Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 72
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 72 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Keluarlah dengan mudah, masuklah dengan mudah, Mudah, mudah, dengan kehendak Allah. Kemudian tempat gulungan benang untuk menenun dijatuhkan sang dukun ke dalam sarung si perempuan. Ia ditangkap di bawah oleh ibu si suami dengan sebuah selendang, yang lalu digendongnya seolah-olah benda itu benar-benar seorang anak. Ibu sang suami akan berkelakar, berbicara kepada tempat gulungan benang yang ditimang- timang itu, katanya, “Oh cucuku laki-laki”, sedangkan ibu si isteri akan mengatakan, “Oh, cucuku perempuan”. Yang pertama tentu saja berlaku mengharapkan cucu laki-laki, sedangkan yang kedua menginginkan keturunan perempuan. Dua buah kelapa muda yang dilukis dengan Janaka serta Sumbadra, tokoh pewayangan serta isterinya, yang oleh orang Jawa dianggap manusia paling tampan dan cantik, diletakkan di depan sang suami. Ia mengayunkan golok besar sebanyak satu kali ke tiap buah itu. Kalau keduanya terbelah, itu berarti kelahirannya nanti sangat lancar, tidak ada kesulitan samasekali. Kalau hanya satu yang terbelah, maka yang tidak terbelah menunjukkan jenis kelamin sang bayi (laki-laki kalau Janaka yang tidak terbelah dan seterusnya). Kalau tak satu buah pun terbelah, maka kelahirannya akan sulit dan mungkin tidak selamat samasekali. Berbagai gerakan isyarat lainnya, seperti menjatuhkan telur lewat sarung sang isteri, melemparkan kendi ke luar pintu (kedua-duanya pecah) dan sebagainya, sering dilakukan juga untuk melambangkan kelahiran yang mudah. Sekarang, si perempuan melakukan pekerjaan rutin ganti pakaian. Dikenakannya kain sehelai demi sehelai, menarik kain yang dipakai sebelumnya dari bawah. Setiap kali melakukan itu, mereka yang berkerumun berteriak-teriak di tengah-tengah keriuhan, “Oh, itu tidak pantas”, sampai perempuan itu mengenakan sarung yang ketujuh dan terakhir yang disebut toh watu. Toh watu secara harfiah berarti tanda yang tak bisa dihapus pada sebuah batu. Sarung toh watu adalah jenis khusus yang dibuat dari katun tebal yang tak akan luntur dan dengan demikian, melambangkan hubungan yang abadi antara ibu serta anak sepanjang hayat, ketakterpisahan mereka selama hidup. Kemanjuran sarung ibu untuk menyadarkan seseorang yang lagi pingsan telah dikisahkan sebelumnya, tetapi simbolisasi hubungan ibu-anak dalam pakaian ibu bersifat lebih umum lagi.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 72 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi