Adzan Sebelum Maghrib Hingga Jamaah Berbuka



أذن قبل الغروب فأفطر جماعة فما حكمه وحكمهم

Adzan Sebelum Maghrib Hingga Jamaah Berbuka: Apa Hukum Muadzin dan Mereka yang Berbuka?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Adzan Sebelum Maghrib Hingga Jamaah Berbuka: Apa Hukum Muadzin dan Mereka yang Berbuka? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

أذن مؤذن المنطقة التي أسكن بها قبل موعد غروب الشمس بست دقائق خطأ وقد أفطر عدد من المسلمين ممن كانوا داخل البيت ولم يروا أن الشمس لم تغب، وهرع أحد الصائمين وأبلغ المؤذن فقطع الأذان إلا أن الذين أفطروا عند سماعهم الأذان أكملوا إفطارهم ظناً منهم بأن الكهرباء انقطعت مما أدى إلى انقطاع الأذان، وبعد ست دقائق أذن المؤذن مرة أخرى، فما حكم من أفطر وأكمل إفطاره، ما الحكم من أفطر ثم أمسك عند تنبيهه، وما حكم المؤذن، فأفتونا؟ جزاكم الله خيراً.

Muadzin di daerah tempat tinggal saya salah mengumandangkan adzan enam menit sebelum waktu matahari terbenam. Sejumlah Muslim yang berada di dalam rumah dan tidak melihat bahwa matahari belum terbenam pun berbuka puasa. Seseorang kemudian bergegas memberitahu muadzin sehingga adzan dihentikan, namun mereka yang sudah berbuka saat mendengar adzan justru melanjutkan makan karena mengira adzan terhenti akibat mati lampu. Enam menit kemudian, muadzin mengumandangkan adzan kembali. Apa hukum bagi mereka yang berbuka dan melanjutkan makannya? Apa hukum bagi mereka yang berbuka lalu langsung menahan diri (imsak) saat diperingatkan? Dan apa hukum bagi muadzin tersebut? Mohon fatwanya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فإن كان هذا المؤذن قد قصر في تحري غروب الشمس ولم يأخذ بالأسباب المؤدية إلى ضبط الوقت ضبطاً تاماً فقد أثم بذلك، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: 

Jika muadzin tersebut lalai dalam meneliti waktu terbenamnya matahari dan tidak melakukan upaya yang semestinya untuk memastikan ketepatan waktu, maka ia berdosa karena hal tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والمؤذن مؤتمن. رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه، وقال الحاكم صحيح على شرط مسلم.. 

“Dan muadzin adalah orang yang dipercayai (pemegang amanah).” (Hadits Riwayat Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Al-Hakim menyatakannya shahih sesuai syarat Muslim).

فإذا قصر في حفظ الأمانة ورعايتها فإنه لم يقم بما أوجب الله عليه.

Jika ia lalai dalam menjaga amanah tersebut, maka ia belum menunaikan apa yang diwajibkan Allah atasnya.

وأما إذا كان هذا المؤذن قد أخطأ في إصابة الوقت مع بذل الوسع في إصابته فلا إثم عليه وخطؤه مغفور.

Adapun jika muadzin tersebut melakukan kesalahan waktu padahal ia telah mengerahkan kemampuannya untuk tepat, maka tidak ada dosa baginya dan kesalahannya dimaafkan.

وأما بالنسبة لمن أفطر بأذانه الأول سواء في ذلك من أكل يسيراً ثم أمسك، ومن تمادى في الأكل ظناً منه أن الكهرباء قد انقطعت فحكمهم حكم من أفطر وقد غلب على ظنه أن الشمس قد غربت ثم بان له أنها لم تغرب، فمذهب الجمهور وهو قول الأئمة الأربعة وجوب القضاء، وهو رواية عن أمير المؤمنين عمر رضي الله عنه،

Sedangkan bagi mereka yang berbuka karena adzan pertama tersebut —baik yang hanya makan sedikit lalu menahan diri (imsak), maupun yang terus melanjutkan makan karena mengira listrik padam— hukum mereka adalah hukum orang yang berbuka karena persangkaan kuat bahwa matahari telah terbenam namun ternyata terbukti belum terbenam. Madzhab Jumhur (mayoritas), yang merupakan pendapat Imam Empat, mewajibkan qadha (mengganti puasa). Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Amirul Mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu.

واختار شيخ الإسلام عدم وجوب القضاء وهو قول أهل الظاهر وطائفة من السلف ورواية عن عمر رضي الله عنه، فإنه قال حين أفطروا في يوم غيم ثم طلعت الشمس 

Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) memilih pendapat tidak wajibnya qadha, yang juga merupakan pendapat Ahluz Zhahir, sekelompok ulama Salaf, dan riwayat lain dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau (Umar) pernah berkata ketika orang-orang berbuka pada hari yang mendung lalu matahari muncul kembali:

ولِمَ نقضي ولم نتجانف لإثم، 

“Mengapa kita harus meng-qadha padahal kita tidak sengaja berbuat dosa?”

واستدل الشيخ بما في البخاري من حديث أسماء: أنهم أفطروا زمن النبي صلى الله عليه وسلم في يوم غيم ثم طلعت الشمس، فقيل لعروة وهل قضوا ذلك اليوم، فقال: بُدٌ من قضاء، 

Syaikhul Islam berdalil dengan hadits dalam Al-Bukhari dari Asma’: Bahwa mereka pernah berbuka di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari mendung lalu matahari muncul kembali. Ketika ditanyakan kepada Urwah apakah mereka meng-qadha hari itu, ia menjawab: “Harus di-qadha.”

فعروة لم يرفع الأمر بالقضاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم بل قاله باجتهاده ولو كان محفوظاً لنقل كما نقلت القصة،

Urwah tidak menyandarkan perintah qadha tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan mengucapkannya berdasarkan ijtihadnya sendiri; seandainya perintah qadha itu ada (dari Nabi), tentu akan diriwayatkan sebagaimana kisahnya diriwayatkan.

وأيضاً فإن هذا مخطيء، والمخطيء كالناسي في رفع الإثم، قد قال تعالى: 

Selain itu, orang ini adalah orang yang berbuat salah (tidak sengaja), dan orang yang bersalah kedudukannya sama dengan orang yang lupa dalam hal diangkatnya dosa. Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا. 

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.”

وقال في جوابها: قد فعلت. رواه مسلم. 

Dan Allah menjawab: “Telah Aku lakukan.” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

وهذا القول وجيه جداً، ولكننا نقول كما قال عمر رضي الله عنه في الرواية الأخرى عنه والدالة على القضاء (الأمر يسير) أي أن أمر القضاء يسير ليس فيه مشقة كبيرة،

Pendapat ini sangat kuat (wajih), namun kami mengatakan sebagaimana yang dikatakan Umar radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat lain yang menunjukkan kewajiban qadha: “Perkaranya mudah,” yakni urusan meng-qadha itu ringan dan tidak memiliki masyaqqah (kesulitan) yang besar.

وعليه فالذي ننصح به هو أن يقضي كل من أفطر قبل تبين غروب الشمس ذلك اليوم، إذ الأمر يسير كما قال عمر رضي الله عنه فضلاً عن أن قول الجمهور ومنهم الأئمة الأربعة وجوب القضاء. 

Oleh karena itu, kami menasihatkan agar setiap orang yang berbuka sebelum jelas terbenamnya matahari pada hari itu untuk meng-qadha, karena perkaranya mudah sebagaimana dikatakan Umar radhiyallahu ‘anhu, terlebih lagi karena pendapat Jumhur termasuk Imam Empat mewajibkan qadha.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.