Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
yang belum pasti hasilnya, sifat kebetulan yang esensial pada proses pengobatan itu, dimana terkandung kemungkinan bahwa harapan orang untuk sembuh bisa saja tidak terpenuhi. Yang kedua adalah sejauh ma- na dukun itu boleh terlibat dalam kehidupan pribadi si pasien dan ke- harusannya, dari sudutpandang si dukun, untuk keperluan penanganan masalahnya dengan hati-hati. Dan yang terakhir adalah sifat kemenduaan dari kemampuan si dukun, karena mengadakan hubungan baik dengan “Tuhan maupun setan, bisa menyebabkan orang sakit atau sembuh, baik dengan menggunakan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan maupun perjanjian-perjanjian yang tak jelas dengan makhluk-makhluk halus yang kurang mulia—ndukuni dapat berarti mengobati orang dari suatu penyakit atau menyihir orang agar jadi sakit. Satu segi dari kualitas hubungan antara dukun dan kliennya dapat dilihat dari kenyataan bahwa istilah pengganti yang utama untuk dukun adalah tiyang sepuh, yang berarti (dalam bahasa Jawa halus) “orang tua”: bahwa sang klien biasanya mengatakan “minta restu” (nuwun pangestu) dari dukun: sang klien sering dianggap sedang meminta “nasihat" dan “petuah yang baik” dari sang dukun, “sebagaimana orang berlaku kepada orangtuanya”. Saya bertanya kepadanya, kepada siapa ia akan minta tolong kalau menghadapi masalah yang berat. Perempuan itu bertanya kepada saya, masalah seperti apa misalnya dan saya menjawab, itu terserah diai maka katanya, ia akan pergi kepada seseorang yang “dianggapnya" sebagai seorang ayah, seperti dukun di desa sebelah. Sebelumnya, mereka biasa pergi kepada seorang dukun di dekat kota Bragang, tetapi orang ini sekarang sudah mati. Suatu saat, ketika ia sakit keras, Pak Wiryo pergi ke dukun Bragang itu, “minta maaf" dan menceritakan kepadanya tentang penyakit itu. Ia diberi sedikit gula yang telah diberikan do'a oleh dukun itu (ia melukiskan itu dengan menggenggam sejumput gula di hadapannya dan memejamkan ilmunya untuk sesaat). Dukun itu menyuruh Pak Wiryo memberikan gula itu kepadanya untuk dimakan. Ini dilakukan walaupun mereka telah pergi ke dokter. Demikian juga, kalau ia menghadapi kesulitan keuangan—seperti ketika ia mengadakan pertunjukan wayang kulit dan meminjam uang kepada seorang Cina untuk keperluan itu (itu terjadi sebelum perang). Ketika tiba saat untuk mengembalikan, ia tidak punya uang dan orang Cina itu tidak mau lagi memperpanjang tenggang waktunya. Ia menuntut dibayar seketika, karenanya perempuan itu menghadapi kesulitan besar. Ia pergi ke dukun itu untuk “meminta restu”.