Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 408
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 408 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

melihat ketujuh lapis di bawah dan ketujuh lapis di atas. Semuanya ini lebih jauh dijelaskan dalam wayang. Dalam wayang, Bratasena (nama lain yang jauh lebih umum dari Bima) dapat melihat dengan jelas tujuh lapis di bawah dan tujuh lapis di atas.... Namanya, pada kenyataannya, berarti menyelesaikan (brata) meditasi (sena): ini berarti kalau orang selesai bertapa—yakni memperoleh kesatuan mistik—mereka dapat melihat semua tujuh lapis ke atas dan tujuh ke bawah. Hanya sedikit orang yang bisa melakukan ini dan mereka yang mampu melakukannya disebut guru, pengajar mistik. Orang bisa menelusuri lebih jauh hal ini dengan melihat wujud Bratas€na dalam wayang. Pertama, ia memiliki kukuibujari yang panjang, pancanaka (lima kuku), yang melambangkan bahwa kelima indranya (pancaindra) semuanya tajam dan halus. Kedua, ia mengenakan sarung, yang berwarna merah, putih dan hitam, yang merah melambangkan keberanian, putih kemurnian serta hitam ketetapan kehendak, kebulatan tekad. Kemudian, hiasan kuping yang dikenakannya, yang disebut sumping dan dilukiskan sebagai jinaroting asem endek arep duwur buri, yang secara harfiah berarti “akar buah asem, rendah di depan, tinggi di belakang”. Akan tetapi, tiap perkataan ini memiliki makna kedua. Jinarot, “akar”, di sini memiliki kekuatan sebagai “inti”, "hakikat” dan sebagainya. Asem, “buah asem” memiliki makna sekunder sebagai rasa atau "perasaan”. Endak arep, “rendah di depan”, menunjukkan ego, diri seseorang dalam keadaan rendah hati. Duwur buri, “tinggi di belakang”, berarti 'Tuhan' karena Tuhan itu tinggi dan berjalan di belakang seseorang. Dengan demikian, makna keseluruhannya, dengan mengesampingkan detail, adalah bahwa yang lahir, aspek luar Bratasena, menunjukkan bahwa ia telah menyatukan “ego”-nya, kediriannya dengan “Tuhan. Dalam pengertian yang lebih tegas, seseorang yang telah selesai bertapa, telah memadukan yang luar dan yang dalam, lahir dan batin, serta membuatnya jadi satu dan juga menyatu dengan Tuhan. Dengan demikian, aspek-aspek Bratasena di atas—yakni setiap orang yang selesai bertapa—dapat disimpulkan sebagai berikut: kuku ibu jari menunjukkan bahwa kelima pancaindranya menjadi sangat tajam: beraneka warna kotak-kotak sarungnya menunjukkan bahwa ia berani, murni dan tetap tekadnya: hiasan telinganya memiliki arti bahwa ia sudah menyatu dengan 'Tuhan dan bahwa lahir serta batinnya telah berpadu. Menurut teori, setiap orang bisa menjadi Bratasena—bisa bertapa dan mencapai tingkat ini. Patut dicatat bahwa ini bukanlah pesimisme radikal dari Hindu- isme dan Buddhisme yang belakangan mempunyai kecenderungan untuk kurang menghargai tindakan kecuali sebagai kejahatan yang tak bisa dihindari. Bima, sebagaimana Pandawa lainnya, bukanlah seorang pertapa dan bukan juga seorang pasifis: sebaliknya, sebagaimana orang Jawa seringkali menggambarkan dia dan saudara-saudaranya, ia adalah


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 408 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi