Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kecil dari ujung yang lain, ujung yang kecil dimainkan dengan tangan kiri dan yang besar dengan tangan kanan, menentukan gerakan iramanya. (Kadang-kadang ada dua kendang, yang satu besar, yang satu lebih kecil, keduanya dimainkan oleh satu orang). Ia menjaga irama sampai tiba saatnya untuk masuk ke dalam pola yang baru: kemudian ia mengubah iramanya, alat-alat lain mengikutinya. Adalah karena alasan ini maka tukang kendang sering disebut sebagai “pemimpin” orkes gamelan dan kendang dianggap sebagai alat yang paling sulit dimainkan. Dua jenis nada digunakan,: sl6ndro dan pelog yang masing-masing memiliki sub-jenisnya sendiri. Slendro memiliki lima nada yang sama intervalnya yang mencakup oktaf dalam musik kita: pelog memiliki tujuh nada yang tak sama intervalnya yang meliputi tingkat nada yang sama. Nada slendro digunakan untuk mengiringi wayang yang mem- pertunjukkan lakon Mahabharata atau Ramayana, nada pelog untuk lakon yang berasal dari kisah kerajaan Hindu-Jawa: tentu saja keduanya juga dapat dimainkan secara mandiri. Jalinan antara wayang dan gamelan cukup dekat. Tiga pembagian besar dalam wayang yang disebut di atas—periode pembukaan sampai tengah malam, periode komplikasi sampai pukul tiga dan bagian akhir sampai dini hari—semuanya ditandai dengan permainan komposisi musik yang khusus atau gending (meningkat, sama dengan ceritanya sendiri, dalam hal kegaduhan dan kebisingan, sementara malam semakin larut). Ada gending untuk hampir setiap aspek wayang. Sebuah adegan perang memerlukan nada gamelan yang berbeda dari yang digunakan untuk rapat para satria di keraton: Pandawa memiliki gending-gending-nya sendiri yang berbeda dari yang dimainkan untuk Kurawa: ada sekelompok nada yang digunakan untuk mengumumkan kedatangan tamu di keraton: tokoh alus diiringi dengan nada yang berbeda dari tokoh kasar. Setiap tokoh utama memiliki gending yang diasosiasikan dengannya, barangkali yang paling mudah dikenali adalah nada yang dimainkan pada tengah malam untuk mengantar periode komplikasi dan mengiringi Semar yang berjalan seenaknya, dengan lenggangnya yang khas, ke panggung. Cara lain untuk mengawinkan gamelan dengan wayang dan juga dengan gending, ialah lewat nyanyian-nyanyian yang disebut suluk, yang dinyanyikan oleh dalang pada saat-saat tertentu dalam pertunjukan. Juga ada lagu khusus untuk kejadian khusus (pecahnya perang, raja masuk istana) atau tokoh khusus (munculnya Semar, kedatangan guru yang bertapa seperti kakek Arjuna) dan kemudian, lagu-lagu khusus