Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
juga berkeliling ke desa-desa, menyebarkan propaganda Jepang, sama seperti beberapa tahun yang lalu, ketika mereka menyiarkan dakwah Islam, tetapi sekarang pesan mereka menunjukkan keseragaman yang lebih besar. Terlepas dari usaha-usaha demikian, penipuan itu, khususnya sesudah Jepang memerintah sekitar satu atau dua tahun dan orang Jawa mulai bisa melihat apa sebenarnya “kemakmuran bersama" itu, hanya berhasil sampai di kulit saja bagi kebanyakan massa santri. Mereka melihat perjalanan para pemimpin mereka dengan rasa humor dan berkat kepekaan seorang petani terhadap realitas motivasi manusia, tindakan para pemimpin mereka itu lebih didasarkan pada maksud- maksud materialistik daripada ideologi: Mereka (tiga santri muda) mengatakan bahwa Haji Zakir (pembantu Naziri Nazir sendiri bersama dengan beberapa pembantu utamanya pada 'saat itu bertugas dalam “Dewan Pemerintah Daerah” boneka di Kantor Kabupaten) adalah salah seorang yang dikirim ke Jakarta sebagai kiai dan “ahli agama" untuk mengikuti kursus propaganda serta kemudian ditugaskan berkeliling ke desa-desa (orang ini, seorang yang buta huruf, bukanlah seorang kiai, tetapi ia adalah seorang santri yang bersemangat dan pemimpin politik Islam tingkat menengah di Mojokuto). Kata mereka, pemerintah Jepang bahkan memberinya baju seragam khususi pada umumnya, Jepang memang “mengangkat" kalangan santri di atas penduduk lainnya dan lebih menyukai mereka, serta mencoba menggunakan mereka sebagai agen kebijakan mereka yang terbukti berhasil baik. Mereka dipanggil ke Jakarta untuk dilatih atau dikirim ke Bragang (sebagai sukarelawan) untuk menjadi kamikaze, di mana mereka belajar bagaimana menjadi “berani mati" selama sebulan dan diberi pakaian serta makanan. Talkah (salah seorang informan saya) menganggap hal itu agak lucu. Ternyata kebanyakan orang beranggapan demikian juga pada masa itu. Mungkin juga mereka yang pergi dan ikut serta dalam latihan beranggapan sama, karena tak seorang pun menganggap mereka benar-benar “berani mati" dan mereka pun tak membuktikan hal itu dalam revolusi di kemudian hari. Ini hanyalah sebuah cara cepat untuk memperoleh izin—misalnya, untuk membeli dan menjual barang atau untuk bepergian. Hal itu merupakan “mata uang" yang sebenarnya di masa pendudukan Jepang serta merupakan hal yang benar-benar diperlukan kalau orang mau maju dalam ekonomi. Jepang memang menyuap dengan Surat-surat izin. Kata mereka, zaman Jepang adalah 2aman yang paling sulit. Rakyat makan daun-daunan dan hampir tidak bisa berpakaian—tetapi zaman itu sekaligus sangat lucu. Menjawab pertanyaan saya, mereka sependapat bahwa politik Jepang