Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Mojokuto. Di pondok yang lebih kecil, asrama dan murid-muridnya sebagian besar berasal dari Jawa Timur, tetapi lagi-lagi bukan dari daerah sekitar Mojokuto, melainkan dari sebelah utara dan timur. Asrama-asrama itu yang terbaru menelan biaya Rp 10.000 dan selesai dibangun sewaktu saya berada di Mojokuto, dikerjakan oleh para murid santri sendiri serta dirancang menurut gaya biara bersahaja dengan beranda di sepanjang bangunan itu dan sederetan bilik-bilik kecil tak berpintu yang terbuka ke arah beranda itu, dimana empat atau lima orang anak tidur bersama berdesak-desakan di atas tikar yang dibentangkan di lantai. Di kedua pondok ini dan ternyata juga di kebanyakan pondok lain di Jawa, kebiasaan mencari nafkah sendiri pada umumnya sudah hilang walaupun ada sedikit sisa-sisanya dan sebagian besar santri disokong dengan kiriman dari rumah. Namun, semua pekerjaan membersihkan asrama, memasak dan mencuci pakaian masih dikerjakan oleh santri itu sendiri (mereka makan kapan saja mereka mau, apakah seorang diri atau dalam kelompok dua atau tiga orang). Organisasi pondok sehari-hari diatur sendiri oleh sebuah dewan yang dipilih dari antara mereka sendiri, bebas dari campurtangan kiai. Bahkan penerimaan anggota baru atau pengeluaran anggota pun pada umumnya berada di tangan para murid sendiri. Tidaklah mengherankan kalau alasan kaum kolot dalam mempertahankan sistem pondok terhadap tuduhan kaum modernis bahwa pondok itu kuno, tidak praktis dan tidak sosial, selalu menggunakan dalil bahwa sekalipun tuduhan itu benar, pondok merupakan model yang baik sekali untuk cita-cita yang hendak dicapai oleh seruan perjuangan revolusioner Indonesia—kemerdekaan. Di kedua pondok besar itu, waktu mengaji di masjid (dipimpin oleh kiai sendiri atau salah seorang muridnya yang pandai, pondok yang lebih besar memiliki dua kiai) adalah antara pukul tujuh sampai dua siang, pukul satu sampai tiga lepas tengah hari, pukul empat sampai lima sore dan pukul delapan sampai 11 malam. Karena shalat lima waktu merupakan tambahan acara, maka jelas setiap orang yang mengikuti semua “pengajian" itu akan mengalami kehidupan keagamaan yang intensif. Dalam praktik sebenarnya, hampir tak seorang pun mengaji sepanjang hari. Orang keluar masuk masjid sesukanya, mengi- kuti pengajian dan mencatat ulasan-ulasan kiai kalau hal itu cocok dengan pendapat mereka atau kalau ia mengulangi sesuatu yang ada hubungannya dengan perhatian utama mereka.