebagaimana ditegaskan oleh banyak ahli ilmu. Berdasarkan hal ini, Anda tidak wajib meng-qadha hari tersebut karena tidak terbukti bagi Anda bahwa waktu siang masih berlangsung (saat Anda makan).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.