Your donation is urgently needed to keep the server running.
هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم لدعم الخادم
“Kula (“Saya”, kata Jawa tinggi untuk aku)”, jawab saya. Ia tertawa dan mengatakan, “Di manakah kula? Itulah yang digambarkan oleh lingkaran terakhir yang bergaris tebal, inti dari diri (sel/). Tetap dan tidak berubah, ia selalu baik dan itulah yang menimbang serta mengarahkan kehendak kita, atau harusnya demikian. Ia tidak bisa salah”. Ia kemudian melanjutkan dengan pembahasan tentang perbedaan antara objek yang bisa diamati dan yang dikonseptualisasikan. “Berapakah 4 x 4? Ada 16. Kalau kita mengatakan 15, kita salah. Bagaimana kita tahu? Karena diri kita yang lebih dalam. Namun kalau kita melihat, katakanlah sebuah korek api, apakah yang melihat itu? Mata kita: tutuplah mata dan kita tak akan melihatnyai atau sebuah suara, kita mendengarnya dengan telinga: kalau kita tuli, kita tak bisa mendengarnya. Akan tetapi, 4x4 adalah 16 di dalami kita tak perlu melihat atau mendengarnya. Juga perbedaan lain antara objek yang bisa diamati dan objek yang bisa dimengerti adalah bahwa kalau kita merusak objek yang bisa diamati, senantiasa masih ada bekasnya. Bakarlah korek dan kita akan memiliki bekas korek yang terbakar, orang mati ada mayatnya, tetapi sesudah kita berhenti memikirkan 4x4- 16, tidak ada lagi yang tertinggal, tak berbekas. Beberapa orang menjauhkan diri dari dirinya yang sejati, akunya dan dalam hal demikian, kepintaran mereka hanya membantu mereka melakukan kejahatan saja. (Ia memberi contoh ahli atom).... Pada keadaan apa pun, diri sendiri, aku, lingkaran bergaris tebal dalam Sambar itu adalah bagian dari diri yang paling baik. Ia tidak tua atau muda, laki-laki atau perempuani dan ia tidak fanatik sebagaimana orang-orang Islam. Juga sulit untuk sampai ke sana. Kita harus semadi, bermeditasi Memisahkan diri yang sejati dari diri yang palsu, rasa yang tertinggi dari perasaan sehari-hari, yang abadi dalam manusia dari yang batin pada umumnya, pada dirinya merupakan tugas yang sulit. Anggota- anggota Budi Setia memerlukan tiga kali berkumpul secara berturut- turut untuk membahas perasaan mana yang bisa dianggap sebagai berasal dari swara ing asepi—“suara dalam hening.” Yang menjadi masalah tampaknya adalah apakah pertanda seperti perasaan bahwa seorang akan mengalami kecelakaan mobil atau bahwa anak-anaknya di Jakarta jatuh sakit bisa dianggap berasal dari swara ing asepi, yang oleh setiap orang disepakati bukan merupakan suara perasaan dan hanya bisa diperoleh dengan meditasi. Lalu, apakah suara hati selalu datang dari sumber tertinggi ini atau sekadar dari batin pada umumnya, karena yang kemudian ini dibuktikan oleh fakta bahwa kesadaran sementara orang dalam kenyataannya membawa sesat.