Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
perhatian orang kepada Tuhan dan menghindari keterikatan yang terlalu kuat pada kehidupan sehari-hari. Kita akan membicarakan mistisisme secara terperinci nanti. Yang jadi soal di sini hanyalah untuk menyatakan bahwa wayang dan begitu pula seni lainnya, seperti sastera, musik serta tari yang berkerumun di sekitarnya, setidaknya bagi seorang literati yang canggih, merupa- kan bagian dari kompleks keagamaan yang umum dan dibangun di sekitar konsep kasar-alus, lahir-batin serta rasa: dan bahwa wayang menyatakan dengan kosakata emosional, rumusan yang sama tentang apa yang mungkin merupakan dilema dasar pemikiran keagamaan India seperti yang ditampilkan dalam Mahabharata—bagaimana sebuah perbuatan itu mungkin, mengingat adanya rasa belaskasih? Sujono (guru sekolah) melanjutkan pembicaraan bahwa ketiga Pandawa utama masing-masing memiliki watak yang berbeda. Yang pertama, Yudistira, sangat baik: dalam kenyataannya, ia malah terlalu baik, terlalu bersih dari kejahatan. Hasilnya adalah bahwa dalam belaskasihnya yang ekstrem, ia bukan seorang raja yang efektif karena samasekali tak mampu memerintah negara sendirian. Misalnya, ia melihat semua di dunia ini sebagai milik Tuhan dan orang merupakan bagian yang tak penting dari keseluruhan yang lebih besar. Jadi, kalau ada orang datang kepadanya dan meminta tanahnya, Yudistira akan memberikannya begitu saja sehingga semua tanah akan habis diberikan dan negara tak bisa lagi mempersatukannya. Atau ia akan memberikan semua makanannya tanpa memikirkan diri sendiri sehingga ia sendiri kemudian kelaparan. Ia berbelaskasih, sangat berbelaskasih. Karenanya, ia memerlukan bantuan saudara-saudaranya dalam memerintah. Kesulitan utamanya, kata Sujono menyimpulkan, adalah ia tidak tahu perkataan “tidak”. Saudaranya yang kedua, Bima, adalah kebalikannya. Kalau ia mempunyai maksud, ia turuti maksud itu langsung sampai ke akhirnya, ia tidak menoleh ke samping atau berhenti di tengah jalan. Ia selalu maju dan tak bisa melihat ke belakang. Begitu ia memiliki gagasan serta merasa sanggup melaksanakannya, ia akan melakukannya dengan gagah berani sampai akhir dan tak akan mendengar siapapun atau apa punjuga. Ia berpikiran-tunggal dan tidak pernah takut kepada siapapun. Saudara yang ketiga, Arjuna, memiliki kemampuan untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Kebaikannya muncul dari kenyataan bahwa ia memusuhi keburukan, melindungi rakyat dari ketidakadilan tanpa