Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 73
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 73 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Perempuan tua itu mengatakan bahwa ke mana pun saya pergi, saya harus selalu membawa satu dan dua lembar pakaian Ibu. Ini untuk menjaga agar saya selalu slamet. la mengatakan kalau saya sedih atau pusing dan meletakkan kepala saya di bantal Ibu, saya akan sembuh. Ia mengatakan bahwa semuanya ini terjadi, karena ketika saya masih berupa sebuah janin saya bersemadi di gua Ibu selama sembilan bulan. Ia mengatakan bahwa ini sama saja dengan semadi keagamaan yang biasa. Janin tidak makan atau tidur dan hanya bersemadi untuk belajar perkara-perkara kerohanian. Nanti, ketika anak itu diajar perkara kerohanian, orang akan selalu mengingatkan dia tentang ini: “Selama sembilan bulan kau berada di guaku”, dan seterusnya. Itulah sebabnya, kata perempuan tua itu, orang tidak boleh membantah ibunya (ia boleh membantah ayahnya sedikit), karena ia pernah bersemadi di dalam diri ibunya, dan itulah sebabnya mengapa saya harus membawa beberapa lembar pakaian Ibu kapan saja saya bepergian, kalau saya ingin aman dan slamet. Kepercayaan yang sama terdapat pula dalam hubungannya dengan haid pertama seorang gadis. Sarung yang dipakainya ketika mengalami datang bulan pertama tidak pernah dicuci atau dipakai lagi, tetapi disimpan. Di kemudian hari, kalau anaknya jatuh sakit, ia akan menyeli- mutinya dengan sarung itu dan anak itu akan sembuh. Pengobatan ini dianggap lebih manjur daripada yang bisa diperoleh dari seorang dukun atau dokter. Upacara tingkeban akhirnya ditutup dengan penjualan rujak legi oleh sang isteri dibantu suaminya, kepada semua yang hadir dan mem- bayarnya. Tampaknya tak seorang pun yang saya tanyai mengingat makna perbuatan ini, walaupun beberapa mengatakan bahwa sang ibu akan menggunakan uang yang terkumpul itu untuk membeli obat si bayi.? Secara umum, kesadaran terhadap makna berbagai elemen upacara abangan sangat berbeda-beda dari orang ke orang, sementara beberapa orang sangat tertarik dengan serba-serbi keagamaan dan senang memperbincangkannya, yang lain hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh mereka yang “mengerti" dan hanya menaruh perhatian sedikit sekali kepada arti tertinggi dari apa yang mereka lakukan. Melahirkan anak tanpa sebuah tingkeban dikatakan sebagai ngebokne si anak, membuat anak itu seperti kerbau. Mengatakan ini terhadap anak orang lain merupakan penghinaan berat, sebab ini berarti mengatai orangtuanya Sebagai binatang, yang tak tahu “aturan


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 73 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi