Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 329
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 329 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Untuk bisa merasakan bagaimana sembahyang Jum'at itu, saya me- ngutip gambaran berikut dari catatan saya mengenai ibadah di masjid yang saya hadiri dengan seorang informan kota, di desa yang dekat, tempat ia lahir serta dibesarkan. Masjid itu didominasi oleh NU dan dengan demikian bersifat tradisional, sebagaimana bisa dilihat dari khotbah-nya yang tidak diterjemahkan. Kemarin, saya pergi ke masjid untuk shalat Jum'at dengan Amiri di desa tempat Amiri tinggal sampai zaman Jepang. Kami masuk begitu saja dan duduk sekitar pukul 11:30. Masjid itu, sebuah bangunan kecil bersegi empat dengan tembok putih dan atap genteng yang agak ditinggikan, hanya terdiri atas sebuah kamar besar yang kosong—atau mungkin dua kamar, karena ada sebuah tembok dengan dua jendela tanpa kaca dan dua pintu tanpa daun pintu di tiap sisi dekat tembok luar, sekitar tiga perempat dari jalan 'pulang, di balik saya dan Amiri duduk. Di luar, di beranda, tidak ada gong bercelah yang biasa disebut bedug, tetapi tergantung sebuah drum parade yang besar, yang ditabuh oleh beberapa orang dengan pemukul kayu, mula-mula pelan kemudian semakin cepat dan diulang-ulang sekitar enam kali, lalu disusul dengan adzan dalam bahasa Arab agar orang berkumpul untuk sembahyang. Sementara kami duduk di lantai batu di sana, orang dewasa dan anak-anak dari semua umur (yang terkecil mungkin berumur enam atau tujuh tahun) berduyun-duyun masuk (beberapa di antara mereka menjabat tangan saya dan menyentuh dada mereka, tak seorang pun tampak heran menemukan saya di sini), kemudian duduk baik di tikar yang digulung atau di atas sarung atau sekadar di ubin. (Amiri mengenakan celana waktu bersepeda, tetapi diganti dengan sarung ketika tiba di sana). Banyak diantara mereka yang membawa Al Gur'an dan itu mereka letakkan di meja dekat pintu kamar tengah. Akhirnya ada sekitar 150 orang di sana, sehingga masjid penuh sesak. Ketika kami tiba, sudah ada beberapa orang yang sedang mengaji, tidak bersama-sama, tetapi sendiri-sendiri, masing-masing dengan irama dan kecepatannya sendiri. Hasilnya, beberapa suara terdengar dalam dan tua, beberapa tinggi dan muda, semuanya mengaji dengan kecepatan yang beraneka ragam, sehingga terdengar hiruk-pikuk, ganjil dan indah. Ketika yang lain tiba, mereka juga mulai mengaji, tetapi akhirnya sekitar pukul 12 siang, semuanya berhenti tiba-tiba, barangkali dengan isyarat dari imam, yang tak saya lihat karena terhalang oleh dinding. Kemudian sembahyang resmi dimulailah. Namun, mereka masih belum satu irama, masing-masing dengan kecepatannya sendiri. Ketika seorang rukuk, orang di sebelahnya masih berdiri tegaki dan ketika seorang masih rukuk, yang lain sudah bersujud dengan dahinya di lantai. (Mereka membaca dengan dalam hati sekarang, hanya menggerakkan bibirnya walaupun imam di depan membaca dengan keras).


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 329 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi