Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Bupati Bragang?” (Bupati Bragang adalah seorang Masyumi dan karena itu, seorang santri, sebuah keadaan yang sulit diterima oleh semua priyayi dikota yang tak pernah berhenti mengeluhkan pengangkatannya yang politis sebagai “tidak tepat”). Menurut dugaan Wiro, bupati itu dianggap sebagai priyayi sekarang karena zaman sudah berubah— seorang priyayi karena “pekerjaannya” (yakni prestasinya) yang semakin diterima sekarang ini. Namun, menurut pendapat Wiro, priyayi karena keturunan lebih tinggi dari priyayi mana pun yang memperoleh gelarnya karena prestasi. Misalnya, banyak orang memiliki gelar Mr. (yakni Master Hukum) dan Dr. (yaitu Doktor dalam ilmu hukum) sekarang serta banyak di antaranya bukan berasal dari kelompok priyayi, tetapi anak orang-orang desa yang kaya, kepala desa yang kaya, pedagang dan sebagainya, serta bukan orang yang memiliki gelar sejati, tetapi hanya gelar akademik saja. Orang-orang demikian pasti mempunyai cara pikir dan watak kepribadian yang berbeda betapapun kerasnya mereka berusaha meniru tatacara priyayi. Saya bertanya kepadanya, apa perbedaannya. Ia mengatakan bahwa mereka yang memperoleh kedudukan karena harta dan “kerja" (yakni “belajar”) memiliki rasa kemanusiaan yang kurang jika dibandingkan dengan priyayi yang sama tingkat dan pendidikannya — untuk sebagian besar, meski bisa saja ada pengecualian. Misalnya, Sultan Yogyakarta dibandingkan dengan katakanlah seorang pemimpin priyayi, ia tentu memiliki “kemanusiaan” yang lebih besar. Walaupun dia dididik di Belanda, dia masih memiliki sifat Satria.... Ia mengatakan bahwa priyayi tidak pernah punya toko... karena tak ada priyayi yang pintar berdagang. Itu bukan merupakan “tugas turun- temurun”-nya (darma) bukan merupakan “kepandaian” mereka. Tugas “turun-temurun” mereka adalah sebagai prajurit dan menjalankan pemerintahan (sebagai pejabat). Oleh karena itu, mereka tidak bisa berdagang dan kalau pun mereka mencoba, pikiran mereka tidak akan tenang. Ia tahu kalau ia berdagang, ia tidak akan bahagia dalam hati. Kepintaran berdagang seperti juga kepintaran lain-lain adalah soal keturunan, tetapi hanya di kalangan bukan priyayi—terutama mereka yang berasal dari Solo, Yogyakarta dan Kudus. “Pola pikiran” yang berlaku disitu lebih rendah daripada priyayi.... Semua orang yang bukan priyayi memiliki “tugas turun-temurun”" yang sama dan jiwa mereka semuanya sama. Seorang pedagang hanya berpikir tentang kebutuhannya sendiri dan tidak tentang masyarakat secara keseluruhan....