Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kan atas pendidikan kerah-putih Barat yang menitikberatkan bahasa Belanda, sejarah, kesusasteraan dan sopan santun serta nilai-nilai Belanda. Perkumpulan perempuan, koperasi kredit yang dipolakan menurut rencana yang disusun oleh administrator Belanda yang bernafsu memperbaiki tingkat kehidupan “Pribumi”, gerakan pendidikan orang dewasa yang merupakan noblesse oblige untuk mengangkat derajat massa—dengan mengajarkan kepada mereka, menulis dan membaca, mengurangi angka perceraian mereka serta mencuci pakaian mereka— tumbuh bersama dengan kelompok tari, sekte-sekte latihan kebatinan dan orkes gamelan. Sejajar dengan piramida sosial yang didasarkan atas keterampilan artistik-mistik dan kedekatan dengan inti tradisi istana Hindu-Jawa, didirikan juga piramida lain yang didasarkan atas keterampilan dalam memanipulasi gagasan dan nilai-nilai Barat serta kedekatan dengan ko- munitas kolonial Belanda—baik yang inteligensia maupun literati. 1a (seorang priyayi muda terpelajar, kepala sekolah swasta yang didirikan oleh yayasan pendidikan priyayi) mengkritik kegagalan banyak priyayi untuk berpartisipasi dalam kehidupan modern. Katanya, Sosro (tuantanah yang disebut oleh Pak Wiro di atas) merupakan contohnya. Pada masa Belanda, ia menduduki tempat tertinggi dalam birokrasi dibandingkan dengan siapapun yang pernah dibesarkan di Mojokuto, karena ia adalah Kepala Pelabuhan Ikan di Jakarta, tetapi kini ia tak melakukan apa-apa lagi: ia hanya duduk-duduk di rumah menjadi alus, mempelajari mistisisme dan semacamnya. Saya bertanya, apakah itu karena ia sudah tua, Naryo (informan itu) mengatakan, “Tidak, ia baru berumur 50 tahun dan sehat sekali". Dalam hal ini, kepasifannya disebabkan oleh pengaruh isterinya yang berasal dari Surakarta. Setelah kawin dengannya, yang seorang Raden Ayu (gelar bangsawan tinggi keraton), ia berubah haluan 180 derajat dan mulai melakukan segala sesuatu 4 la Surakarta yang sangat lamban serta alus. Naryo menyatakan ketidaksetujuannya tentang hal ini dan mengatakan bahwa Rekso (Ketua PNI) berbeda dalam hal ini: ia sangat aktif dalam banyak hal. Perbedaan antara dua kelompok ini tidak begitu tajam sebagai- mana perbedaan kolot-modern di kalangan santri. Kebanyakan priyayi memiliki baik aspek literati maupun inteligensia dalam pandangan mereka (bahkan informan tersebut di atas menjadi anggota sebuah perkumpulan mistik). Pada umumnya, kalau kita menaiki tangga kedu- dukan ke arah kota-kota pelabuhan besar di utara—Jakarta, Sura-