Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
disebut sebagai “makna status” sebagai tambahan pada arti linguistik yang normal, yakni apabila digunakan dalam percakapan yang sebenar- nya, perkataan itu tidak saja menyampaikan arti denotatif (“Tumah”, “tubuh”, “berjalan”, “kamu”, “bentuk pasif”), tetapi juga arti konotatif mengenai status (dan/atau tingkat keakraban antara) si pembicara dan pendengar. Akibatnya, berbagai kata mungkin menunjukkan arti linguistik yang sama, tetapi berbeda dalam konotasi status yang diacunya. Jadi, untuk “rumah”, kita mempunyai tiga bentuk (omah, griya dan dalem), masing-masing mengkonotasikan kedudukan si pendengar yang semakin tinggi dalam hubungannya dengan si pembicara. Beberapa arti linguistik yang normal malah lebih terbagi dengan baik (kowe, sampeyan, panjenengan, panjenengan dalem untuk nilai yang semakin tinggi dari “kamu”), yang lain agak kurang (di- dan dipun-) untuk bentuk pasif. Akan tetapi, kebanyakan arti normal dengan mengambil perbendaharaan kata secara keseluruhan tidaklah terbagi samasekali. Jadi, kata untuk “meja” adalah meja, tak peduli kepada siapapun orang berbicara."? Komplikasi selanjutnya adalah bahwa makna status dikomunikasikan dalam percakapan tidak hanya secara sengaja dengan pilihan kata dalam dialek si pembicara, tetapi juga secara tidak disengaja dengan dialek yang ia pakai secara keseluruhan. Tidak hanya ada “tingkat-tingkat” pembicaraan di dalam dialek yang didudukkan menurut konotasi statusnya (atau alus/kasar): berbagai dialek dalam masyarakat secara keseluruhan pun didudukkan bertingkat-tingkat menurut spektrum alus sampai kasar. Yang terakhir ini tentu saja merupakan ciri setiap masyarakat yang terstratifikasi. Untuk memperjelas hubungan antara sistem intra-dialek dan inter- dialek dari simbolisasi status ini, yang satu secara sukarela, yang lain secara tidak sukarela, saya sampaikan tiga bagan yang secara paradigmatik menggambarkan bagaimana sebuah kalimat berubah dalam tiap dialek dan di antara dialek-dialek itu. Bagan I memperlihatkan jajaran bahasa dari status yang akan saya sebut non-priyayi, tetapi sudah kena pengaruh kota serta sedikit berpendidikan, termasuk dalam golongan ini, abangan yang berpendidikan lebih baik, kebanyakan santri kota dan bahkan beberapa priyayi rendahan, terutama kalau mereka bercampur dengan orang dari luar lingkungan langsung mereka. Karenanya, ini merupakan dialek paling umum di kota. Bagan II memperlihatkan dialek keba- nyakan petani dan orang kota tak berpendidikan yang merupakan gaya