Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Haag—dengan gambar pemandangan yang menyenangkan. Di kalangan merekalah kita temukan orang-orang yang suka bermain tenis, catur, renang dan berburu. Kita malah bisa menemukan, beberapa di antara mereka ini membaca novel dan majalah-majalah Belanda walaupun hal ini sudah berkurang sejak revolusi. Saya bahkan mengenal satu atau dua orang yang menggambar sketsa dengan pensil, yang pasti bukan merupakan kebiasaan orang Jawa asli. Petani bagi orang semacam itu merupakan sesuatu yang memalukan: mereka bukan saja bodoh dan tidak memiliki sopan santun—sebuah keluhan literati—tetapi juga “kacau”, “kotor" serta “malas” dan tidak teratur dalam memelihara anak. Ketika saya katakan kepadanya, saya sedang mempelajari anak- anak, ia (Ketua PNI—Partai Nasional Indonesia—partai politik yang didominasi priyayi dan kasus paling murni dari jenis inteligensia di Mojokuto) memberikan pendapatnya tentang ini. a berpendapat, anak- anak Jawa tidak “terdidik”. Mereka dibiarkan saja makan sendiri apa dan kapan pun mereka mau, tidur kapan mereka mau. Beberapa bahkan tak pernah mandi atau dicuci bajunya. Anaknya (anak ketua PNI tersebut) bangun pada waktu yang tentu, mandi, makan pagi, pergi ke sekolah dan hanya sesudah sekolah mereka boleh main. Perempuan tua (sanak jauh informan) itu mengiyakan, memperkuat pendapat Rekso bahwa anak-anak petani tidak teratur makannya, kotor, harus mencari kayu serta rumput untuk ibunya dan bukannya pergi ke sekolah." Priyayi tingkat menengah serta atas cenderung berbahasa Belanda dan bukan Jawa: mereka yang lebih tinggi tingkatnya melakukan hal itu sampai pada satu tilik dimana mereka hampir tidak bisa menggunakan bahasa ibu mereka, kecuali memakai bahasa Jawa rendah untuk menyuruh para pembantu. Kaum priyayi-lah yang pada masa sebelum perang memperoleh keuntungan dari pendidikan yang disediakan Belanda untuk orang Jawa (beberapa di antara mereka malah bersekolah di sekolah anak-anak Belanda) dan bekerja sebagai pegawai serta administrator kecil di pabrik gula Belanda, perusahaan impor-ekspor dan industri transportasi. Adalah dari mereka ini, beberapa gelintir orang Jawa yang dipilih untuk dididik di Belanda dan menjadi jama'ah haji priyayi ke Mekkahnya Dunia Barat. Dari semua ini, muncullah model aristokrasi Jawa yang akan menjadi tiruan bagi orang-orang biasa, sebuah model yang didasar-