Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
setidaknya menganggap dirinya sebagai pengikut salahsatu di antaranya. Berbeda dengan kalangan abangan dan priyayi, hampir tidak ada santri yang netral secara politik. Dibandingkan dengan sikap di Amerika, partai-partai politik memainkan peran yang secara fungsional kurang spesifik dalam kehidupan santri Mojokuto daripada yang dimainkan oleh partai Republik dan Demokrat untuk kebanyakan kelas menengah perkotaan Amerika. Sebagaimana keadaan di daerah-daerah pedesaan barat-tengah dan selatan Amerika, serta bagi beberapa kelompok etnis tertentu yang tertindas di kota-kota kita, partai politik bagi santri Jawa bukan hanya sebuah kumpulan rakyat yang longgar dan memiliki kebiasaan memilih partai yang sama. Partai-partai itu dianggap sebagai organisasi sosial, persaudaraan, rekreasi dan keagamaan, dimana ikatan kekeluargaan, ekonomi dan ideologi bergabung. Mendesak sebuah komunitas untuk mendukung seperangkat nilai-nilai sosial yang tidak hanya berkenaan dengan penggunaan kekuasaan politik yang patut saja, tetapi juga mengatur tingkahlaku di berbagai lapangan kehidupan yang berbeda-beda. Menjadi anggota sebuah partai politik Islam berarti mengikatkan diri kepada salahsatu varian penafsiran dari doktrin sosial Islam. Kontradiksi dalam paragraf-paragraf yang terdahulu, penyele- saiannya adalah seperti ini: sebagai tambahan dari kenyataan bahwa “reputasi umum" kedua partai itu, satu konservatif, satu modernis, cenderung membawa kaum modernis ke dalam partai yang satu dan kaum konservatif ke dalam partai yang lain, pertimbangan sosial lainnya cenderung memunculkan kebalikannya. Pada umumnya, dalam kedua partai itu, kalangan muda, yang terpelajar, penghuni kota dan yang kurang religius lebih cenderung menjadi modern. Perpaduan ikatan kekeluargaan, ekonomi dan ideologi dalam kedua partai itu tidak pasti benar, mengalami distorsi karena kebetulan—sehingga anak seorang kiai kolot yang berpikiran modern bisa saja menjadi pemimpin NU karena kesempatan, bukan karena keyakinan—dan karena direncanakan—sama seperti seorang modernis bisa masuk NU hanya karena berpikir bahwa ia akan memperoleh posisi lebih kuat di sana akibat kurangnya pemimpin yang terpelajar. Bahkan letak geografis bisa membuat perbedaan. Desa-desa tertentu sebagian besar cenderung menjadi Masyumi, yang lainnya sebagian besar menjadi NU dan seorang yang berpikiran modern dalam desa NU harus memutuskan untuk dirinya sendiri apakah ikatan ideologis atau ketetanggaan yang akan menentukan.