Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
seorang “pembela masyarakat”. Bagi orang Jawa, pengalaman mistik bukanlah sebuah penolakan atas dunia, tetapi sebuah pengunduran diri sementara darinya dengan maksud mempertinggi kekuataan batin agar beroperasi lebih efektif di wilayah duniawi, sebuah pemurnian kehidupan dalam untuk memurnikan yang luar. Ada waktunya pergi ke puncak gunung (tempat kebanyakan mistikus yang lanjut dalam mitos melakukan semadi) dan ada waktunya turun ke kota. Kata salah seorang informan saya: legenda semihistoris Jawa mengulang-ulang satu tema tunggal tentang raja yang turun takhta atau terancam bahaya. Juga tentang pewaris takhta yang terperdaya serta mengundurkan diri ke puncak gunung yang sepi untuk bersemadi dan setelah memperoleh kekuatan rohaniah dengan cara ini, kembali untuk memimpin ekspedisi militer yang berhasil melawan musuh-musuhnya. Tema ini berlangsung terus, banyak orang Mojokuto masih bersikeras mengatakan bahwa pemimpin yang bernasib malang dalam melawan Jepang di kota yang berdekatan dan menghilang ketika kalah, masih hidup serta sedang bersemadi di puncak gunung berapi dan akan kembali untuk memimpin perang suci yang akan membersihkan keadaan masyarakat dewasa ini. Ini adalah etika pejuang Satria sebelum para pendeta Brahma India mengubahnya menjadi tak mementingkan dunia: ia bukan pelarian diri dari kehidupan, tetapi pelarian dalam hiduplah yang dipuji. Saya bertanya kepadanya (seorang pedagang kain yang lain) tentang Sumarah. Mengapa mereka bersemadi? Ia mengatakan bahwa itu hanya untuk membuat hati merasa damai: untuk menenangkan batin sehingga orang tidak begitu mudah kecewa. “Misalnya”, katanya, “kalau Anda menjual kain dan Anda sedang sangat sedih, Anda mungkin akan menjual selembar kain dengan harga Rp 40, sementara harga sebenarnya Rp 60, ataumelakukan kesalahan sejenis. Andaikan seseorang datang ke sini dan pikiran saya lagi tidak tenang: maka saya tidak akan berhasil menjualapa- apa”. “Mengapa?” tanya saya. Namun, ia tidak bisa menjelaskan dengan baikapasebabnya, karena sepertinya ia menganggap hal itu sudah dengan sendirinya bahwa kalau orang tidak tenang di dalam hati, dagangan tidak akanlaku. “Bagaimanapun”, katanya, “itulah tugas Sumarah: latihan untuk membantu kita menenangkan batin kita”. Saya berkata, “Lalu, mengapa Anda perlumengadakan pertemuan? Mengapa tidak bersemadi di rumah saja". Dan katanya, “Pertama-tama, kita tidak akan merasa damai dengan menarik diri dari masyarakat. Kita harus tetap dalam masyarakat dan bergaul dengan orang lain, tetapi dengan rasa damai di hati kita”.