Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 114
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 114 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Sesudah memandikan, mereka yang memandikan membasuh tangan dan kaki dengan sisa air yang ada. Semua lubang pada tubuh ditutup dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam minyak wangi. Tubuhnya dibungkus kain putih yang diikat di tiga tempat (pinggang, kaki dan ujung kepala) oleh modin. Lalu, sekitar setengah lusin santri mulai membaca Al Gur'an di bawah pimpinannya. Pembacaan itu berlangsung di dekat si mayat, yang sudah ditempatkan di ruangan tengah selama lima sampai 10 menit. Kemudian jenazah diletakkan ke dalam usungan bambu yang ditutup dengan beberapa helai kain baru ditambah untaian bunga yang diletakkan melintang di atasnya. Kain ini tidak dikuburkan bersama jenazah, salahsatu gurauan penguburan adalah menawar harga kain itu kepada yang membawanya pulang seolah-olah ia sedang menjajakannya di sepanjang jalan. Usungan dibawa ke halaman di mana keturunannya (biasanya anak- anaknya) akan bolak-balik membungkuk di bawahnya sebanyak tiga kali untuk melambangkan bahwa mereka ikhlas—bahwa perasaan mereka telah ditenangkan, dibuat biasa hingga tingkat yang sungguh-sungguh lepas bahwa mereka tidak lagi merasakan penderitaan kejiwaan karena kepergian almarhum dan bahwa hati mereka telah bebas. Kemudian, uang receh sekadarnya dibagi-bagikan dalam bungkus kertas kepada setiap orang yang hadir di pemakaman itu untuk melambangkan ide yang sama: sebagaimana mereka tidak menyesal melepaskan uang mereka, mereka bisa melepas almarhum tanpa perasaan yang melekat padanya (kadang-kadang, tetapi tidak selalu, para tamu memperoleh sepiring nasi dibungkus daun pisang pada saat ini dan tidak diberi uang tecehan, karena yang ini sudah dianggap sebagai gantinya). Sebuah kendi penuh air dilemparkan dan pecah di tanah, juga untuk melambangkan keikhlasan. Usungan itu pun mulai bergerak ke makam, dipikul oleh kaum pria, ementara kaum perempuan tinggal di rumah, menaburkan garam agar jiwa almarhum tidak pulang lagi dan mengganggu mereka. (Anak-anak, kecuali anak almarhum, dilarang mendekati upacara ini, karena mereka amat mudah dimasuki roh-roh). Karena selalu ada kuburan dalam jarak satu kilometer, maka iring- iringan pemakaman itu tidak berlangsung lama. Di depan iring-iringan itu berjalan beberapa pria membawa nisan kayu buatan sendiri— berbentuk runcing untuk laki-laki, rata atau bulat untuk perempuan— yang biasanya hanya ditandai dengan nama almarhum berikut tanggal kematiannya. Mereka diikuti oleh orang-orang yang membawa papan


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 114 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi