Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 100
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 100 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

lainnya dalam masyarakat tradisional Jawa, karena fungsi sosial upacara keagamaan hanyalah sekadar memberikan generalisasi dan ikhtisar yang bisa dimengerti atas praktik-praktik sosial yang disepakati, dalam bentuk simbolik. Akan tetapi, dalam apa yang bisa disebut sebagai aspek materialnya—cara bagaimana makanan, hiburan dan kekuatan spiritual yang digerakkannya itu diatur, dibiayai dan dinikmati—upacara itu memberikan contoh jelas tentang bentuk-bentuk kewajiban dalam praktik yang berlaku. Dari sisi konsumsi, aspek sekuler perkawinan dan khitanan biasanya agak terpisah dari aspek-aspek religiusnya. Upacaranya sendiri seringkali diadakan pada waktu pagi dan orang mengundang tetangga dekatnya saja (ditambah, dalam hal perkawinan, teman-teman dekat dan sanak-keluarga). Hidangan slametan yang ada adalah yang biasa...dan ketika saatnya tiba, anak yang paling besar pergi mengunjungi para tetangga untuk mengundang mereka. Keluarga Pak Setro—orang kota tulen yang tinggal di pusat kota Mojokuto—malahan tidak tahu nama beberapa tetangga itu. Saya bertanya kepada Pak Setro mengapa ia tidak mengundang teman-teman yang dikenalnya saja daripada para tetangga yang tak begitu dikenalnya itu. Ia menjawab: "Kalau misalnya sebuah kesulitan terjadi, Anda tidak akan pergi jauh-jauh untuk mencari teman-teman Anda, Anda akan minta bantuan tetangga sebelah. Karena itu kalau Anda mengadakan slametan, Anda mengundang tetangga agar bisa memupuk hubungan persahabatan dengannya, sehingga kalau Anda tertimpa kesulitan, para tetangga itu akan menolong Anda”. Tetapi, di malam hari, ketika pesta sekuler diselenggarakan serta hiburan dipertunjukkan, orang mengundang tamu sebanyak yang dikehendakinya dan bisa ditanggungnya. Mengunjungi resepsi perkawinan keluarga Sosro tadi malam. Agak meriah—dilayani oleh toko roti Cina, Kiet, dengan hidangan yang beragam, termasuk sejenis kentang dan daging dari Barat. Hampir setiap orang ada di sana dan mereka ini dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Laki-laki dibagi dalam kurang lebih lima ruangan sendiri-sendiri (perempuan seperti biasanya berada di dalam rumah, tempat kedua mempelai bersanding). Semua priyayi tinggi, sekitar selusin dan diketuai oleh Camat, duduk di pojok baratdaya, di tempat duduk yang paling baik. 'Semua santri (dari kedua partai politik Islam yang utama) datang hampir secara serempak dan duduk di pojok tenggara. Jadi, penari-penari Jawa


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 100 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi