Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dengan obatnya yang berharga hanya satu rupiah. Ia mendemonstrasikan obatnya, sebuah kristal yang mendesis di air, kemudian menjual selusin bungkus atau lebih, lalu mengepak barang-barangnya dan pergi. Tiga dokters dan dua rumah sakit di kota kecil Mojokuto tentu tidak biasanya di Jawa. Itu lebih merupakan hasil kebetulan dari tiga keadaan. Satu dari dua rumah sakit utama di Jawa Timur milik Handelsvereniging Amsterdam (HVA), sebuah perusahaan perkebunan raksasa Belanda sebelum perang, kebetulan terletak di Mojokuto dan bukan di Bragang, ibukota wilayah itu, sebagaimana seharusnya. Seorang yang semula adalah dokter pemerintah sekarang sudah melampaui usia pensiun dan sudah diganti dari rumah sakit itu sendiri oleh seorang dokter yang didatangkan dari Australia. Akan tetapi, karena kurangnya dokter di Indonesia, dokter tua itu masih terus berkeliling ke daerah pedesaan memimpin beberapa klinik dan masih membuka praktik sendiri di kota itu. Akibatnya, Mojokuto menjadi semacam pusat medis. Akan tetapi, untuk kebanyakan kalangan abangan, hal ini tidak bisa ikatakan penting bagi hidup mereka, selain dari memberi mereka pekerjaan sebagai tukang cuci, tukang jaga, tukang kebun atau sopir mobil ambulans. Hanya sedikit orang yang berkedudukan tinggi dan agak kaya yang datang ke rumah sakit HVA, kecuali jika mereka kebetulan menjadi pegawai perusahaan itu, karena ongkos untuk pasien yang bukan pegawai perusahaan itu terlalu tinggi. Rumah sakit pemerintah menyelenggarakan klinik harian dengan ongkos rata-rata setengah rupiah dan kebanyakan orang di kota itu (relatif sedikit yang berasal dari luar kota) pergi ke rumah sakit itu setiap hari. Namun, perbandingan antara pasien serta dokter adalah sedemikian besarnya dan sumber keuangan kebanyakan orang untuk membiayai perawatan medis yang meminta waktu lama demikian terbatasnya, sehingga hanya perawatan minimal sajalah yang mungkin diberikan. Akibatnya, kontak utama kebanyakan orang dengan rumah sakit dan pengobatan ilmiah yang rasional hanyalah melalui perawat-perawat pria yang disebut mantri. Dididik secara umum untuk pekerjaan laboratorium atau farmasi, para mantri secara hukum dilarang memberikan pengobatan, tetapi nyatanya, mereka melakukan halitu secara cukup bebas. Bagi kebanyakan orang, pergi ke mantri merupakan pengganti atau pelengkap dari pergi ke dukun, sehingga para mantri memikul beban pengobatan dalam jumlah