Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
tengah hari sampai pukul 3:30, sembahyang ashar dari pukul 3:30 sampai matahari terbenam dan seterusnya. (sembahyang maghrib harus dikerjakan selama masih ada cahaya di langit, karenanya, ia merupakan pengecualian). Di samping itu, kalau ada alasan yang sah, diperbolehkan menggabungkan dua sembahyang untuk ditunaikan sekaligus: misalnya, kalau orang terlambat melakukan sembahyang zhuhur, ia bisa mengerjakannya pada pukul 3:30 bersama sembahyang ashar: sebaliknya, kalau orang tahu bahwa ia tak akan bisa melakukan sembahyang ashar, ia bisa melakukannya terlebih dulu pada waktu sembahyang zhuhur. Keringkasan dan kesederhanaan sembahyang juga memungkinkan penyesuaiannya dalam kegiatan rutin sehari-hari. Saya berlusin kali mewawancarai sepasang suami-isteri secara berganti-ganti di rumah mereka sepanjang waktu sembahyang, mereka bergiliran ke belakang selama lima menit untuk melaksanakan sembahyang. (Tidak dianggap tidak sopan jika mereka berbuat begitu atau jika tamunya tetap duduk pada waktu shalat tamu tidak diharapkan meninggalkan rumah kalau tuanrumah sedang shalat). Terkadang kalau orang sedang berbicara dengan satu orang saja, ia akan minta permisi sekitar lima menit dan pergi sebentar ke ruangan lain di rumah itu untuk mengerjakan shalat. (Walaupun orang-orang Arab melakukan sembahyang di rumah mereka di depan saya—sementara saya berbicara terus dengan anggota keluarga yang sudah sembahyang—tidak ada seorang Jawa pun yang pernah melakukan hal itu. Mereka selalu pergi ke kamar atau keluar ke belakang rumah dimana mereka tidak bisa dilihat orang lain). Dalam perjalanan jauh dengan sepeda bersama seorang informan santri, kami berhenti di masjid atau langgar di tepi jalan untuk beberapa menit, sementara informan itu bersembahyang dan baru kami melanjutkan perjalanan. Jadi, pola kehidupan kota, setidaknya di Mojokuto, belum membuat urutan waktu sembahyang sulit untuk dipenuhi bagi kebanyakan orang. Sayatelah diberitahu bahwa di Surabaya, dimana banyak orang harus bekerja dari pukul deiapan pagi sampai empat sore di kantor-kantor, sembahyang zhuhur secara rutin ditinggalkan, bahkan oleh orang-orang santri yang saleh dan hanya empat kali sembahyang dilakukan dalam sehari walaupun jelas ini termasuk heterodoks. Bagaimanapun juga, bagi kebanyakan santri mengerjakan shalat tidak begitu terpisah dari pertimbangan yang lebih duniawi—misalnya, mencari makan—seperti kelihatannya. Mirip dengan perbuatan orang Katolik membuat tanda