Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 342
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 342 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

yang terakhir ini menirukan yang pertama sebisa mereka dari jarak yang biasanya jauh sekali. Kaum ningrat mewakili Tradisi Agung sebagaimana petani mewakili Tradisi Kecil. Meskipun keduanya mungkin sangat dirangsang oleh pengaruh luar seperti halnya mereka di Jawa dirangsang oleh pengaruh Hindu-Buddha serta Islam, mereka tumbuh dengan sangat dekat, sehingga yang satu menjadi bayangan yang terdistorsi dari yang lain, kadang-kadang saling menolak dan saling tertarik. Golongan ningrat melihat petani sebagai tiruan kasar yang mengganggu dari tingkahlakunya yang sangat terkendali, tetapi juga sebagai spontanitas yang menarik dan kekuatan hewani yang menggodanya untuk meninggalkan kebosanan tak berkesudahan dari kesopanannya yang mengekang. Sebaliknya, petani melihat kaum ningrat sebagai puncak dari semua yang diinginkannya—sikap menahan diri, berbudaya, berpengetahuan, memiliki spiritualitas yang tinggi—dan semacam sikap kaku karena merasa diri penting serta pilih-pilih yang halus yang tentu banyak mengorbankan kegembiraan dalam hidup. Ningrat dan Petani di Jawa Kaum abangan adalah petani Jawa, sedangkan priyayi adalah golongan ningratnya. Agama abangan mewakili sintesis petani atas unsur yang diterimanya dari kota dan warisan kesukuannya, sinkretisme berbagai potongan tua dari selusin sumber yang disusun menjadi satu kumpulan utuh untuk melayani kebutuhan rakyat yang bersahaja, yang menanam padi di petak-petak sawah yang teririgasi. Sekarang ini ada petani santri karena budaya tani tua yang homogen kini mulai pecah akibat tekanan kehidupan modern. Namun, sampai abad ini dan masih demikian bagi kebanyakan petani (termasuk petani yang secara nominal santri), tradisi abangan—sedikit pengobatan pribumi, sedikit magi Tantra, sedikit mantra Islam, semuanya mengelompok di sekitar upacara slametan yang sederhana—diadakan untuk merumuskan dan mengatur hubungan sosial yang pokok dari kaum tani yang terikat pada tanah. Upacara itu memproyeksikan kepada mereka sebuah dunia makna yang simbolik dimana pekerjaan yang mereka lakukan, kehidupan yang mereka tempuh dan nilai-nilai yang mereka pegang semuanya membentuk arti kosmik. Kaum priyayi umumnya selalu berada di kota-kot: salahsatu ciri Jawa modern yang secara sosiologis paling menarik adalah


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 342 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi