Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Latarbelakang Ideologi Walaupun kemajuan gerakan pembaruan tertahan, setidaknya untuk sementara, hasil dari fase pertamanya dapat disaksikan secara jelas di Mojokuto. Kaum konservatif sudah mengadopsi beberapa hiasan keluar kaum modernis: kaum modernis sudah kurang intens dalam mengkritik praktik-praktik konservatif yang mereka anggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Namun, perbedaan doktrin di antara kedua kelompok itu tetap berlangsung dan antagonisme sampai tingkat tertentu terus saja tampak di antara mereka. Dengan munculnya partai- partai sejak revolusi, maka secara kasar umat dibuat stabil dalam bentuk yang telah dicapainya ketika Jepang datang. Bentuk itu mencakup baik modernisme yang kebanyakan tujuan asalnya sudah tercapai atau dikesampingkan karena dianggap tak mungkin dicapai, maupun konservatisme yang sebagian besar merupakan anggur tua dalam botol baru. Masing-masing agak bermusuhan dengan yang lain dan keduanya sedikit banyak membagi masyarakat Islam ke dalam dua golongan. Tiga salinan dari catatan saya ini mungkin bisa menggambarkan suasana itu dalam masalah doktrin: (2). Ia(Sekretaris Muhammadiyah) mengatakan bahwa Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi di Indonesia yang memiliki bangunan paling banyak, melakukan pekerjaan paling banyak dan sebagainya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki banyak poliklinik di banyak kota besar serta banyak panti asuhan, sekolah dan sebagainya, seperti halnya di sini, di Mojokuto. Ia mengatakan bahwa hanya ada 40 anggota di Mojokuto, tetapi mereka sangat erat satu sama lain, bekerjasama dengan baik sekali dan karenanya, memperoleh hasil yang terbaik dibandingkan dengan berbagai kelompok lain. Ia mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak mau