Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 76
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 76 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

laki-laki dan sebelah kanan untuk bayi perempuan. Sekeliling tempat itu kemudian dipagar dengan pagar anyaman kecil atau jambangan tanah yang sudah pecah ditutupkan di atasnya untuk mencegah anjing atau binatang lain menggalinya. Sebuah pelita kecil dibiarkan menyala di sana selama 35 hari untuk mencegah gangguan makhluk halus jahat. Dengan nama Tuhan, yang Maha Pengasih dan Penyayang! Bapak Bumi, Ibu Pertiwi, Saya akan serahkan kepadamu tali pusar dan ari-ari bayi. Tetapi sang bayi saya tinggalkan (saya tidak menguburnya), Hanya tali pusar yang saya serahkan kepada perlindunganmu. “Jangan kau risaukan sang bayi, Ini sudah jadi keharusan karena Allah. Kalau kau risaukan juga bayi itu, kau akan dihukum Tuhan. Usirlah penyakit dari si bayi, Ini pun sudah jadi keharusan karena Allah. Tali pusar, saya serahkan kau pada perlindungan seseorang, Bayi kecil, jangan kau lawan bapakmu, Atau kau akan dihukum oleh Allah. Penguburan tali pusar adalah perkara yang serius. Seorang perempuan pernah mempersalahkan kematian anaknya, yang kejang- kejang terkena sawan selama 40 hari, pada kelalaian sang dukun membubuhkan garam ketika penguburan tali pusarnya dilakukan. Akibatnya, benda itu bangkit lagi dan bayi itu pun mati. Tali pusar dan tembuni yang keluar sesudah kelahiran dianggap sebagai adik spiritual sang bayi, sedang air ketuban yang mendahuluinya (terpancar ke atas, keudara) dianggap sebagai abang spiritualnya. Selama 35 hari pertama, mereka ini tinggal di dekat sang bayi untuk melindunginya dari penyakit, yang pertama terhadap penyakit yang datang dari bumi, sedang yang kedua terhadap penyakit yang datang dari langit. Sesudah itu, kedua saudara itu bisa berkeliaran, tetapi tetap menjadi roh pelindung anak itu. Diperlukan pemusatan pikiran, puasa dan bergadang dengan waktu yang cukup lama—apa yang oleh orang Jawa disebut tapa—untuk berhubungan dengan mereka. Kadang-kadang pisau bambu serta buah kunyit yang jadi obat juga dianggap sebagai saudara spiritual dan roh pelindung, sehingga setiap orang mempunyai empat pelindung: tetapi anggapan ini tidak begitu umum. Terakhir, sang dukun meletakkan si bayi pada sebuah meja rendah serta menggebrak meja tiga kali untuk mengejutkannya, agar ia terbiasa


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 76 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi