Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
beberapa orang berpendapat bahwa umur orang akan bertambah kalau ia bertingkahlaku sesuai dengan etika. Sementara, orang lain lagi (atau kadang-kadang juga orang yang sama—cocok tidaknya logika dari dua kepercayaan yang berlainan biasanya tidak merupakan masalah yang serius bagi kalangan abangan) berpendapat bahwa kematian yang prematur mungkin merupakan hasil dari kecelakaan hebat, tenung, berkawan dengan makhluk halus yang jahat, mengucapkan sumpah palsu, perjalanan hidup yang terlalu cepat, kekecewaan hati yang terus-menerus dan berkepanjangan, atau semacam luka berat yang mendadak. Tetapi mungkin alasan kognitif utama yang menyebabkan orang Jawa tampak tidak begitu takut terhadap kematian, seperti orang lain, adalah penghargaan mereka yang begitu tinggi terhadap kemampuan untuk memiliki perasaan dan pikiran yang kosong, pengendalian diri atas kemauan. Ta berbicara sedikit tentang sikapnya terhadap kematian. Kematian ditentukan secara mutlak oleh Tuhan. Karenanya, tidak ada gunanya mencemaskan hal itu dan tidak berguna pula menyesali. Bahwa menurut pendapatnya, Tuhan memberi kesempatan kepada mereka agar mengerti. Ia tertawa dan berkata, “Ya, Anda sering melihat orang tua yang sudah bongkok dan senang berbuat dosa”. la mengatakan bahwa barangkali Tuhan membiarkan mereka hidup dengan harapan bahwa akhirnya mereka akan melihat cahaya, sementara orang-orang muda yang saleh bagaimanapun juga sudah baik keadaannya dan karenanya, tidak apa kalau mati muda. Ini malah merupakan semacam imbalan, karena mati baginya membawa kebaikan. Ia berbicara dengan gembira, tidak dengan nada pedih (weltschmerz). Saya bertanya, mengapa ia berpendapat begitu dan katanya, “Ya, kalau Anda sudah mati, Anda tak perlu apa- apa lagi. Anda tak perlu mobil, tak perlu uang, tak butuh isteri, Anda tak punya keinginan lagi. Seperti Tuhan tidak butuh uang, isteri atau mobil bukan? Jadi menyenangkanlah kalau orang tak perlu apa-apa lagi dan sesudah Anda meninggal, itulah yang terjadi”. Kata saya, “Ya, kalau mati itu begitu menyenangkan, mengapa orang tidak bunuh diri saja?" Ia tersinggung dengan pertanyaan ini dan mengatakan, “Itu pasti salah, karena kematian seperti itu berasal dari kemauan Anda sendiri. Adalah urusan Tuhan untuk memutuskan kapan Anda harus mati, bukan Anda yang membuat keputusan. Bunuh diri merupakan kesalahan, karena dengan begitu, Anda mencoba mengambil apa yang selayaknya menjadi urusan Tuhan”. Tetapi, a berkata bahwa ia siap untuk mati kapan saja (ia berusia sekitar 70 tahun). la berpendapat bahwa adalah hal yang