Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
tengah, dimana orang membaca surat yang mana saja dari Gur'an. Bisri mengetahui sekitar delapan surat, semuanya sangat pendek dan gampang. Ada tempat lain di mana orang dapat memilih dua jenis sembahyang: ia bahkan tidak tahu mana yang lebih panjang. Sesudah sembahyang wajib, banyak orang mengucapkan frase tertentu secara berulang-ulang, biasanya 33 atau 66 atau 99 kali—frase seperti Allahu Akbar (Tuhan Maha Besar)—tetapi ia tak pernah melakukannya. Ia sekadar melakukan semuanya sekali dan secepat mungkin. Pola sembahyang sesuai benar dengan siklus kehidupan sehari-hari petani. Sembahyang pukul 5:00 pagi menyebabkan ia bangun pagi dan bekerja lebih awal. Tengah hari atau pukul dua, pekerjaan selesai dan sembahyang yang kedua bisa dikerjakan untuk diikuti dengan makan besar pada hari itu serta tidur siang pada puncak panasnya udara. Pada pukul tiga atau empat, ia bangun untuk sembahyang ashar, kemudian bisa kembali lagi ke sawah kalau pekerjaannya sangat berat atau yang lebih umum, bertandang ke tetangga pada sore hari yang sejuk dan berakhir di langgar untuk melaksanakan sembahyang maghrib. Lalu, ia pulang ke rumah untuk makan malam, sembahyang isya dan tidur. Di kota, kesesuaian pola sembahyang tidak sebaik itu walaupun para pemilik toko selalu bisa meluangkan waktu lima menit untuk melaksanakan sembahyang di belakang tempat mereka berdagang (yang biasanyajuga merupakan rumah mereka). Pekerjaan kota lainnya menim- bulkan masalah. Saya kenal seorang santri yang berhenti mengemudi taksi dan kembali menjadi petani karena pekerjaan mengemudi membawanya ke perjalanan jauh yang tidak memungkinkannya mengerjakan sembahyang dengan benar pada waktunya. (Sebenarnya, orang bisa melakukan shalat di lapangan atau di pinggir jalan raya asal melakukan wudhu terlebih dulu yang tidak menjadi masalah di Jawa yang begitu baik irigasinya, tetapi orang Jawa agaknya enggan melakukannya, selama saya di Jawa, saya tidak pernah melihat seorang pun mengerjakan shalat dengan cara demikian). Seorang santri lain mengatakan bahwa santri sering tidak suka masuk tentara karena tugas trutin militer sering membuatnya sulit untuk melaksanakan shalat. Namun, saya ragu apakah pertimbangan seperti itu demikian penting bagi kebanyakan orang: aturan sembahyang agak lebih fleksibel daripada yang terlihat. Pertama-tama, orang dapat melakukan sembahyang wajib kapan saja antara waktu itu dengan waktu shalat berikutnya. Jadi, sembahyang zhuhur bisa dilaksanakan segera sesudah