Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 346
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 346 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Ia mengatakan bahwa Pancasila (Lima Sila Presiden Sukarno, dasar negara sekarang) merupakan sebuah usaha untuk menegakkan kembali sistem Hindu tua yang sangat baik. Ia berpendapat, waktu berjalan menurut lingkaran: sejarah berulang dalam siklus dan orang selalu kembali ke waktu sebelumnya. Ini adalah hukum alam, kehendak Tuhan.... Yang penting bukanlah menegakkan kembali masyarakat masa lalu secara persis yang merupakan sebuah kemustahilan, tetapi agar masing-masing orang mengetahui apa yang menjadi tugasnya menurut keturunannya sehingga keturunan petani akan menjadi petani, pedagang menjadi pedagang dan sebagainya. Kalau tidak diatur demikian, masyarakat akan hancur. Kalau orang biasa bertingkahlaku seperti priyayi, siapa yang akan mencangkul tanah nanti? Negara akan runtuh. Meski demikian, ia mengakui, semakin banyak orang desa yang meniru-niru priyayi dan ia bertanya-tanya siapa yang akan mencangkul nanti. la mengatakan jika ia, misalnya, diwajibkan mencangkul, ia tak akan sanggup melakukannya. Etika priyayi, dengan kepekaannya yang tinggi terhadap perbedaan status, pernyataannya yang tenang tentang superioritas spiritual dan penekanan ganda pada kehidupan rohani yang halus serta tingkahlaku yang sopan, merupakan hasil dari kehidupan kota selama hampir 16 . abad. Negara-kota Hindu-Buddha kuno diperintah oleh raja yang juga seorang dewa, raja suci yang ditakhtakan pada puncak kehalusan spiritual di atas bukit suci simbolik yang diletakkan tepat di pusat ibukota yang dibuat bersegi empat.: Mereka memunculkan kelompok ningrat-prajurit yang sangat memperhatikan hal-hal yang sifatnya keagamaan-estetis, kelompok yang menerima mode kebudayaan asing dan merasionalisasi kebudayaan setempat. Negara-kota timbul dan tenggelam, satu demi satu sebagaimana kebanyakan eksperimen politik yang tidak berhasil. Kecuali mungkin Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan Mataram pada abad ke-17, kerajaan-kerajaan itu tak mampu menanamkan akarnya secara mendalam di massa petani. Aristokrasi Jawa tidak memiliki sistem kewajiban feodal yang terhubung dengan tanah seperti halnya Eropa Barat dengan bangsawan pemilik tanah pertanian atau birokrasi Cina yang dirasionalisasikan dan mengangkat pejabat-pejabatnya baik dari ningrat desa maupun kota. Aristokrasi Jawa malah tidak memiliki hubungan patronase yang solid seperti India yang diorganisasikan dalam kasta padahal begitu banyak yang dipinjam dari pandangan dunia India. Dengan demikian, aristokrasi Jawa sampai dengan datangnya Belanda hanya memiliki dua cara untuk


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 346 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi