Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 277
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 277 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

“Begitu juga halnya dengan para kiai”, ujarnya. “Mereka sering tidak sepakat mengenai detail, tetapi pada hal-hal pokok mereka sepakat". Kata saya, “Jadi, bagaimana orang awam tahu mana yang benar?” “Dengan memilih kiai yang dihormatinya dan mengikutinya”, jawabnya. Ia mengatakan, beberapa kiai memiliki pengaruh besar karena ilmunya dan karenanya orang lebih suka mengikuti mereka daripada mengikuti kiai yang kurang ilmunya yang menentang pendapat mereka. Langgar dan Masjid: Komunitas Santri Lokal Kiai serta pondok-nya, dengan demikian, sudah merupakan dan sampai tingkat tertentu, masih merupakan inti struktur sosial Islam pedesaan dan puncak dari kultur kolot. Digabungkan di satu pihak dengan ibadah haji dan di pihak lain dengan langgar (yang biasanya sepekarangan dengan rumah pribadi), hal yang sebagian merupakan sekolah, sebagian tempat peribadatan dan sebagian lagi persaudaraan agama ini, mengaitkan umat di Jawa dengan dunia Islam yang lebih luas serta menentukan sifat ortodoksinya. Melalui para kiai-haji yang kembali dari Mekkah, konsep ortodoksi yang berlaku di ibukota dunia Islam tersaring ke bawah sampai kepada massa umat Islam. Pertama- tama kepada para santri mereka, kemudian kepada penduduk lainnya lewat masjid dan langgar yang merupakan titik terminal riil dari jalinan komunikasi. Sebuah langgar sama saja dengan masjid, hanya ia lebih kecil, sering- kali merupakan milik pribadi (walaupun beberapa langgar merupakan yayasan umum sebagaimana halnya dengan hampir semua masjid) dan sembahyang Jum'at tidak dilakukan di dalamnya. Biasanya langgar merupakan bangunan terpisah di samping rumah pemiliknya, tetapi kadang-kadang hanya merupakan sebuah kamar dalam rumah seseorang yang setelah dibersihkan dari semua perabotan lalu dinyatakan sebagai langgar. (Seperti halnya di masjid, orang harus melepas sepatunya kalau masuk ke langgar dan tentu saja orang tidak boleh melakukan kegiatan duniawi di langgar). Dalam sebuah desa atau lingkungan santri, orang laki-laki akan berkumpul di langgar sekitar satu jam tiap malam sesudah sembahyang maghrib, atau mungkin selama dua atau tiga jam pada malam Jum'at untuk bersembahyang dan mengaji ayat-ayat yang mereka pelajari di pondok. Karena biasanya ada satu langgar dalam rukun kampung yang demikian, terdiri atas sekitar 25 sampai 30 keluarga—biasanya dimiliki


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 277 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi