Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 13 Pola Organisasi Internal Komunitas Santri Ada dua partai politik besar kaum santri di Mojokuto, Masyumi dan Nahdatul Ulama (NU): satu partai kecil, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII): serta satu organisasi sosial yang berkenaan dengan pendidikan danberbagai kegiatan amal yang mengklaim tidak politis, tetapi yang pada kenyataannya terjalin rapat dengan Masyumi, yaitu Muhammadiyah. Pada umumnya Masyumi-Muhammadiyah dianggap oleh setiap orang sebagai “progresif" atau “modernis” dan NU dianggap sebagai “konservatif” dan “kuno”. (Di Mojokuto, PSII biasanya dikelompokkan ke dalam sektor modernis). Akan sederhana kalau orang bisa menerima stereotip umum ini dan mengidentifikasi ideologi modern dengan Masyumi dan ideologi kolot dengan NU: sayang, situasinya jauh lebih kompleks daripada ini. Hubungan antara pola-pola kebudayaan—kepercayaan, nilai dan lambang ekspresi—serta seperangkat struktur sosial tempat semua itu tertanam jarang sekali merupakan hubungan yang sederhana seperti satu lawan satu. Pasalnya, problem umum kehidupan manusia dimana pola-pola budaya, khususnya pola keagamaan, merupakan jawabannya, berbeda sekali dari urgensi sosial tertentu dimana stuktur-stuktur sosial merupakan jawabannya. Jadi, di Mojokuto masalah-masalah yang melekat dalam mengorganisasi sebuah massa umat yang terdiri atas yang tua dan muda, laki-laki dan perempuan, petani dan pedagang, terpelajar dan buta huruf, agar nilai-nilai yang dipegangnya dapat mempunyai efek terhadap masyarakat yang lebih luas, menyebabkan nyaris tidak mungkin ada hubungan sederhana antara pendirian ideologis dan keanggotaan partai politik. Politik di Jawa membuat teman tidur menjadi asing, sama seperti di tempat lain. Berbicara tentang umat Mojokuto secara keseluruhan, hampir setiap orang adalah anggota Masyumi atau Nahdatul Ulama, atau