Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dukun yang satu dengan yang lain), metode pengobatan mekanik (pijat, menggosok kulit dengan kaca, memulihkan letak tulang) dan berbagai teknik khusus seperti memasukkan jarum emas ke bawah kulit atau memberi air raksa untuk ditelan. Farmakope obat tumbuh- tumbuhan sangat besar jumlahnya dan terperinci. Karena tentang itu sudah ada satu laporan yang panjang lebar,? maka tak perlu lagi diuraikan di sini kecuali sekadar catatan bahwa di wilayah Mojokuto, tumbuhan obat yang paling umum digunakan adalah kunir (Curcuma longa), kencur (Kaempferia galanga), kemiri (Aleurites triloba), jahe (Zingiber officinale), lombok (cabe, Capscium annuum) dan laos (Alpinia galanga). Tumbuh-tumbuhan ini ditanam di kebun di dekat rumah atau bisa juga dibeli di warung-warung obat Cina. Semua ini dan ratusan lainnya digunakan hampir untuk apa saja, baik untuk obat luar maupun obat dalam. Kunir agaknya merupakan obat pencahar yang paling umum. Kencur seringkali digunakan untuk mengobati perut. Jahe umumnya digunakan sebagai salep untuk encok dan kepala pusing. Namun, semua informan mengatakan bahwa obat apa yang harus kita Sunakan tergantung kepada apa yang “cocok" untuk kita dan kalau yang satu tidak cocok, kita coba yang lain. “Dokter-dokter hanya punya dua obat—pil dan suntikan, orang Jawa punya ribuan”. Bilamana seseorang pergi ke seorang dukun, ia akan memperoleh bukan hanya obat tumbuhan, tetapi juga mantera yang dilekatkan kepadanya. Dukun memegang obat tumbuhan itu di tangannya dan membaca mantera di atasnya—dalam bahasa Arab kalau dukun itu santri, dalam bahasa Jawa kalau ia seorang abangan—kemudian meludahinya atau meniupnya ketika mengobati seorang anak yang berpenyakit cacingan. Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang! “Wahai roh nenek”, (dukun itu memanggil roh-roh), “Wahai roh kakek, ke mana kalian pergi?" “Ke gunung Purwosejati" Gawab mereka). “Apa yang kalian cari?" “Kami mencari lempuyang (dringo) dan bawang”. “Kenapa, untuk apa saja!” “Kami akan mengobati bayi kecil ini”. Cacing-cacing yang membahayakan—semoga mati semuanya. Cacing-cacing yang baik—biarlah mereka tinggal sepanjang umur anak ini.