Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
menggabungkan lima hari pasaran (Legi, Paing, Pon, Wag€, Kliwon) dengan tujuh hari mingguan Islam-Barat (Minggu, Senen, Selasa, Rebo, Kamis, Jumuwat, Setu). Mereka mulanya memiliki mingguan tujuh hari sendiri, seperti berbagai bangsa lainnya dan mingguan tujuh hari yang sekarang hanyalah merupakan nama-nama Islam yang menggantikan nama-nama asli. Karena tujuh kali lima sama dengan 35, maka ada 35 hari yang berbeda-beda (Minggu-Legi...Senen-Paing...Jumuwat-Legi, Setu-Paing...Setu-Kliwon) dan perputaran ini membentuk “bulan”. Namun, sebenarnya “bulan-bulan” ini bukan merupakan kesatuan yang tetap dan mutlak sebagaimana yang ada pada kita, melainkan hanya merupakan jarak waktu antara suatu hari tertentu dengan datangnya hari itu lagi 35 hari kemudian. Kalau orang menanyai seorang Jawa tentang kapan ia dilahirkan, ia hanya mengenal harinya: Setu-Paing, misalnya. Kesulitannya adalah ia hampir tidak mengenal bulan maupun tahunnya dan ia tidak peduli. Kalau ia dilahirkan pada hari Jumuwat-Legi, maka selapanan-nya atau “hari lahirnya dalam sebulan” adalah Jumuwat-Legi yang akan datang. Hari kelahirannya dalam masa tujuh bulan (pitonan) akan jatuh pada hari Jumuwat-Legi yang ketujuh sesudah hari lahirnya. Waktu penanggalan Jawa bersifat denyutan, tidak spasial seperti kita.' Ketika toda-roda penggerak kalender itu berdetak lagi dalam satu kombinasi tertentu, itu adalah waktunya upacara tertentu harus diselenggarakan, sebuah perjalanan harus dimulai, atau suatu obat harus diminum. Mungkin sebagian karena inilah, maka kehidupan orang Jawa itu seperti mengalun 'di antara apa yang bisa disebut waktu penuh dan waktu kosong: momen, jam atau hari-hari yang penuh dengan kegiatan yang sibuk, padat dan intens, berganti dengan masa-masa dimana orang seperti tidak berbuat apa-apa kecuali hanya menanti sesuatu yang akan terjadi pada mereka. Kecuali dalam sedikit kasus dimana slametan tiga bulan kandungan sudah diadakan atau dalam hal seorang perempuan yang telah beranak menikah dengan seorang pria yang belum mempunyai anak, tingkeban mencerminkan perkenalan seorang perempuan Jawa kepada kehidupan sebagai ibu. Karena ketaktentuan yang relatif tentang waktu konsepsi, maka tingkeban tidak diadakan pada hari tertentu sesuai dengan mulainya kehamilan, tetapi selalu pada hari Sabtu yang terdekat dengan bulan kandungan yang ketujuh sepanjang hal itu bisa diperkirakan.