Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 183
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 183 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

dan berasal dari Mojokuto, mengenakan setelan jas abu-abu yang mencolok, sepatu dua warna serta sehelai dasi dengan warna yang menan- tang, melangkah tegak pada kesempatan ini untuk memimpin kami menyanyikan Indonesia Raya (lagu kebangsaan Indonesia) dan beberapa kali meneriakkan semboyan “Merdeka” (semboyan revolusi Indonesia). Min kemudian menyampaikan empat halaman “pesan khusus” dari markas besar partai di Jakarta.Isinya ternyata bukan mengenai soal- soal politik, tetapi mengenai persoalan keagamaan. Karena pesan itu menggunakan bahasa Indonesia dan saya membayangkan hanya sedikit saja yang mengerti, maka sisa pertemuan itu banyak digunakan untuk menjelaskan teks itu dalam bahasa Jawa. Pembicara pertama yang mencoba melakukan ini adalah seorang muda yang berpakaian gaya tradisional—lengkap dengan blangkon, jaket lurik bergaris hitam dan cokelat serta kain batik tulis. Ia tampak seperti sebuah gambar dalam buku etnografi. Sangat gugup dan malu-malu, ia berbicara dalam gumam yang mekanik serta terus-menerus meminta bimbingan dari kedua sisi. Ia menjelaskan arti bulan-bulan Jawa sebagaimana dirumuskan dalam teks itu. Misalnya, “Sura (nama bulan pertama) berarti berani. Karenanya, kita harus berani berbuat benar”. Ia meneruskan dengan cara 'yang sama tentang alfabet Jawa, setiap huruf mengawali satu kalimat tentang instruksi moral—seperti “A berarti Akan selalu membasuh muka sebelum makan”" dalam buku dasar yang lama. Dalam kedua kasus itu, kalimat asli dalam teks pertama-tama dikutip dalam bahasa Jawa Kuno, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan anak itu menegaskan bahwa kalimat itu adalah kalimat yang benar- benar ditulis di zaman dahulu kala oleh nenekmoyang para hadirin. Karenanya, hal itu mencerminkan kebijaksanaan orang-orang 2zaman dulu. Ia mengatakan bahwa hikmah ini telah dilalaikan orang, tidak, hal itu telah dilarang pada masa penjajahan, tetapi sekarang diajarkan kembali dalam Permai. Ia mengatakan bahwa hikmah kebijaksanaan ini masih berguna sekarang sebagai “kompas” dan kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Seorang yang lebih tua menggantikan dia bicara, menjelaskan sistem petungan yang ruwet yang juga tertera dalam teks asli, tetapi yang demikian rumitnya, sehingga saya hanya mengerti sedikit saja dalam kedua bahasa itu. Berikutnya datang seorang berbadan kecil yang melompat dari tempat hadirin dan menempatkan dirinya di belakang corong dengan segala hasil kebun yang ditaruh di sana. Ia mengucapkan pidato yang sangat panjang, cerdik (dan jelas sangat lucu, karena ia bisa membuat hadirin tergelak-gelak, walaupun kebanyakan lelucon itu tidak saya mengerti) dan tampaknya tanpa persiapan terlebih dahulu. Ia menimang-nimang setiap buah serta sayur-sayuran secara bergilir dan menyampaikan khotbah moral politik tentangnya. “Lihat”, katanya, “pada tangkainya”, sambil mengangkat setandan pisang. “Beginilah caranya kita harus bergandengan bersama


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 183 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi