Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
sepanjang jalan. Kata orang, dengan begitu diharapkan bayi itu nantinya tumbuh menjadi orang yang menyenangi kerumunan, suasana ribut dan kebisingan terus-menerus dari obrolan lucu yang oleh orang Jawa disebut rame, yang menemukan contoh utamanya di pasar. Banyak praktik-praktik magis yang secara tradisional dihubungkan dengan pasaran, masih dilakukan sekarang. Sehelai benang, lagi-lagi dipintal dengan cara tradisional (walaupun sekarang bisa dibeli di toko- toko), direntangkan di sekeliling rumah persis di bawah atap untuk mengusir makhluk halus jahat. Pada keempat pojok rumah ditanam daun nanas dan satu tanaman dengan sulur untuk maksud yang sama. Dua dari keempat pojok ini dicat hitam dengan arang dan dua lagi dicat putih dengan sejenis kapur. Lalu seseorang mengambil sapu tua yang sudah rusak dan menusukkan beberapa bumbu serta cabe pada lidinya: ini disebut tumbak s€wu (tombak seribu). Selanjutnya, bidang sebuah alat tenun yang bisa digambar, diberi garis hitar berseling putih dengan arang dan kapur. Ini diletakkan di bawah balai-balai si ibut bersama dengan sajen yang terdiri atas berbagai makanan, seperti buah pinang, yang disukai makhluk halus. Makhluk halus yang mencoba masuk rumah akan tersangkut oleh benang yang direntang tadi. Kalau pun bisa lewat, ia akan kebingungan karena warna hitam dan putih pada keempat pojok rumah. Ia juga akan tertahan oleh daun nanas atau sulur yang ditanam di sana. Kalau ini pun tidak bisa menghentikan dia, maka tombak seribu itu akan menikamnya atau papan penenun itu akan menghancurkannya. Kalau ia masih berhasil lolos juga, ia mungkin akan makan sajen dan pergi setelah merasa puas: kalau tidak, maka batas- batas kesanggupan akal budi manusia sudah terlampaui dan seseorang pun hanya bisa berharap. Tiga puluh lima hari sesudah kelahiran, semua benda ini diambil dan sebuah slametan lain yang bernama selapanan, diselenggarakan, dengan hidangan yang umumnya sama dengan slametan pada hari kelima, tetapi tanpa jajan dari pasar. Pitonan Makin sedikit orang yang menyelenggarakan slametan tiga bulan ini dan kalau pun mereka melakukannya, itu hanyalah perkara kecil saja.: Namun, slametan tujuh bulan—atau pitonan—masih banyak diselenggarakan, walaupun kini sudah mulai menjadi hal yang kurang penting.