Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Mata pelajaran yang biasa diajarkan (dibaca dengan terjemahan dan komentar dari kiai di sana-sini) adalah figh, tasawuf, tauhid, nahwu, falag, akhlak, tarikh, tafsir dan hadis. Figh adalah pelajaran tentang hukum agama Islam dan memiliki dua cabang: yang berhubungan dengan pelaksanaan rukun agama—sembahyang, haji, puasa dan sebagainya yang benar: dan yang berhubungan dengan hubungan perorangan—hukum perkawinan, pidana, hukum dagang. Tasawuf (“sufisme”) merupakan ciri pokok pondok mistik karena ia terkait dengan filsafat mistik Islam, dengan “makna agama”: banyak kiai ortodoks menganggap berbahaya mengajarkan hal itu, terutama kepada murid-murid yang masih muda karena mata pelajaran itu sulit dan terlalu banyak filsafat atau mistik di kepala anak muda akan cenderung membawa mereka ke ajaran yang sesat. Sekalipun demikian, semua pondok di wilayah Mojokuto mengajarkan sekadarnya tentang hal itu. Tauhid berhubungan dengan logika Islam dan teologi: nahwu dengan tata bahasa Arab. Falag terdiri atas metode astronomi untuk menghi- tung jadwal waktu sembahyang, penanggalan puasa dan sebagainya. Akhlak adalah etika, seringkali digolongkan dalam tasawuf. Tarikh adalah sejarah Islam. Tafsir adalah ulasan keagamaan, baik mengenai Al Gur'an maupun Hadis: dan di bawah hadis itu tercakup metode keilmuan mengenai cara menilai validitas hadis. Pondok yang terkena pengaruh modern kadang-kadang menambahkan pelajaran membaca Al Gur'an dan Hadis. Dari 14 pondok di wilayah Mojokuto, sembilan hanya mengajarkan tasawuf, figh dan Gu'ran, sedangkan kedua pondok yang besar memasukkan hampir semua mata pelajaran tersebut di atas. Namun, agak diragukan, kecuali dalam hal seorang murid sangat cerdas, apakah kebanyakan isi dari tiap pelajaran itu, selain dari yang paling umum dan pokok, dapat dipahami oleh para santri, walaupun banyak yang belajar melagukan dengan keterampilan yang hebat serta berseni, sebuah bahasa indah yang tidak mereka mengerti artinya. Kedua pondok besar itu kini memiliki sekolah-sekolah yang diajar oleh santri yang lebih tua—bukan karena kiai menginginkan atau menyetujuinya, tetapi karena para murid sendiri memintanya. Kiai Khotib dari Pleset (sebuah desa yang dekat) duduk di sana barang sejenak. Ia memiliki sebuah pondok di tempat tinggalnya di Pleset, tetapi sangat kecil. Setelah ia pergi, H. Zakir berkata: “Ia sangat pintar. Ia adalah satu-satunya kiai yang hafal Al Gur'an dengan sempurna. (Ia juga